Gak

188 24 0
                                        

Tetes demi tetes air mulai membasahi bumi sejak senja tadi, udara dingin begitu menusuk apalagi didaerah pegunungan ini. Suara sambungan telfon memenuhi ruangan 2x2M itu, tanpa sadar Tzuyu menggigit kukunya menunggu orang diseberang sana mengangkat panggilan darinya.

"Halo?"

"Oh? Halo. Mi?"

"Tzuyu? Kenapa malam-malam telepon? Ada apa di sana?"

"Nggak ada apa-apa, Mi. Aku cuma mau ngomong sesuatu."

"Kalau soal minta pulang, jawabannya tetap tidak! Hukuman kamu belum selesai." Suara sang Ayah terdengar diseberang sana.

"Bukan itu, Pih. Sebelumnya aku mengucapkan selamat hari ibu."

"Makasih sayang, tumben banget. Ada maunya nih pasti. Kenapa? Uang jajan kamu habis lagi?"

"Enggak, Aku... aku mau minta yang lain."

"Apa?"

Diseberang sana Juan mendekati istrinya demi mendengarkan permintaan anaknya yang tiba-tiba jadi sopan ini. Biasanya juga langsung ngomong "pih minta iphone."

"Yaudah kamu mau minta apa? Kalo minta pulang nanggung banget, lusa kan pulang."

Tzuyu mengangguk meski orang tuanya taakan melihatnya "aku minta pindah sekolah ke sini."

"Apa? Kamu serius? Bukannya kamu selalu bilang nggak tahan tinggal di desa? Mau ke mana-mana susah, nggak ada mall, susah nyari paket internet."

"Awalnya aku memang nggak suka. Tapi sekarang beda, Mi. Aku betah di sini. Aku suka tinggal sama Nenek. Desa ini... Nyaman."

"Nyaman?" Ayahnya menyahut di seberang, "Kamu pikir kami kirim kamu kesana buat beradaptasi? Tzuyu? Kami kirim kamu ke sana biar kamu belajar disiplin, bukan malah menikmati hidup seenaknya. Kamu pasti nyaman karna disana hidup kamu makin bebas gaada yang larang kan? Gak bisa Tzu, Papi gak setuju."

"Enggak Pa, aku serius. Di sini aku udah belajar banyak hal yang nggak pernah aku dapat di kota. Aku belajar gotong royong, menghargai hal kecil,

"Tzuyu, dengar. Kami mengirim kamu ke sana supaya kamu jera. Kalau kamu tinggal terus di sana, bagaimana dengan sekolahmu? Masa depanmu?" Suara Sally kembali terdengar.

"Mi, Pi... aku nggak bilang aku mau berhenti sekolah. Aku mau pindah sekolah ke sini. Aku bisa tetap belajar, juga tinggal sama Nenek."

"Papi gak percaya. Kamu tuh bisanya cuma nyusahin doang taugak, disini nyusahin Papi, nyusahin Mami, Papa gak mau kamu disana nyusahin Nenek kamu juga. Lusa Papi jemput gamau tau."

Helaan nafas Tzuyu terasa berat, tak hanya ditolak mentah-mentah, dia juga seburuk itu dimata orang tuanya "Tapi aku nggak bahagia, Pi. Di kota, aku selalu merasa tertekan. Di sini aku merasa hidup. Aku cuma mau minta...."

"Sayang, jangan ngelawan papa kamu ya, mama mohon."

Tzuyu menghembuskan nafasnya berat "Tapi, Ma..."

"Sudah cukup, Tzuyu. Kamu akan kembali ke kota begitu liburan selesai, dan itu keputusan final. Sekarang, nikmati sisa waktu di sana. Kami tidak akan membahas ini lagi." Keputusan final sang ayah mematahkan hatinya.

Tzuyu terdiam. Air matanya mengalir tanpa sadar, tapi dia tahu percuma berdebat bersama ayahnya.

"Baik, Pi... Mi... aku mengerti."

"Makasih pengertiannya ya Tzu."

Sang kakak yang melihat kedua orang tuanya dempet-dempetan pun mendekat "ada apa nih?"

EFEMERALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang