Suasana yang redup sampai-sampai membiarkan arunika menyapa dunia, yang kerap kali memberikan berbagai rintangan bagi para penghuninya.
Malapetaka memang mustahil untuk dihindari. Tak peduli pengorbanan apapun yang telah dilakukan. Hal itu tentunya berlaku untuk gadis yang kini terbaring tak berdaya, di ruangan yeng bernuansa putih. Diselingi bebauan herbal yang begitu menyerbak, hingga menusuk indera penciuman.
Dadanya yang perlahan terangkat naik dan turun itu menandakan kehidupan masih menyertai, walaupun tanpa kejelasan yang pasti. Dokter sama sekali tak berkuasa untuk menyelamatkan pasien yang sekarat. Nyatanya, dokter jugalah manusia.
Ceklek.
Pintu ruangan itu dibuka oleh seorang perawat laki-laki, yang membawa makanan dari luar di genggaman tangannya. Perawat itu menepuk pelan pundak temannya, yang mengubur wajahnya pada pinggiran kasur.
Perawat lelaki itu membangunkan Si pria yang tertidur tepat di samping pasien seraya berkata, "Bangun, Sol."
Merasa terpanggil pun, Solar membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang ditatapnya ialah wajah Sang istri yang masih menolak untuk sadar. Sudah lama dirinya menunggu, tapi tetap saja, (Nama) tak menampakkan tanda-tanda akan sadar.
"Gua tau lu khawatir sama istri lu. Tapi setidaknya jangan lupa rawat diri lu sendiri. Udah 3 hari (Nama) tak sadar, dan udah 3 hari juga elu enggak makan, Sol. Bahaya tau ga?" Oceh Gopal sambil memberikan makanan yang sengaja dibelinya, hanya untuk temannya ini.
Solar hanya menatap makanan yang kini berada di pangkuannya itu. Solar sudah bilang, Solar hanya mau makan saat (Nama) makan. Itu sudah menjadi kebiasaan kehidupan rumah tangga mereka. Solar tak lagi peduli soal perusahaan atau apapun itu. Biarlah Halilintar merebut posisinya, asalkan Tuhan tak merebut (Nama) darinya.
"Manusia bisa bertahan hidup selama 2 sampai 3 bulan tanpa makanan, Pal. Gua enggak bakal mati." Solar mengoper kembali makanannya pada Gopal.
"Enggak sehat, goblok!" Gopal menggeram kesal. Bahkan Gopal tak segan-segan memukuli kepala bagian belakangnya Solar.
Kalau ditanya kenapa Gopal berani begitu kepada Solar, maka jawabannya ialah karena Solar ini sedang dalam fase depresi. Simpelnya sih, otaknya Solar konslet.
Tapi Gopal juga prihatin melihat kondisi (Nama). Mau bagaimanapun, Gopal dulu juga sekelas dengan (Nama). Gopal akui, (Nama) itu baik. Karena mau mengajari Gopal yang bego. Entah karma apa yang didapatnya.
".. Pelakunya gimana?" Gopal bertanya karena penasaran. Jujur, Gopal benar-benar kepo. Apalagi, Solar ini kan punya kuasa dan duit.
"... Mati."
Ya ampun.
Betapa teruknya kecelakaan yang menimpa (Nama). Untung saja, (Nama) itu pintar. Jadinya (Nama) melindungi bagian kepala— yang merupakan daerah fatal, dengan mempergunakan kedua lengannya. Yah, akibatnya lengan (Nama) jadi terkoyak. Setidaknya, itu lebih baik dari geger otak.
"Mau salahin si sopirnya juga.. kaga bisa. Udah mati karna tabrakan, yak. Yang sabar ya, Sol." Gopal menghembuskan nafasnya. Padahal Solar yang tidak makan, tapi Gopal yang lapar. Lagian, Solar tak mau, jadi ya Gopal makan saja makanan yang tadi dibelinya.
Solar hanya diam. Memang sih, Gopal lumayan heran karena sifat pendiamnya itu. Padahal, setahu Gopal, Solar itu banyak omong. Tingkat kepercayaan dirinya itu melebihi kandungan air yang ada dalam tubuh manusia. Okelah. Mungkin Solar shock karena istrinya itu baru kecelakaan. Tapi kan, (Nama) enggak kritis. (Nama) cuma belum sadar doang.
Kalau kata Gopal sih, ini tuh karmanya Solar. Karena enggak mengundang Gopal ke pernikahannya. Padahal dulu Gopal-lah yang membantunya pdkt pada (Nama). Gopal itu kapal Solar-(Nama) jalur keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hatred Towards You | Solar x Reader
FanficPernikahan ialah suatu adat yang dilakukan untuk mengikat kedua insan berbeda gender untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Akan tetapi, tak jarang dijumpai rumah tangga yang hancur karena pernikahan yang dipaksakan bagi keduanya. Adakah kebenc...
