Selesai?

247 26 12
                                        

Begitu sampai, Tzuyu kembali menggendongnya dan memasuki ruang UGD, dia langsung ditangani oleh dokter dan perawat disana sedangkan Tzuyu menjelaskan keadaannya pada Dokter yang menanganinya.

"Demam naik turun terutama saat malam, pasien mengeluhkan sakit di bagian kepala dan perut."

Dokter itu mengangguk lalu menatap Tzuyu intens, "Anda dokter juga?"

Tzuyu mengangguk, "Dokter Bedah. Tapi saya cuma bantu observasi awal. Selanjutnya saya serahkan pada kalian."

Mereka mengangguk dan mulai menanganinya dengan baik.

Begitu selesai, ia keluar sebentar ke lorong. Menutup pintu. Mencoba bernapas. Tapi dadanya terasa sesak. Terlalu penuh untuk dijelaskan.

Langkah pelan terdengar di belakangnya.
Sana. Berdiri diam, dengan pandangan yang tak bisa dia tebak.

“Terima kasih,” katanya.
Tzuyu hanya mengangguk.

Lalu diam.
Sunyi.
Sepuluh tahun berlalu tanpa satu kata pun tentang rasa.

Sana menarik napas, mencoba bicara. Tapi Tzuyu memotong pelan, suaranya nyaris berbisik:
“Dia cantik... seperti kamu.”

Sana menunduk. Tak menjawab.

Tzuyu memutar badan. Menatap lorong panjang yang sepi. Lalu berkata—pelan, tapi dalam:
Gue gak tau harus marah, sedih, atau... lega.”

Ia menatap langit-langit. Mengembuskan napas.
“Tzuyu..."

"Apa kabar Kak Sana?" Potong Tzuyu. "Maaf aku gak sempet balas pesan-pesanmu, karna aku mau jawab pertanyaan kamu saat kita udah ketemu." Tzuyu menunduk memandangi sepatunya "tapi kayaknya pertanyaan-pertanyaan itu udah gak berlaku."

Sana menahan napas. Tapi tak menyangkal. "Kalimat maaf itu harusnya punya aku. Maaf Tzuyu..."

"Aku gaakan ngebela diri, aku terima kalo kamu akan marah ke aku selamanya," Sana tersenyum tipis "aku akan terima semua perlakuan kamu atasku, dan terima kasih udah berbesar hati nolongin anakku."

"Udah jadi tugas aku... Sebagai Dokter."

Sana memandang Tzuyu yang selalu menatapnya penuh rindu, dia tersenyum tipis, "kamu berhasil. Aku bangga ke kamu."

"Semua berkat kamu... Sana."

Dan di saat itulah, seorang perawat keluar dari ruangan.

“Dok, anaknya udah tenang. Ibunya boleh masuk.”

Sana mengangguk pelan, lalu berjalan melewati Tzuyu.
Tepat saat jarak mereka sejengkal, Sana berhenti.

Dengan suara nyaris tak terdengar, dia berkata,
“salah besar jika aku harepin kamu nyerah saat itu.”

Tzuyu tersenyum tipis lalu menjawab, "andai tujuanku bukan kamu, aku sudah nyerah dari awal." Lalu memejamkan mata, sejenak.

Saat membuka mata, dia sudah sendiri di lorong itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar...
ia datang sebagai dokter, bukan lagi sebagai janji yang ditunggu.

o0o

Lorong klinik itu mulai sepi.
Tzuyu keluar setelah memastikan kondisi Sullyoon stabil. Udara sore terasa berat, lebih dari biasanya. Dia berjalan ke arah mobil pelan-pelan, pikirannya masih berusaha tenang, walau hatinya porak-poranda.

Tepat sebelum dia membuka pintu mobil, suara seseorang menghentikannya.

“Tzuyu.”

Ia menoleh. Seorang pria berdiri di sana—Chan. Suami Sana. Ayah dari Sullyoon. Orang yang menggenggam hidup yang dulu ia janjikan.

“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Chan, sopan tapi terlihat gelisah.

Tzuyu mengangguk, walau jelas ia enggan.

Mereka berjalan ke sudut halaman klinik, di bawah pohon besar yang daun-daunnya gemetar diterpa angin.
Beberapa detik hening sebelum Chan mulai bicara.

“Sebelumnya Saya mau berterima kasih. Makasih banget udah nolongin anak saya." Tzuyu mengangguk, "Sama-sama."

Chan membasahi bibirnya sebelum kembali berbicara, "Saya tau... ini canggung. Tapi saya juga tau kamu teh pasti kaget liat kenyataan tadi.”

Tzuyu menatap tanah. Tak menjawab.

“Saya tahu soal kalian berdua dulu,” lanjut Chan pelan. “Dan... ini bukan sesuatu yang Saya banggakan. Tapi pernikahan Saya sama Sana... itu perjodohan. Kita gak bisa nolak saat itu. Dan Saya... Saya beneran sayang sama dia sekarang.”

Tzuyu tetap diam.

“Jadi Saya harap kamu... gak balik buat ngusik hidup dia. Saya minta... Kamu gak balikin harapan yang udah lama Sana kubur.”

Tzuyu mengangkat kepala, perlahan. Tatapannya berubah. Bukan marah, tapi tajam. Jernih. Menyala.

“Lo pikir gue ke sini buat rebut Sana?” suaranya rendah, tapi tegas.
“Gue datang buat nepatin janji yang pernah kami buat. Bukan buat ngambil balik seseorang yang udah lo rebut.”

Chan terdiam.

“Dan apa yang gue lakuin hari ini,” lanjut Tzuyu, “gue periksa anak lo, gue bawa ke klinik, gue jaga sampai dia stabil—itu karena gue Dokter. Itu pekerjaan gue. Naluri gue. Jadi jangan salah faham.”

Ia melangkah maju, menatap Chan lurus.
“Gue cukup tau posisi gue. Gue nggak berharap apa-apa juga. Karna harapan itu udah hancur sebelum dibuat."

Habis itu, Tzuyu berbalik. Membuka pintu mobilnya.
Sebelum masuk, ia sempat menatap langit yang mulai menggelap.

Lalu dengan satu hembusan napas panjang, dia masuk ke mobil. Menatap jalanan kosong, hingga dia menyadari semuanya dan rasa sakit yang mulai menyerang dadanya.

Matanya panas, disusul pandangannya yang mulai memburam digenangi air mata, tangannya terus memukul dada yang terasa sesak. Wajahnya dia tenggelamkan diantara tangannya yang melipat diatas stir dengan punggung bergetar.

Diantara sore yang mulai mendung itu, pipi Tzuyu lebih dulu basah oleh hujan air matanya, diantara isakan yang kian didengar kian lirih penuh penyesalan.

Andai dia membalas pesan rindu itu, andai dia menerima ajakan teman-temannya untuk pulang saat itu, andai dia tak menggubris perasaannya, andai dia, andai-andai...

Semua andai kata itu mulai bermunculan seolah bisa membuatnya merasa lebih baik. Sialnya harapan hanyalah harapan yang tak mungkin jadi nyata. Karna kenyataan yang sesungguhnya berada disana, sang cinta pertama... Telah bahagia tanpanya.


Yeay makasih udah nungguin dan baca cerita ini sampai tamat meski authornya ilang ilangan mulu🥰

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yeay makasih udah nungguin dan baca cerita ini sampai tamat meski authornya ilang ilangan mulu🥰







Soon Michaeng sama Sullwoo

EFEMERALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang