📼
"HAHAHAHAHAHA"
Dean memejamkan matanya seraya menutup kedua telinganya begitu suara tawa Hanson terdengar menggelegar tepat di depan wajahnya. Gilanya lagi pria itu memakai pengeras suara yang pastinya suara tawanya lebih melengking dari biasanya.
Ketiga pria lain ikut menertawakan Dean. Perasaannya terhadap Shella bocor karena Aprilia menceritakannya kepada Rangga yang saat itu sedang bersama Hanson. Alhasil Hanson langsung mengabari yang lain untuk menagih taruhan mereka kepada Dean.
Di sinilah mereka sekarang, di ruangan pribadi Dean untuk meledek sekaligus menagih kekalahan pria itu. Sedangkan si empu hanya pasrah tanpa membantah. Niatnya ingin pulang cepat, tapi malah di tahan oleh keempat teman laknatnya.
"Berisik Bang, suara lo kedengeran sampai lantai bawah!" gerutu Dean menjauhkan pengeras suara itu dari mulut Hanson.
Rangga memukul lengan Dean dengan senyum jahil. "Udah gue duga nih! Pasti masih suka sama dia kan lo! Ciee yang udah mau nikah~" godanya.
Tidak seharusnya Dean menyetujui taruhan itu. Pria itu lupa kalau Rangga menjadi saksi percintaannya. Salahkan otaknya yang melupakan kebenaran itu. Menyebalkan sekali terjebak di situasi seperti ini. Marcell mengusap air matanya yang keluar setelah menertawakan cerita Rangga tentang Dean yang memendam rasa terhadap Shella dulu.
"Ah elah! Kalau dari dulu sukanya, kenapa gengsi begitu? Gass nikah besok!" seru Hanson begitu menyelesaikan tawanya.
Chico mengangguk. "Jadi kapan ini kita liburan? Mumpung aku di kasih cuti panjang," tanyanya.
Semua memandang ke arah Dean menunggu jawaban pria itu. Yang di pandang menghela nafas berat. "Minggu aja, sekalian awal bulan depan. Gue masih banyak pekerjaan di sini," jawabnya malas.
"Lesu gitu bro! Kenapa? Kak Shella ngambek lagi?"
"Iya, ngambek tiap hari malah."
Bukan Dean yang menjawab, melainkan Reo yang kembali lagi ke ruangan Dean untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Hanson segera menahan Reo untuk duduk di sebelahnya. Mau tidak mau, Reo menurut karena mereka pasti akan memaksanya tinggal kalau menolak.
"Bang, ikut liburan yok! Dean bayarin," ajak Marcell.
Reo mendecih sinis. "Kalian liburan, kerjaan gue nambah banyak! Kan pak bos ikut liburan," sindirnya.
Semenjak menjadi sekertaris, Reo sama sensitif nya seperti Shella menurut Dean. Bertambah sudah beban pikiran pria itu. Yang lain hanya tertawa melihat wajah frustasi Dean yang tampaknya lelah dengan keadaan.
Hanson mendorong kursinya menjadi bersebelahan dengan Dean. Tangannya merangkul pundak adik iparnya. Bibirnya mengukir senyum kecil.
"Gue akui lo bisa bikin cewek baper. Tapi buat nge-treat cewek, lo masih noob bro! Usulan gue nih mending lo ajak dinner romantis gitu atau jalan-jalan! Kasih kata-kata romantis! Bujuk sampai dia luluh!" ucap Hanson.
Mereka menyetujui ucapan Hanson membuat Dean menidurkan kepalanya di meja dengan lesu. "Udah! Gue udah ajak dinner! Jalan-jalan keliling pulau, apasih yang kurang?! Kasih kata-kata romantis juga udah! Panggilan sayang? Udah! Apalagi yang kurang?!" teriaknya lelah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong? [RORASA] √
Fanfiction(spin off "Married?!" Dean-Shella version) Dean berulang kali mendekati banyak gadis untuk di jadikan pasangan demi membatalkan perjodohan yang sudah di rencanakan. Namun, tidak ada satupun yang cocok dengan seleranya. Sampai akhirnya malam itu, seo...