"Tepat saat kamu dan Nenek pergi ke pasar sebelum kamu pulang ke Kota, secara resmi Sana menerima lamaran Chan. Anak juragan angkot"
"Jadi itu alasan rumah Sana ramai? Dan Nenek yang bawa aku pergi seharian?"
"Maap Tzu."
Nayeon emngangguk-anggukkan kepalanya faham "dan Bi Santi bikin kue putu ayu buat acara lamaran anaknya, bukan buat kamu."
"Bisa-bisanya mikirin putu ayu."
Tzuyu kembali menatap neneknya, "Tapi Kenapa gak ada yang kasih tau aku?"
"Sana cuma gak mau hancurin semangat kamu. Dia gak mau kamu nakal lagi, karena dia lihat kamu jadi lebih bersemangat setelah dia nerima ajakan kamu."
"Tapi seenggaknya jangan kasih aku harapan palsu kan Nek? Aku berjuang bertahun-tahun dan ngelakuin ini semua buat dia. Tapi saat aku kembali dia milik orang lain."
"Aku hancur." Lirihnya.
Nenek mengusap rambut cucunya dengan sayang "perasaan seperti itu gak diterima disini Tzu."
"Karena itu aku mau bawa Sana dari sini Nek
Aku udah berhasil wujudin harapan dia akan aku tapi dia..."
o0o
Arus sungai sore itu sedang deras derasnya, hujan
baru terjadi beberapa saat lalu. Tzuyu memandangi air dengan tatapan kosongnya. Tangannya masih menggenggam kotak beludru merah tadi.
Dia merasa tak lagi memiliki alasan hidup. Apa yang dia cari disini? Apa yang dia harapkan lagi? Dia fikir sudah menemukan rumahnya kembali di tempat ini. Ternyata semuanya hanya fatamorgana. Semua ekspetasinya hanya harapan semu, dan semuanya telah hancur di realita. Semuanya, harapannya, cintanya.
Tzuyu berdecih remeh pada kotak cincin ditangannya "seenggaknya Sana. Aku jadi lebih baik karenamu." Dia simpan benda itu diatas batu yang dulu sering dia dan Sana duduki lalu pergi begitu saja.
Gadis yang tengah patah hati itu pergi meninggalkan semua harapan dan cintanya di tempat itu. Melupakan segala hal yang dulu dia impikan, mengabaikan sudut matanya yang menangkap siluet seseorang yang berdiri dari kejauhan.
"Tzuyu?"
o0o
"Mau pulang sekarang?"
Tzuyu mengangguk dan terus mengemasi bajunya. "Aku gak mau terus sakit disini Kak."
"Tapi Nenek masih kangen sama kamu Tzu. Sabar sebentar."
"Gak mau!"
Duarrrr
Petir menggelegar dan hujan turun dengan deras secara tiba-tiba. Nenek datang ke kamar Tzuyu. "Hujan deras. Bahaya kalo maksain pulang sekarang. Jalannya pasti banyak kabut,"
Nayeon mengangguk "apalagi jalan yang bakal kita lewatin menurun dan banyak belokan tajamnya."
Tzuyu menghela nafasnya lalu duduk lemas, pandangan matanya kosong. Dia tidak mau menangis, tapi dia juga tidak tahu harus mengeluarkan emosi bagaimana untuk saat ini.
Nayeon mengusap punggung adiknya, dia tau rasanya di khianati, tapi kondisi mereka sangatlah sulit.
Nenek tersenyum tipis, "Nenek udah masak, kita makan dulu yuk.
Dia akhirnya dia memutuskan untuk bertahan beberapa hari lagi. Duduk di teras rumah neneknya, menatap jalan tanah merah yang dulu sering dilewati Sana sambil mengayuh sepeda. Kadang ia merasa, suara tawa itu masih terpantul di dinding-dinding kenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
EFEMERAL
FanfictionDipaksa lepas dengan kehidupan liar ibu kota serta diasingkan ke pedesaan dengan orang asing pula. Semuanya terasa berat apalagi ditambah bertemu dengan perempuan aneh yang setiap ucapannya mempu menghipnotis nya tanpa perantara. Semua tentangnya m...
