28. Execution

43 4 2
                                        

Hari yang mereka nanti-nati akhirnya tiba. Hari dimana Steve dan Jake akan menuntaskan rencana mereka selama ini. Sejak pagi, Jake merasa hatinya tidak tenang, ia memiliki firasat buruk atau mungkin ini hanya rasa khawatir yang berlebihan? Jake tidak tahu, namun yang pasti ia percaya dengan rencana The Uncles.

Jake dan Steve keluar dari kamar dengan pakaian khusus yang telah mereka kenakan. Di ruang tengah sudah ada The Uncles yang menunggu. Semua orang terlihat gugup, namun mereka sangat pandai untuk menyembunyikannya, termasuk Jake.

"Semua yang kalian perlu, udah dibawa?" Tanya Sean.

Jake dan Steve hanya menganggukkan kepala.

"Okay, kalau gitu kita berangkat sekarang," ujar Harras.

Keempat leleki itu memasuki mobil sedan hitam, dengan Harras yang memegang kendali mobil.

Tidak ada pembicaraan selama diperjalanan, Sean fokus dengan layar tab di tangannya, sedangkan Harras sibuk menyetir, sesekali ia melihat kearah spion dengan raut wajah cemas, namun beberapa detik kemudian terlihat lega, begitu pun seterusnya hingga mereka tiba di Dungeon Ship.

Harras dan Sean menyuruh Steve dan Jake untuk tetap berada di mobil selagi menunggu aba-aba dari mereka.

Setelah memeriksa in-ear dan juga GPS yang terpasang di saku baju masing-masing tidak ada kendala, Harras dan Sean langsung keluar dan menuju ke arah pelabuhan meninggalkan Jake dan Steve di mobil.

Steve memperhatikan kepergian The Uncles yang semakin menjauh melalui spion mobil. Setelah indra penglihatannya tidak lagi menangkap sosok kedua Uncles itu, Steve menyenggol lengan Jake, sambil memberi isyarat untuk tetap diam.

Jake yang dari tadi hanya termenung memperhatikan GPS melalui layar tab yang diberikan oleh The Uncles, menoleh kearah Steve.

Tanpa berbicara, Steve mengangkat sedikit baju yang ia kenakan. Betapa terkejutnya Jake saat melihat ada benda yang menjadi salah satu rencana vatal mereka hari ini. Sebelum Jake berbicara, Steve langsung menutup mulut sahabatnya. Ia lalu mengambil secarik kertas dan pulpen dari dalam sakunya, kemudian menuliskan sesuatu.

'Jangan bicara apapun.. kita tetap pada rencana The Uncles'
'Mungkin lo bener, gue harus percaya sama The Uncles, bagaimanapun mereka udah terima bantuan kita'
'Tapi kalo rencana The Uncles terindikasi gagal, please.. don't stop me'

Begitulah kalimat yang ditulis oleh Steve dalam secarik kertas putih itu.

Jake menatap Steve, ingin sekali rasanya protes, namun Steve langsung memberikan isyarat padanya untuk tidak mendebatnya kali ini. Jake hanya bisa pasrah mengikuti kemampuan sahabatnya, namun di sisi lain, Jake akan memastikan jika rencana The Uncles akan dilaksanakan tanpa ada indikasi gagal.

Jake mengambil pulpen yang dipegang Steve dan menuliskan diatas kertas yang ada di tangan lelaki itu.

'You must have put it right?'

Steve terlihat kaget saat membaca tulisan ity. Namun, ia langsung menganggukkan kepalanya.

'When?' Tulis Jake. Kini ia menatap tajam kedua mata Steve.

Steve menghela nafas. Merasa bahwa kebohongannya telah ketahuan, ia pun menjawab tulisan Jake.

'When you met your father with Uncle Harras'

Seperti dugaan Jake, percakapannya malam ketika Steve menyuruhnya untuk menaruh bom itu hanyalah omong kosong. Jake sudah merasa ada yang aneh dengan bom-bom itu dan semuanya terjawab sudah. Ingin sekali Jake memaki Steve yang sudah bertindak sendiri, namun di urungkan niatnya itu, mengingat situasi mereka saat ini yang tidak memungkinkan.

'However, you're still attached to the promise'

Steve menganggukkan kepala membaca tulisan Jake.

Rasa lega sedikit tercipta di benak Jake. Setidaknya, dengan perjanjian yang mereka buat, Steve masih mau mendengarkannya sehingga tidak bertindak gegabah.

•••

Ketika waktu telah memasuki tengah hari yang ditandai dengan terik matahari yang begitu menyengat ketika menyentuh kulit, Harras datang menghampiri mobil sedan hitam yang mana Jake dan Steve sedang menunggu.

Kaca mobil diketuk sebagai isyarat untuk menyuruh Jake dan Steve keluar dari mobil.

"Cek semuanya, kita mau mulai," ucap Harras.

Jake dan Steve mengikuti perintah Harras. Setelah cek semua perlengkapan mereka berfungsi dengan sempurna, Harras mulai memberikan sebuah perintah. "Steve, ini invitation buat masuk kedalem. Jangan ngomong kalo ngga urgent sama sekali. Jangan terlalu menonjol, dan terus update semua tamu yang datang," Harras memberikan sebuah undangan berbentuk persegi panjang berwarna emas metalik, dengan cap ditengahnya yang berwarna keemasan kepada Steve.

"Jake, lo ambil alih kemudi kapal. Waktu lo cuman sejam dari sekarang sampai kapal jalan. Lo berdua harus tajamkan semua indra lo, a little mistake you makes, we fall," Harras menatap kedua pemuda dihadapannya.

"Sean bakal membaur sama para tamu, jadi kalo ada apa-apa, lo bisa langsung kasih dia sinyal. Jake, apapun yang terjadi, stay di tempat lo.  Okay, let's start now,"

Harras pergi lebih dulu meninggalkan Jake dan Steve.

Jake dan Steve saling pandang, lalu menganggukkan kepala. "Whatever happens, happens. Don't have any regrets," ucap Jake.

"Udah gue bilang, pake bahasa Indonesia!" Protes Steve.

"Dari kemaren lo pake bahasa inggris mulu?!" Balas Jake sewot.

Steve tersenyum, merangkul pundak Jake tiba-tiba hingga membuat tubuh lelaki itu sedikit oleng. "Gue bercanda!" Ucap Steve.

"Still alive," Jake berkata dengan sungguh-sungguh.

"Lo juga," balas Steve.

Dua pemuda itu kemudian berpencar. Menuju ke tempat mereka masing-masing.

•••

B-SIDE || [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang