Extra

1.7K 179 27
                                        


Pernikahan yang semula dijalankan dengan penuh paksaan, kini malah berakhir dengan begitu membahagiakan.

Baik itu menurut (Nama), maupun Solar. Keduanya kini sudah menjadi sosok orang tua. Mereka mengoreksi diri sebaik-baiknya, agar tak mengulangi kesalahan dari sebagaimana orang tua mereka membesarkan mereka dengan cara yang buruk.

Cahaya, anak tertua mereka kini sudah genap berusia lima belas tahun. Anak ini cenderung lebih tertarik pada bidang biologi dan kimia, dengan menetapkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Cahya, si putra kedua yang berusia dua belas tahun. Cahya lebih menyukai politik dan ekonomi. Bahkan, pernah diketahui oleh (Nama) bahwa Cahya diam-diam mempelajari tentang administrasi pajak serta akuntansi keuangan lembaga dari Halilintar– saudara tirinya Solar.

Cahyani, satu-satunya putri di keluarga mereka yang berusia sepuluh tahun. Cahyani berminat pada ilmu teknologi, yang membuat Solar mau tak mau menggurui putri bungsunya itu– sebagai seorang ayah yang baik.

Menyaksikan betapa cepatnya anak-anaknya tumbuh besar, membuat (Nama) sedih. Bocah-bocah yang dulunya hanya bisa merengek-rengek mencari ayah mereka, kini bahkan sudah bisa bersaing menandingi Solar itu sendiri, dalam bidang pendidikan. Sungguh mengerikan. Untungnya sih, (Nama) tidak mau ikut campur dalam persaingan ayah dan anak-anaknya itu. (Nama) disini sebagai bagian support saja. (Nama) tidak mau ambil pusing lah, yang penting anak dan suaminya itu senang.

BRAK!

"Mama! Sudah berapa kali Aya bilang kalau Mama gak usah beres-beres rumah, nanti Mama kecapekan. Kan Aya sudah bilang, biar Aya, Cahya, Cahyani, dan Papa saja yang beres-beres," oceh Cahaya– yang baru saja melewati pintu masuk.

"Ya ampun anak ini, kamu pulang bukannya ngucap salam, malah ceramahin Mama." (Nama) berkacak pinggang, karena sapunya dirampas paksa oleh Cahaya. Tidak kok, (Nama) tidak marah. Malahan, (Nama) terharu melihat betapa khawatirnya Cahaya akan kesehatannya. Padahal kan, (Nama) cuma megang-megang sapu doang, (Nama) enggak beneran nyapu kok.

Cahaya menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Iyaa, maafin Aya, Mama. Aya cuma khawatir sama kesehatannya Mama."

"Apalagi, Papa lagi di luar kota. Jadi otomatis, Aya yang bertanggungjawab atas Mama dan adik-adiknya Aya," lanjutnya.

Jujur saja, (Nama) tak akan pernah bisa memarahi anak-anaknya yang begitu menggemaskan dan manis sekali berucap. Gen nya Solar memang tak main-main.

Karena terlewat gemas, (Nama) meraih Cahaya– yang kini tingginya sudah sepantaran Solar, dan memeluknya erat. Ibu mana yang tak bahagia saat diperhatikan sedemikian rupa oleh bayi yang dulunya ditimangnya?

"Iyaa, ganteng, iyaa. Anak Mama kok lucu banget sih? Aduh, Papa kamu dulu make cara apa ya, jadinya anak-anak Mama bisa semanis dan selucu ini?"

"Mama..."

Kedua pipinya putra sulung itu memerah malu. Benar-benar keturunannya Solar sekali kalau kata (Nama). Solar juga, kalau dipeluk-peluk begini akan malu-malu kucing.

"Aduh aduh, padahal dulu kamu yang paling suka dipeyukkk-peyukk loh, Aya," kekeh (Nama).


BRAAK!

"MAAMAAAAAAA, PAPA KAPAAAN PULAAAANG??" teriakan Cahyani menembus gendang telinga ibu dan anak yang tengah berpelukan erat itu.

Cahyani dengan seragam yang berantakan berlari memasuki rumah, saat disaksikannya kakak tertuanya tengah malu-malu saat berpelukan dengan sang ibu, otomatis jiwa kompetitifnya merasa tersaingi.

"Eits. Apa ini? Mama pilih kasih, ya?! Masa cuman Kak Aya yang dipeluk, Cahyani enggak?" Cahyani merengek, padahal Cahyani-lah yang paling susah untuk dipeluk. Dia ini putrinya Solar, cuman nurut kalau sama Solar doang.

Hatred Towards You | Solar x ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang