Sun Goes Up

184 15 1
                                        

Satu bulan setelah berita jatuhnya pesawat dengan Felix di dalamnya, Jisung kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Hyunjin dan Changbin juga sering datang untuk membantu, lagi-lagi Hyunjin. Bagi Jisung, orang pertama yang paling sedih adalah Hyunjin.

Felix adalah anak sulungnya, dan kehilangan Felix pasti menoreh luka di hati seorang ibu. Namun, setiap kali Hyunjin datang ke rumah, dia selalu tersenyum seperti tidak ada apa-apa.
Hyunjin itu pria kuat, dan Jisung ingin menjadi sepertinya.

"Maa.."

Jisung menoleh, tersenyum melihat anak sulungnya yang berjalan mendekati nya.

Ya, kembar sudah bisa berjalan. Dan Felix tidak dapat melihatnya.

Jisung menepis semua pikiran buruk itu, mengangkat tubuh kecil Junhan dan mengecup pipinya gemas. "Halo anak Mama! Ayo makan bareng ya?" Jisung duduk kan Junhan di baby seat, menyediakan makanan bayi untuk anaknya.

Terdengar suara celotehan kecil dari ruang tamu, Jisung melirik Dain yang berjalan mendekati jendela rumah, mengetuk jendela itu dengan pelan sambil bergumam. "Da..Dada..Dyy.. Daddy.... Daa"

Jisung mendekati Dain, duduk di samping nya dan mengusap rambut panjang bayinya. "Daddy gaada sayang. Ayo makan ya?" ini pertama kali setelah perginya Felix, Dain menunggu ayahnya pulang sambil melihat keluar jendela.

Tolong kuatkan Jisung, Tuhan. sungguh rasanya sakit sekali.

Dain masih betah disana, menunggu sambil tersenyum agar ayahnya pulang dan membawa makanan dan mainan yang banyak. "Ayo sayang, kita makan bareng Junnie, ya?" Jisung ingin mengambil tubuh Dain, namun anak itu malah berteriak dan menangis keras. Membuat Jisung harus membujuk nya.

Jisung berjaya membawa Dain untuk duduk di samping Junhan dan memakan makanan nya. Jisung menghela nafas, mengusap perutnya yang terasa sakit karena di tendang oleh Dain tadi.

Jisung tersenyum. "Kalau ada Daddy disini, pasti dia sudah memarahimu" ucap Jisung pelan, mengusap lembut rambut panjang bayi perempuan nya itu.

"Jangan bersedih ya? Ada Mama disini. Mama akan selalu menjaga kalian" ucap Jisung dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku tau Felix masih disini." gumamnya. Hasil autopsi mayat-mayat yang ada di sekitar pesawat itu tidak ada satupun yang sama dengan DNA Felix. Namun, 30% penumpang disahkan hilang dan Felix mungkin salah satu dari mereka.

Namun Jisung tidak ingin mempercayai itu. Dia tau Felix tidak hilang, meninggal atau apapun itu. Jisung yakin Felix masih ada. Suaminya tidak akan meninggalkan nya.

Suara tangisan Dain membuyarkan lamunannya, Jisung kembali menggendong Dain dan menenangkan bayi itu. Sepertinya dia masih mengantuk.

"Sshh sayang. Ada Mama disini. Sshh tenanglah"

Rasanya Jisung ingin menangis kencang seperti Dain saat ini, melepaskan segala bebannya selama satu bulan menunggu kepulangan yang bahkan terasa mustahil itu.

Bunyi bel rumah terdengar, Jisung menggendong Dain yang masih menangis dan membuka pintu.

"Siapa-"

Suaranya tercekat di tenggorokan saat menatap pria yang berdiri gagah di depannya.

Di depannya, di depan Jisung ini, berdiri seorang pria dengan kemeja dan jas, persis seperti kali terakhir orang itu pergi dari rumah ini untuk bekerja.

Namun, terdapat perban di kepala, tangan dan bahkan dia memakai tongkat untuk menampung tubuhnya.

Dia, Lee Felix Yongbok, suami kepada Bang Jisung, yang dikabarkan hilang sebulan yang lalu, kini kembali ke rumah.

"Aku pulang, sayang"

Jisung tidak bergerak, pegangan nya erat memeluk Dain yang kian memberontak ingin memeluk Daddy nya. Jisung jatuh terduduk, menangis keras tak peduli pelukan pada anaknya terlepas. Bayi itu memeluk kaki ayahnya erat. Membuat Felix melepaskan tongkat nya dan jatuh terduduk memeluk bayinya erat.

Felix dengan pelan mendekat, mengusap wajah basah istrinya lembut.

"Aku pulang, Jisung" ucapnya lagi, lebih lembut dengan senyum yang hangat.
Jisung dapat merasa tangan hangat milik Felix mengusap wajahnya, tekstur tangan yang sedikit kasar itu dapat membuat Jisung sadar bahwa ini ialah realitas nya.

Felix, suaminya kembali. Jisung peluk erat Felix, enggan melepaskan. Jangan katakan ini mimpi, karena sungguh Jisung tidak sanggup.

Rasa sakit selama sebulan ini ia keluarkan dengan tangisan, semakin lama tangisan itu semakin kuat.

Changbin dan Hyunjin, tak lupa juga Chan dan Minho yang baru saja sampai ingin melihat Jisung, tentu saja tidak bisa memproses apa-apa. Kecuali Hyunjin, dirinya sudah merosot jatuh, untung Minho sempat menangkap nya. Hyunjin menangis sama keras nya seperti Jisung.

Semesta menjawab pertanyaan mereka. Pertanyaan dimana Felix? Apakah masih ada sinar harapan untuk Felix kembali?

Kerana kesabaran seorang ibu dan istri, karena keridhaan ibu dan istri ini, maka semesta memilih untuk membawa kembali matahari mereka. Karena semesta tau, matahari ini lah yang bisa menyinari kegelapan alam.


















Hi 👀

Keluarga Ter Racha Racha SS 1/2 (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang