Haiii~~~
aku balik lagiii😋😋
btw aku mau nanya dongs, kalian reader baru atau lamaa???
enjoy, bby~~
***
Waktu terus berlalu, satu bulan sudah terlewati. Hubungan persahabatan mereka tentu saja semakin erat, rasa rasanya seperti tidak pernah terpisah sama sekali.
Mereka ber 5 berjalan bersama ke kantin, kecuali Jinan yang sudah lebih dulu ke kantin untuk mem-booking tempat duduk untuk mereka. "kalian! sini!" Panggil Jinan ke arah kelimanya untuk menyusul kearahnya. Mereka berjalan santai sambil sedikit tertawa.
tanpa sadar, seseorang disudut kantin memandang mereka dalam.
"eung, kalian udah pada pesen? atau... mau gw pesenin?" Tawar Jinan sambil memilin kedua jari telunjuknya. "gausah Ji, biar gw aja. Kalian mau apa?" Balas Jeno yang juga dengan sebuah tawaran. Dengan cepat mereka memesan beberapa menu yang sama, agar memudahkan Jeno untuk memesan.
Hal hal seperti ini sudah sering terjadi diantara mereka, saling memesankan makanan, bergilir. Terkadang siapa yang sedang berbaik hati untuk memesankan dan mengambilkan makanan, bahkan tidak jarang juga sampai mengantrikan untuk makanan. Tidak ada keributan. Eh, ada deh, terkadang. Tapi mereka lebih sering sadar diri untuk bergantian. Semisal hari ini Jeno, besok bisa saja Haidan atau Renjana.
"Celo!!!" Teriak Haidan yang melihat Celo disudut kantin.
Iya, benar.
Seseorang yang duduk disudut kantin tadi itu adalah Celo, dengan kesendiriannya.
Bukan menyahut atau menghampiri, justru Celo pergi menjauh dari mereka yang duduk disana. Tentunya mengundang raut bingung dari mereka ber 5. eh? Celo kenapa? perasaan mereka baik baik saja.
tak.
"nih, makanannya" ucap Jeno sambil meletakkan nampan diatas meja, yang tentunya juga memecahkan rasa kebingunggan mereka. "yuk, makan. Takut keburu bel."
"guys"
"gw merasa ada yang beda dari Celo deh. what do you think?" Tanya Marka sebagai pembukaan pembicaraan mereka.
Pertanyaan yang barusan dilontarkan Marka tentu saja sangat menarik perhatian mereka. Mereka melirik satu sama lain, yang kemudian dilanjutkan dengan anggukan secara bersamaan. "banget, gw kira, gw doang yang ngerasa. kenapa ya anaknya?" sahut Jeno.
"haah, terakhir kita satu meja dikantin 2 hari setelah pindah kelas. Apa karena pindah kelas dia ngerasa canggung?" Tanya Ren sambil menyuapkan satu buah bakso kedalam mulutnya. Jinan menatap Ren. "bener, udah hampir sebulan yang lalu"
"gw-"
ucapan Marka terpotong dengan suara teriakan perempuan di dekat pintu kantin.
"YANG BENER DONG BAWANYA."
"LO YANG GA BENER ANJING. GW AJA TERUS YANG SALAH."
"EMANG LO YANG SALAH."
Mendengar teriakan disana tentu menarik atensi seluruh penghuni kantin. Beberapa dari mereka sudah menggerumbul, ingin tahu apa yang terjadi. Diikuti dengan Haidan yang sudah sangat penuh dengan rasa kepo.
"anying, Celo temen kita oyyy, sinii!"
Marka dan lainnya, langsung menyusul Haidan.
Plak.
Celo terkekeh kecil sambil memegang pipinya yang barusan dipukul oleh gadis yang berada didepannya. Tanpa pikir panjang, Celo menarik rambut gadis tersebut yang tergerai panjang. Respon orang orang disekitarnya tentu menyalahkan Celo yang menjambak rambut gadis tersebut kasar.
"AAAKKKHHH"
"sa-sakiittt"
"apa lo anjing? mau playing victim? iya."
Marka yang melihat si perempuan sudah kesakitan akibat jambakan Celo, segera melepaskan tangan Celo pada rambutnya, dan Haidan yang memeluk Celo sambil sedikit berjalan mundur, agar menjauh. "udah bubar. bukannya ngelerai, malah ditonton. BUBAR SEMUA." Ucap Jeno membubarkan.
"you okay, Cel?" Tanya Haidan.
Hening.
Celo tidak membalas pertanyaan Haidan. "cel-"
Celo melepas tangan Haidan yang masih memegang tangannya. dan melenggang pergi.
perilaku Celo tentu tidak lepas dari pandangan keenam temannya. "coba ke uks yuk, kayaknya dia disana." Mereka berenam jalan ke uks bersama dan meninggalkan makanan mereka yang baru dimakan sebagian. Makanan bisa dibeli lagi nanti, yang terpenting sekarang adalah teman mereka.
kosong.
Di UKS kosong, tidak ada seorang pun yang berada disana. Hal ini membuat mereka menghela nafasnya pelan. "trus dia dimana lagi? toilet? ga mungkin. tu anak kan anti sama toilet sekolah." Tanya Nana yang dibalas dengan gelengan oleh mereka semua. "yaudahlah, kita ke rooftop aja yuk"
Ah, seperti satu hal terlupakan. Mereka pernah menemukan space wilayah yang berada di lantai paling atas, nyaris dekat dengan genteng, dan tidak ada satu pun ruang kelas, hanya ada gudang. Yang kemudian mereka sulap dan menjadikannya sebuat rooftop untuk mereka bersantai, atau... sekali kali membolos.
kriet.
Jeno mendorong pintu seng itu yang sudah mulai lapuk dan sedikit karatan. Satu persatu mereka masuk. Dan terkejutnya mereka melihat seseorang tertidur di atas batu semen yang dijadikan tempat duduk. Dengan tangan Kiri sebagai bantalan dan tangan Kanan sebagai penutup mata.
Jinan menghampiri pemuda yang tertidur lebih dulu. Menggoyangkan badannya sedikit hingga si pemuda mengerjapkan matanya. "kenapa tidur disini?" Tanya Jinan baik baik.
Pemuda itu terbangun dan bersiap pergi. Namun, cekalan Ren menahan pemuda itu untuk terus melangkah. "sini dulu Cel." Renjana menangkup kedua pipi Celo dan melihatnya baik baik. "astaga, Celo. Pipi lo merah banget, dikompres dulu ya?"
Bekas tamparan perempuan tadi meninggalkan bekas merah yang sangat kontras pada warna kulit celo yang putih pucat. Ren yang memang sudah siaga membawa kompresan gel dingin dari UKS tadi langsung memaksa Celo untuk duduk dan mengompresnya dengan perlahan. Teman teman yang lain duduk melingkar dan menghadap ke Celo. Celo yang risih akan tatapan mereka mendengus kasar. "jauhin tatapan begitu, atau mata lu semua gw colok satu satu"
"lo kenapa Cel? kok bisa ribut?"
"ga perlu tau."
Marka menghembus nafasnya kasar. Ah, dia jadi Deja Vu dengan kejadian dulu saat awal awal mereka kenal. Kurang lebih keadaan yang sama. "kenapa? kita harus tau dong, kenapa temen kita bisa kayak gini." sambung Nana dengan tatapan sendu. Jujur saja, Nana sedih sekali melihat temannya ada yang menjauh darinya seperti ini. Apakah ia melakukan kesalahan besar sampai dijauhi?
Celo menatap mata mereka satu persatu. Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, sejujurnya ia ingin menangis dan mengadu kepada mereka masing masing. Tapi, ia terlalu gengsi. Dan... apakah temannya mau menerima ia seperti itu? pasti akan dianggap lebay. dan... sangat bukanlah seorang Celo Wishaka Adisatya.
Celo membuang wajahnya kasar. Mengucapkan terima kasih sebentar, mengambil almamaternya yang berada di batu semen yang ditidurinya tadi, dan langsung melenggang pergi.
"CEL-"
Nana yang memanggil dan siap mengejar segera ditahan oleh Jeno dan menggodenya dengan gelengan, pertanda tidak perlu dikejar. "kita kasih dia waktu dulu sampe dia sendiri yang dateng ke kita" ucap Marka.
"kalo gak dateng dateng?"
"baru kita yang Tanya baik baik"
***
halloooo~
karena aku gabut lagiii, jadi aku sambunv lagi guisss, jangan lupa vote nya yaahhh🫨😉😉😉 gomawooo~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
YATRAGATA (ON GOING)
FanficYATRAGATA, diambil dari bahasa sansekerta yaitu "yatra" dan "anagata" dengan arti perjalanan masa depan. Cerita ini menceritakan tentang 7 anak remaja dalam menjalani kehidupan mereka, bertemu satu sama lain dan menjadikannya tempat pulang. 7 dream...
