Untold

196 24 8
                                        

Tzuyu POV

Aku tak pernah menyangka, kepulanganku dari desa justru menjadi titik balik dalam hidupku. Aku selalu berpikir, kota ini terlalu besar untuk seseorang sepertiku. Tapi setelah bertemu Sana, aku tahu kalau yang kubutuhkan bukan tempat yang nyaman, tapi alasan untuk terus berjalan.

Sana memberiku alasan itu.

Setiap pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm atau tugas kuliah, tapi karena harapan konyol yang tak kunjung hilang—aku berharap menemukan mangga muda di atas kasurku. Aku tahu itu tak mungkin. Sana tak ada di sini. Tak ada lagi teriakannya setelah melempar mangga ke kepalaku. Tapi tetap saja, harapan itu selalu datang saat aku membuka mata.

Aku mulai menyukai bakso aci. Padahal dulu, aku selalu mengernyit setiap kali Sana menyeretku ke warung Teh Momo hanya untuk menikmati seporsi bakso kenyal berkuah pedas.

"Udah ah gamau lagi"

"Gak mau lagi tapi ludes"

Katanya waktu itu, tertawa saat aku kepedasan. Sekarang, di kota ini, setiap kali aku melihat bakso aci, aku membayangkan Sana duduk di depanku, menggoda dengan senyum jahilnya.

Waktu berlalu, dan aku mulai mengejar sesuatu yang dulu hanya sekadar mimpi bagi Sana—menjadi dokter. Aku tak tahu sejak kapan impian itu benar-benar menjadi milikku juga. Mungkin sejak pertama kali dia bercerita, atau sejak aku berjanji akan kembali menjemputnya. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa. Bukan hanya untukku, tapi juga untuknya.

Awalnya, kami masih sering berkirim pesan. Aku selalu berusaha menyisihkan waktu untuk membalasnya. Tapi semakin sibuk aku, semakin jarang pesan itu kubalas tepat waktu. Sana pun perlahan berhenti mengirimiku cerita-cerita kecilnya. Sampai akhirnya, pesan terakhirnya hanya berbunyi:

"Tzuyu, aku rindu"

Aku melihat pesan itu di tengah tumpukan tugas, dengan kepala penuh teori medis yang harus kuhafalkan. Aku berpikir akan membalasnya nanti. Tapi "nanti" berubah menjadi besok, lalu minggu depan, lalu bulan berikutnya. Sampai aku sadar, aku telah kehilangan dia.

Namun, aku terus berjalan. Aku terus berjuang. Karena ada janji yang harus kutepati. Janji yang dulu kuucapkan pada cinta pertamaku.

"Aku bakal balik buat kamu."

Dan sepuluh tahun kemudian, aku akhirnya kembali ke desa.














Author POV:

Udara angin yang menerpa wajahnya hari ini terasa memberikan energi lebih untuk menghadapi perjalanan panjang menuju suatu tempat yang begitu dia rindukan.

Rumah Nenek.

Entah sudah berapa lama dia tidak lagi menginjakkan kakinya di tempat ini. Jantungnya berdegup tak beraturan, dalam sekejap eunola memenuhi kepalanya, ingatan akan seseorang di masa lalunya kembali terlihat bagai film dalam imajinasinya.

Mobil yang ia tumpangi sudah berhenti didepan sebuah rumah kayu yang terlihat sudah tua namun masih terjaga hingga masih bersih dan rapi.

Pintu kayu yang hampir lapuk itu terbuka memperlihatkan seorang wanita tua yang keluar dengan sapu lidi ditangannya.

Chou Tzuyu tersenyum meski wanita tua itu belum menyadarinya, satu demi satu anak tangga Nenek turuni dengan hati-hati, hingga kakinya berhadapan dengan sepasang kaki lain yang terbalut sepatu hitam mengkilap.

Perlahan kepalanya mendongkak, sapu ditangannya terjatuh begitu saja, senyuman Tzuyu membuat wanita tua ini menutup mulutnya tak percaya.

"Tzuyu?" Gumamnya pelan.

EFEMERALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang