Pulang

204 23 9
                                        

Agak panjang buat awali tahun ini.











Tzuyu mendaratkan kepalanya diatas paha orang yang tak ia temui kemarin. "Kangen banget" Bisiknya lalu memeluk perut itu erat.

"Kemarin aku pulang sore, gak sempet ketemu kita"

Sana tak menjawab, hanya membelai surai hitam Tzuyu dengan lembut. Merasa diabakan, Tzuyu bangkit dan menatap Sana yang hanya menyunggingkan senyumnya dari tadi.

"Kenapa senyumnya gitu?"

"Enggak. Aku juga kangen kamu."

Tzuyu jadi teringat keadaan rumah Sana yang kemarin terlihat ramai "oh iya kemarin di rumah kamu ada apa? Kayaknya rame."

"Gak rame kok, itu cuma sodara-sodara lagi ke rumah."

"Dari pagi-pagi buta?"

"Mereka datangnya malem, makanya pagi-pagi udah rame."

Tzuyu mengangguk faham "tapi aneh banget namu nya akhir libur gini."

Sana hanya mengedikkan bahunya.
" Tzu..."

"Ya?"

"Ke warung Teh Momo yuk?"

Tzuyu menggeleng, masih ingin berduaan dengan Sana dan tidak mau ada yang mengganggu meskipun itu tukang baso aci langganan mereka.

"Kok nolak?"

"Emang lagi pengen makan baso aci ya?"

Sana menunduk lalu menggeleng sebenarnya yang dia ingin bukanlah makanan berkuah itu, tapi entahlah, dia hanya tidak ingin mengingat jika "besok kamu pulang ya?"

Mengingat itu Tzuyu menghela nafasnya berat, berat sekali berpisah dengan Sana meski pertemuan mereka cukup singkat. "Jujur aku udah coba bujuk orang tuaku tapi ngajak mereka debat bukan pilihan baik."

Sana menggeleng "jangan, jangan berdebat sama mereka, nurut aja ya?"

Tzuyu menutup matanya saat Sana membelai rambutnya sayang lalu kembali memerhatikan kedua mata itu dengan lekat.

Tzuyu bersandar pada ranjang sambil memainkan tangan Sana diatas pahanya "padahal aku udah betah disini."

"Bukannya kamu gak suka disini?"

"Suka kok."

"Suka tempatnya atau suka ada akunya?"

Tangan Tzuyu terhenti lalu memandang Sana yang menunggu jawabannya "gimana kalo aku milih yang kedua?"

"Gimana kalo yang kedua itu cuma fatamorgana?"

Alis Tzuyu mengernyit, "maksudnya? Aku suka disini karna ada kamu, aku nyaman disini karna kamu. Dan kamu nyata bukan fatamorgana!"

Sana mengulum senyumnya "kita gak tau kedepannya gimana"

Tzuyu sedikit menjauh "kamu mau pergi?"

Sana menggeleng "saranku kamu pulang, sekolah yang bener, kerja yang bener. Setelah sukses... Bawa aku ke tempat yang bikin kita sama-sama nyaman" Kalimat terakhirnya terdengar lirih.

Kerutan di alis Tzuyu memudar, dia cukup pintar untuk memengerti maksud Sana yang meminta membawanya pergi.

"Kak,"

Sana meneguk ludahnya susah payah sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menjatuhkan diri didalam pelukan Tzuyu dengan tangisan tersedu yang terdengar menyedihkan. Ia tak lagi bisa menyembunyikan kesedihannya lagi, dan kini emosinya pecah berbentuk tangisan.

Tzuyu membalas pelukannya tak kalah erat "kak?"

"Aku akan tunggu kamu kembali."

"Aku akan telpon Papi lagi." Tzuyu hendak meraih ponselnya namun dengan cepat Sana menahan tangannya.

EFEMERALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang