Mission

284 53 17
                                    

📼

Suasana di kantin perusahaan Shella tampak begitu ramai karena jam makan siang sudah tiba. Mereka tampak asik menghabiskan waktu dengan pembicaraan yang di selingi canda tawa sembari menunggu makanan di sediakan. Tidak sedikit dari mereka yang membicarakan hubungan Shella dan Dean yang di kabarkan akan menikah minggu depan.

"Beruntung ya hidup mereka. Udah sama-sama cakep, kaya, pinter, apa coba yang kurang?"

"Iya weh! Waktu pertama kali nona Shella ngenalin mantan suaminya, gue langsung kepincut gila!"

"Ganteng banget! Aroma uangnya ke cium."

"Tuan Dean mah emang ganteng. Nih ya waktu masih kuliah, dia banyak di deketin cewek! Malah di lokernya tuh banyak coklat sama bunga tiap hari."

"Kok lo tau?"

"Kan dia kakak tingkat gue dulu. Empat temennya yang lain juga populer tuh. Cuma ada satu yang kasar banget sama cewek."

"Oh iya tau gue! Yang sepupunya Rangga itu, bukan?"

"Iya bener! Beuh, udah mah kasar. Di tambah posesif banget ke pasangannya dan anehnya makin suka sama si Marcell."

"Tuan Dean juga sama kayanya. Gue denger dia sering kasar ke HTS-an nya. Apalagi waktu di ran-"

BRAK

Pembicaraan itu terpotong oleh suara dentuman keras di meja. Seorang wanita dengan tatapan tajam tiba-tiba datang dan memukul meja mereka dengan keras. Semua orang yang ada di sana kompak meneguk ludah kasar. Tatapan itu tampak begitu berapi-api membuat siapapun tidak bisa membalas atau sekedar menegur aksinya.

"Sekali lagi mulut kalian berbicara omong kosong, aku pastikan benang jahit akan menutup mulut kalian. Paham?"

7 orang yang ada di meja itu mengangguk serentak. Wanita itu kemudian kembali ke meja tempatnya berada. Sementara itu di sudut lain kantin, ada seseorang yang mengepalkan tangan begitu kuat melihat pemandangan itu. Dean menarik Shella untuk duduk kembali di kursinya.

Mereka berdua sudah ada di kantin sedari tadi. Tidak ada yang menyadari kehadiran mereka karena penyamaran yang keduanya lakukan. Rencana mereka kali ini adalah mengawasi istri dari pelaku untuk tidak kembali ke ruangannya. Wanita itu bernama Rebecca. Posisi Rebecca di perusahaan ini cukup tinggi, yaitu mengelola keuangan perusahaan.

Mereka akan memastikan Rebecca tetap di luar ruangan sampai Hanson dan Marcell berhasil menemukan sesuatu yang di cari.

"Apasih? Suka kamu di belain kayak begitu sama Rebecca? Suka?!"

Dean menghela nafas pasrah mendapat omelan dari Shella. "Bukan begitu... Kalau aku biarin kamu turun tangan, nanti penyamaran kita bisa kebongkar dong! Lagian yang mereka bilang juga fakta kok, kamu kan tau sendiri," balasnya dengan nada jahil di akhir kalimat.

Kedua pipi Shella memanas ketika teringat perlakuan Dean kepadanya. Ya memang pria itu selalu kasar, tapi waktu di ranjang rasanya lebih terlihat menggoda. Belum lagi wajah dan tubuh nya yang– ah tidak! Lupakan! Shella benci mengingat momen itu.

Ting!

Cakir
Online

Berondong? [RORASA] √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang