📼
Shella turun dari taksinya bersamaan dengan Damian yang baru saja keluar dari mobil. Wanita itu mengernyit bingung melihat kehadiran sang ayah mertua yang baru saja datang. Pasalnya dia di beritahu oleh Reo kalau Dean sudah berangkat satu jam yang lalu, mobil Dean juga sudah terparkir di sana.
"Papa!"
Mendengar suara menantu bungsunya, Damian terkejut sekaligus panik. Dean pasti akan menduga kalau dia yang mengajak Shella kemari. Segera pria itu menghampiri Shella.
"Eh, nak? Kamu ngapain kesini? Papa antar pulang, yuk!" ajak Damian.
Shella menggeleng. "Gak! Aku mau ketemu Dean," ucapnya.
"Tapi nanti dia marah kalau tau kamu kesini..."
"... Pulang aja ya? Papa mohon kamu pulang, Papa antar," pinta Damian berusaha membujuk menantunya.
Namun wanita itu tetap pada pendiriannya. Dia mengatakan akan pulang setelah memastikan keadaan Dean baik-baik saja. Ayah mertua dan menantunya itu sedikit berdebat hingga akhirnya Damian menyerah. Shella ikut berjalan di sebelahnya untuk masuk ke dalam rumah itu.
Dua penjaga itu membungkuk memberi salam menyambut kedatangan Damian. Merasa ada yang berbeda, Damian segera melontarkan pertanyaan.
"Dimana Graham? Bukankah dia tadi yang berjaga?" tanya Damian.
Salah satu pria itu mengangguk. "Iya, tuan! Graham sedang menjemput pihak medis di bagian timur," jelasnya.
"Baiklah. Terima kasih."
Keduanya kembali melanjutkan langkah. Suasana di dalam tampak begitu hangat. Ada beberapa pasien yang duduk di lobi bersama keluarga yang berkunjung. Shella tersenyum merasakan kehangatan yang terpancar dari senyum mereka.
Dean sempat bercerita kalau pasien di sana tidak benar-benar sakit, mereka hanya sering hilang kendali ketika ada yang mengganggu mental mereka. Ada sebagian dari mereka yang tinggal di sini bersama keluarga. Hubungan penghuninya juga sudah seperti keluarga pada umumnya. Menebar kehangatan, rasa aman, nyaman serta ketentraman di tempat ini. Karena itu tempat ini lebih nyaman di sebut rumah di banding rumah sakit.
Mereka berdua akhirnya sampai di depan kamar Sia. Namun kerutan di kening mereka tercetak melihat tidak ada penghuni di dalam. Seketika kepanikan melanda keduanya.
"Shel, kamu cari di lantai dua ya! Papa cari di lantai tiga. Kalian cari di sekitar sini sama lantai empat. Cepat cari sampai ketemu!"
Shella dan para perawat yang ada di sana sontak mengangguk menuruti perintah Damian. Wanita itu berlari menyusuri tangga menuju lantai dua. Matanya memanas seiring otaknya yang memutar video kejadian malam itu. Sungguh, Shella tidak bisa jika harus melihat kejadian itu sekian kalinya.
Bayangan lingkaran merah di leher Dean bekas cekikan Sia masih terngiang di otaknya. Menghantui mimpinya setiap kali Dean tidak berada di sampingnya. Baru kali ini Shella merasakan ketakutan akan kehilangan. Wajahnya memerah bersamaan dengan nafas yang terasa berat.
Kakinya berlari kesana kemari menyusuri setiap sudut lantai dua berharap menemukan ibu mertuanya. Namun begitu sampai di balkon yang mengarah ke bagian belakang gedung, kakinya mendadak terhenti. Jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Netranya terbelalak melihat pemandangan di bawah sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong? [RORASA] √
Fanfiction(spin off "Married?!" Dean-Shella version) Dean berulang kali mendekati banyak gadis untuk di jadikan pasangan demi membatalkan perjodohan yang sudah di rencanakan. Namun, tidak ada satupun yang cocok dengan seleranya. Sampai akhirnya malam itu, seo...