13. Baru Tau

368 28 0
                                        

hai hai hai~
how was ur dayy guisss???
aku kalo nulis suka banyak typo nya, di tandain aja yaa, biar nnti ku ganti, thank u~

note: kalimat miring menandakan flashback ya gusy

enjoyy~~~

***

Hasil ujian penempatan akan keluar besok, sejujurnya Celo sekarang sudah harap harap cemas. Ia yakin ia akan masuk ke lima besar, tapi... siapa yang bisa menjamin?

"Celo!"

Celo menolehkan kepalanya cepat. Melihat pak Deon yang sudah menatapnya dalam, mengintimidasi. "kenapa kamu bengong"

"Eh, eung... gapapa pa"

Pak Deon diam sejenak menatap mata celo yang mungkin segikit gelagapan? dan kemudian langsung mengangguk percaya. Matanya bergulir melihat keseluruh anak anak kelasnya, membuang nafas kasar dan kemudian melipat tangannya diatas meja, "anak anak, kalian kalo ada apa apa cerita aja ke saya, santuy aje santuy. kalo emg gamau cerita disekolah, kita nongki ke luar juga ayo aja saya mah"

"yeuu, si bapak sok sok an nongki, balik balik masuk angin"

celetukan Ren menimbulkan tawa dalam kelas, pak Deon sudah menatap Ren sinis. dasar anak ini, huh, batin Deon.

"enak aja ya kamu Ren, saya mah gak alay kayak kamu, masih muda saya mah, tinggi lagi gak cebol kayak anak sd" nyinyir pak Deon yang tentunya membangkitkan emosi dari Ren.

"kagak ada korelasinye ye pak, dari masuk angin ke pendek!!! gapapa saya pendek yang penting gak kerempeng kurus kering kayak bapa!" emosi Ren dengan sedikit nada tinggi. tenang. Deon tidak akan tersinggung atau baper, karena sesungguhnya ini salah satu cara Deon untuk mengakrabkan diri dengan anak anaknya.

anak anak yang lain sudah penuh tawa. bahkan Marka sudah tergelak sambil memegang perutnya yang menegang karena banyak tertawa. tidak ada tambahan dari Deon, ia hanya tersenyum gummy smile sambil menunggu anak anaknya selesai tertawa yang terbahak bahak itu. namun...

"tapikan, yg kerempeng itu kamu Ren, bukan pak Deon"

"BUAHAHAHAHAHA"

"HAHAHAHAH"

"NANA ANJINGGGG"

celetukan Nana yang dengan polos tersebut kembali membuat seisi kelas tertawa, tidak terkecuali pak Deon yang sekarang sudah menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya, akibat tertawa terbahak bahak.

"LIAT AJA LU YA JENAKA?!?! PULANG LEWAT MANA LU?!?!?!"

***

Bel pulang sekolah berbunyi lebih cepat dari biasanya, dikarenakan guru guru yang sedang mengadakan rapat evaluasi kerja. seluruh anak kelas 11-4 sesekali masih tertawa mengingat keributan antara dua mulut pedas tadi. ya, Renjana dan Deon. sebenarnya keributan seperti itu sudah sangat biasa terjadi dikelas mereka. pada awalnya, mereka terutama Jeno dan Marka tentu melerai mereka dan menyuruh Renjana agar sedikit lebih sopan. Tapi semakin kesini, keduanya tidak bisa dikontrol, sehingga Jeno dan Marka memutuskan untuk ikut tertawa daripada harus sibuk melerai, dan ternyata tidak buruk juga.

Nana masih menempeli Ren sejak tadi. semenjak celetukan polos Nana yang tidak sengaja keluar, membuat Ren marah -hanya main main- karena menurutnya menggoda Nana sangat seru dan membuatnya semakin senang mengusili Nana yang terus menatapnya dengan puppy eyes itu dan menggelendoti lengannya. tapi sepertinya, ada yang menganggap Renjana marah betulan. haha.

Aji atau Jinan sedari tadi ia memilin kedua jarinya sambil menatap Ren dan Nana yang tidak selesai selesai sejak tadi. sejujurnya, otaknya penuh dengan banyak pikiran tentang bagaimana membujuk Ren agar tidak marah lagi pada Nana. ya, hanya memikirkan hal itu. Setiap beberapa menit sekali ia bahkan hampir menjulurkan tangannya untuk menoel dan berucap, tapi batal karena ia ragu dan takut...

"kenapa Ji?" Tanya Jeno yang melihat Jinan seperti orang linglung. "eung... i-itu... jangan berantem" jawab Jinan lirih bahkan nyaris tidak terdengar. Jeno tersenyum manis. ah, lucu sekali mengkhawatirkan dua temannya ini, batin Jeno. Jeno mengelus surai Jinan, berbulan bulan berteman dengan Jinan membuatnya sedikit tau tentang karakter temannya yang pecinta damai itu, "it's okay Jii, mereka ga berantem beneran kok"

"ta-tapi, itu... Renjana..."

"nggaaa, percaya sama gw, Ren cuma bercanda itu, Nana juga enjoy kok, karena kalo Ren marah beneran pasti Nana udah ngadu ke gw" jawab Jeno meyakinkan.

"HOOOYYYY"

Panggil Haidan pada ke empat temannya yang sedang berjalan bersama. Haidan sedikit berlari dengan Marka yang sedang misuh misuh di belakangnya. "aish, ini tas lu bawa sendiri" sahut Marka sambil menyodorkan tas milik Haidan. Haidan hanya menyengir kuda. Marka dan Haidan baru saja selesai piket kelas, bersama Suno juga sebenarnya tapi anak itu sudah pulang duluan.

"omaigat, Aji anakkuuu, sayangkuuu, kamu kenapa kok sedih gitu anakku?" Ucap Haidan sambil menggerakkan wajah Jinan ke Kanan dan ke kiri.

sedangkan Marka dan Jeno sudah membuat ekspresi muntah. "Eh Ji, jangan mau lu punya orang tua modelan Haidan, burem masa depan lu ntar" Ceplos Ren asal. Jinan hanya bisa meringis mendengar celetukan Ren.

"udah kan ngambek ngambekkannya?" Tanya Nana yang sudah melepas gelendotan tangannya. "udah ah, capek gw"

"tuh, udah kan Ji? cuma bercanda kokk, terima kasih ya udh khawatir" ucap Jeno sambil tersenyum dan mengelus surai Jinan halus. "Eh, enak aja lu pegang pegang rambut anak gw!!! lepas lepas, haduuhhh anak papa, cup cup cup" sahut Haidan sambil menepis tangan Jeno kasar pada kepala Jinan, dan kembali merapihkan rambut Jinan.

"Celo kemana?" Tanya Marka.

"udh balik duluan tadi sama supirnya"

Marka mengangguk paham, ia melirik jam pada hp nya dan kemudian memasukkan hp nya pada kantong celana. "ayo Dan, kita cari kerja lagi biar cepet, gw harus nganter barang lagi soalnya" ucap Marka. "loh? kalian kerja?" Tanya Nana yang tampaknya seperti terkejut.

Marka mengangguk, diikuti oleh Jinan yang mengangguk juga. "lah? lu juga Ji?" Tanya Jeno yang ikut terkejut.

"gw kerja udah lama No, Na. hehe"

"gw belum sih... masih nyari, kalian ada loker ga?" jawab Haidan. "eung Dan, mau nyoba di cafe gw kerja ga? kemaren sih baru ada staff yang dipecat gitu, karena ketauan ngambil uang kasir, kalo mau coba aja"

Haidan yang mendengar tawaran kerja tersebut ia tersenyum lebar dengan mata berbinar. ini yang dia cari sejak lama, eh? tidak tidak, sejak kemarin. tanpa berpikir panjang Haidan jelas mengangguk dan memeluk Jinan dengan erat. "jadi? kita gausah lanjut Dan? kalo ngga gw langsung jalan nih"

"nggak usah Mark, terima kasiiihhh banyak yeah atas jasa jasamu dalam membantuku kemarin, sini ketjcup dulu Mark" jawab Haidan sambil memonyongkan bibirnya.

"NAJIS DAAN, GELEUH IH"

***

















hai gusy, segini dulu yaa...
lusa inshaAllah aku update lagi kalo tidak cibukk okayyy???

jangan lupa vote nya, terima kasii🎀🎀🎀

YATRAGATA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang