35. The Harbor

44 6 1
                                        

Kapal akhirnya tiba di pelabuhan tepat Pukul 05.00 pagi. Di bawah sana sudah banyak petugas berseragam yang menunggu kedatangan mereka. Saat kapal berhenti, para petugas langsung menaiki kapal di dampingi oleh beberapa perwakilan dari KBRI Indonesia. Jaksa Putri menyambut dan menyodorkan surat resmi, lalu berbicara pelan dengan menggunakan bahasa Inggris. Tidak butuh waktu lama sampai semuanya disepakati dan semua penumpang kapal di evakuasi melalui proses penyaringan, dan daftar nama dari tim kejaksaan Indonesia menjadi prioritas utama yang membuat ketegangan semakin meningkat.

Di sisi kapal, para tamu—kebanyakan diantaranya adalah tokoh penting negeri—mulai panik. Beberap mencoba untuk melakukan suap dan mengelak. Namun semua itu di jaga ketat, terlebih lagi media asing juga mulai mengerumuni area pelabuhan untuk mendapat berita eksklusif. Pagi yang dingin itu membuat wajah-wajah angkuh yang selama ini menempati podium tinggi di Indonesia berubah menjadi pucat. Dunia yang selama ini mereka dirikan karena ke egoisan dan ketamakan dilandaskan dengan kebohongan serta pengkhianatan akhirnya runtuh.

Jay dan Jake yang masih berada di dalam area kemudi terdiam. Menunggu arahan lebih lanjut dari The Uncles dan kedatangan sahabat mereka—Steve.

Pintu akhirnya terbuka, namun Steve tidak ada di sana.

"Ada yang harus gue omongin ke lo berdua," ucap Harras. Nadanya dalam dan terdengar penuh penyesalan.

Jay dan Jake seakan tahu ada yang tidak beres, namun mereka tidak bisa berkata apapun dan membiarkan Harras melanjutkan kalimatnya.

"Gue gagal untuk membawa kalian utuh... Steve.. dia lompat ke laut bareng Sandiaga dan.. gue denger suara ledakan-"

"NGGA! NGGA MUNGKIN!" Teriak Jay histeris. "STEVE JANJI SAMA GUE NGGA BAKAL MELAKUKAN PLAN B!"

Harras dan Sean tidak terkejut dengan reaksi keduanya.

"Uncle.. aku udah buang pemicu itu! Ngga ada satu pun dari kita yang menekan tombolnya! Bahkan aku sudah matikan bom yang sengaja di taruh Steve di dalam kapal ini!" Sahut Jake.

Jay menoleh kearah sahabatnya. "Apa maksud lo?!"

Sean menatap Jake dengan sorot tajam. "You knew about his plans?"

Jake mengangguk pelan. "Me... and just a while ago, Gina too."

Sean mencengkeram bahu Jake cukup kencang. "Why didn't you tell us?!"

"BECAUSE YOU NEVER TRIED ENOUGH TO MAKE HIM BELIEVE IN THIS DAMN PLAN!" Bentak Jake akhirnya.

Bukan, ini bukan karena dia ingin menyalahkan The Uncles atau siapapun. Ini hanya ledakan emosi atas rasa frustasi yang terlalu sesak dalam dadanya. Amarah yang dia jadikan tameng untuk menutupi rasa bersalah yang dari tadi menggerogoti jiwanya. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, Jake tahu bahwa dialah yang seharusnya berusaha sekuat tenaga untuk mencegah Steve.

Jay yang berdiri di samping Jake tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Tatapan kecewa terpancar sangat jelas dimatanya. "Jadi.. yang Gina pegang itu.."

"Iya, itu pemicu bom untuk mengaktifkan bom yang terpasang di tubuh Steve," jawab Jake akhirnya.

"Lo tahu, tapi lo ngga bilang apapun ke gue?!"

"Gue pikir dia ngga bakal ngelakuin itu! Dia janji ke gue akan kembali-"

BUGH!

Jay tidak kuasa menahan emosinya, dia memukul wajah Jake dengan sangat kencang hingga lelaki itu tersungkur dan dari sudut bibirnya terdapat darah segar yang mengalir.

"SON OF A BITCH!" Jay lalu meludah ke arah Jake.

Baru saja Jay hendak melayangkan pukulan kedua, Sean buru-buru menariknya dan menahan tubuhnya.

"ENOUGH!" Bentak Sean. "This is not the time for you to fight! We still have hope. You know steve wouldn't do this without a reason. Take a deep breath and calm down."

Jay terengah, giginya terkatup rapat, dan matanya berkaca-kaca. Ia tahu Sean benar. Tapi rasa kehilangan membuatnya sulit berpikir jernih.

Di sisi lain Jake masih terdiam di lantai, menunduk. Pukulan itu memang sakit, tapi rasa bersalahnya jauh lebih menyakitkan.

Untuk sesaat ruang kemudi hening, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Hanya terdengar deru napas yang berat dan suara langkah kaki petugas berlalu lalang di luar sana. Jay akhirnya dapat sedikit tenang, namun kesedihan, amarah, dan perasaan kecewa masih jelas terpampang di wajahnya. Jake belum bergerak dari tempatnya jatuh, ia masih berada dalam posisi yang sama—menunduk dalam diam, sementara darah di sudut bibirnya mulai mengering.

Beberapa ketukan mulai terdengar dari liat pintu, menandakan bahwa mereka harus segera pergi.

"It's time to go," ucap Harras lirih. "Kita harus turun."

Mereka akhirnya keluar dari ruang kemudi, dengan Jay yang masih dalam pantauan Sean—khawatir jika emosi pemuda itu kembali meledak. 

Begitu keluar dari ruang kemudi, keempatnya melihat bagaimana kacaunya situasi saat ini. Para tamu di giring oleh petugas ke arah pintu keluar, beberapa dengan tangan terborgol, beberapa lagi mencoba untuk menegosiasikan nasib mereka.

Media asing dan lokal pun mulai mengerumuni Jake, Jay, Harras, Sean—bagaikan gula yang dikerumuni oleh semut.

"THERE! THAT'S THEM! THE BOYS WHO EXPOSED THE WHOLE OPERATION!"

Mendengar teriakan dari salah satu orang membuat kamera wartawan langsung menyorot ke arah mereka dan membanjiri dengan berbagai macam pertanyaan.

"Was the Indonesian government aware of this plan?"

"Who gave the final order?"

"Where is the white boy?"

Tentu pertanyaan tentang Steve pasti akan muncul dan menimbulkan kebingungan diantara para wartawan karena lelaki jangkung berkulit putih itu tidak hadir bersama mereka.

"Died," ucapan Jay sukses membuat para wartawan semakin ricuh.

Jake menatap Jay dengan wajah terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Bagaimana bisa Jay dengan mudah mengatakan jika Steve sudah meninggal padahal jasad sahabat mereka itu belum di temukan. Kemarahan dalam diri Jake seketika memuncak, namun sebelum hal itu tersalurkan, Harras lebih dulu menahannya. Dengan memberikan kode untuk tidak mengambil tindakan apapun saat ini.

Dan sebelum keadaan semakin tidak terkendali, petugas keamanan menggiring keempat lelaki itu menuju mobil van.

Mereka berempat berjalan ke arah van yang memang telah disediakan oleh Jaksa Putri untuk selanjutnya dilakukan interogasi sebagai formalitas.

•••

B-SIDE || [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang