Antrean untuk memasuki kapal terlihat cukup ramai dengan orang-orang berpakaian begitu rapih berwarna hitam-putih. Dari cara pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu sama sekali tidak membuat Steve iri, justru ia merasa jika mereka tidak lebih dari tikus got yang menjijikan. Saat giliran dirinya ingin memasuki kapal, seorang petugas mengecek undangan yang diberikan oleh Steve. Untuk sesaat Steve terlihat gugup karena bagaimanapun ini kali pertama ia berhadapan dengan pejabat sebanyak ini.
Setelah melalui pengecekan, Steve menuju ke ruangan paling ujung dimana tempat kamarnya berada. Di kapal ini memang disediakan beberapa ruangan yang di khususkan untuk para tamu karena acara akan dimulai pada malam hari.
Steve mengambil kunci yang ia dapatkan dari penjaga setelah melakukan pengecekan. Steve hendark memasukkan kunci untuk membuka pintu, namun ia menyadari bahwa pintu kamarnya telah terbuka sedikit. Refleks tangan kanan Steve langsung mengambil pistol di dalam jas-nya, sedangkan tangan kirinya membuka pintu kamar. Steve berjalan perlahan memasuki kamar dengan pistol yang tetap di arahkannya ke arah depan. Namun ternyata gerakan Steve kalah cepat dengan seorang wanita yang telah menyerangnya lebih dulu hingga Steve harus menyerah karena bagaimanapun ditubuhnya masih terdapat bom yang cukup bahaya jika Steve salah gerak sedikit saja.
"Simpen pistol lo, let's we talk," ucapnya perempuan itu dari arah belakangnya dan Steve juga yakin jika perempuan itu sedang menodongkan pistol ke arahnya.
Steve menaruh pistolnya kembali. Kedua tangannya ia angkat sejajar sejajar dengan telinganya, lalu membalikkan tubuhnya.
"Hai!" nada suara perempuan itu langsung berubah saat Steve telah menatapnya. Steve pun menghela nafas lega saat melihat siapa perempuan yang menyelinap masuk kedalam kamarnya.
"Gina anjir! Gue kira siapa!" omel Steve.
Perempuan yang cukup Steve kenal, Gina, tertawa kecil lalu menyimpan pistolnya.
Gina berjalan ke sofa, duduk disana sembari melipat kakinya. "So, that is your plan?" tanya Gina sambil menunjuk kearah koper yang ada di depan pintu.
Steve yang mengetahui arah pembicaraan mereka, langsung menutup pintu kamar setelah mengecek bahwa tidak ada yang mengintai kamarnya. Steve juga mematikan sejenak in-ear miliknya, mungkin nanti ia bisa beralasan bahwa dirinya sedang mandi.
"Just for backup plan. Gue masih susah percaya sama The Uncles," jawab Steve, lalu menarik kopernya.
"So, you choose to sacrifice yourself for your bro?" tanya Gina.
"Perhaps," jawab Steve.
Helaan nafas keluar dari mulut Gina. "Now i know why you and my sis can be friends,"
Steve tertawa kecil. "Kalo mau bantu gue, basa-basinya ngga usah kepanjangan," ucapan Steve sukses membuat Gina salah tingkah.
"Who says i want to help you? But, if you really need my help, i wouldn't refuse it tho," jawab Gina dengan angkuhnya.
Steve tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Kini Steve sangat yakin jika Gina benar-benar adik kandung dari cinta pertamanya. Melihat ego-nya yang setinggi langit, mengingatkan Steve pada Ghea.
Koper yang dari tadi hanya diam saja di sisinya, kini ia serahkan ke Gina. "Apaan isinya?" tanya perempuan itu, menerima koper yang cukup besar milik Steve.
Steve mengeluarkan pemantik dari dalam saku jas-nya, menyerahkannya para wanita yang kini terlihat sangat terkejut, namun menerima dengan baik pemantik bom yang diberikan oleh Steve. Ia pun juga membuka bajunya, membuat Gina otomatis menutup matanya. "LO MAU NGAPAIN ANJIR?!"
"In that suitcase, there is a bom which connected to my body," jawab Steve.
Perlahan Gina membuka matanya, sebuah benda pipih melingkar di pinggangnya. Berbentuk seperti sebuah korset yang biasa digunakan untuk membentuk tubuh, sehingga siapapun tidak akan menyangka jika yag dipakai oleh Steve saat ini adalah benda yang bisa menghancurkan tubuhnya dalam satu detik.
"You are insane," ucap Gina terperangah dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Yeah, you can remember that," jawab Steve dengan santainya lalu kembali memakai bajunya. Lelaki itu kembali melanjutkan kalimatnya setelah pakaiannya kembali terpasang lengkap di tubuhnya. "Yang tahu rencana ini cuman gue dan Jake. Tadinya gue akan melakukan ini sendiri. For information, Jake juga memegang pemantik yang sama dengan yang lo pegang saat ini, but i doubt him to press the button, so for all of the people sake, i want you to doing that," pinta Steve dengan sungguh-sungguh.
Gina hanya bisa terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Steve. Perempuan itu tidak habis pikir, kenapa ada seseorang yang dengan mudahnya mengorbankan diri sendiri hanya untuk orang lain? Namun di sisi lain, Gina juga tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa senang atas apa yang dilakukan Steve saat ini setiap kali ia mengingat apa yang terjadi pada saudara kembarnya, tapi apakah saudara kembarnya juga menginginkan hal yang sama? Perasaan Gina saat ini begitu campur aduk, haruskah ia menuruti ego-nya atau hati nuraninya?
"Why'd you trust me? You don't know me. I can betray you," tanya Gina.
Seulas senyum terpancar di wajah Steve. Bukan senyum kebencian atau meremehkan, sebuah senyum yang sangat sulit untuk Gina mengerti.
"Well, you right. But, i know you hate me so fucking deep. And i'm pretty sure, you're the one who will be happy to over all of this shit. You want revenge for Ghea? So do i. You and me know this is our last chance for you to end up those fucking man life. That's why i believe in you,"
Steve menatap pemantik yang berada di tangan Gina. Senyum getir terulas di wajahnya, ia teringat masa kecil antara dirinya dengan Ghea, saat dimana perempuan itu selalu membelanya dari para pembuli dan ini adalah saatnya Steve membalas budi kebaikan dari cinta pertamanya. Steve akan melakukan apapun untuk Ghea, seperti Ghea yang Ghea lakukan hingga akhir hayatnya.
Suasana menjadi sendu. Tanpa keduanya ketahui, mereka memili satu rasa yang sama kepada Ghea, perasaan bersalah tidak bisa melindungi orang yang mereka sayangi. Kini mereka rela untuk melakukan apapun untuk menebus kesalahan itu, bahkan jika harus mengorbankan diri sendiri.
"You know i stab my team for this?" ucap Gina menatap nanar ke arah Steve.
"So do i," jawab Steve dengan senyum sendu pada sang adik cinta pertamanya.
Tidak mau terlalu larut dengan suasana sedih seperti ini, Gina bangkit dari tempatnya, membawa koper yang diberikan oleh Steve. Perempuan itu berjalan menuju pintu keluar ruangan Steve sambil menarik koper. Sesaat sebelum Gina benar-benar meninggalkan kamar Steve, perempuan itu membalikkan tubuhnya dan berkata. "She must be happy if she knows you still alive,"
Steve hanya tersenyum, ia mengerti maksud dari Gina. "I beg you," ucap Steve dengan tulus.
Untuk sesaat ia cukup ragu dengan rencana yang Steve buat, bagaimanapun nuraninya tetap berharap bahwa rencana The Uncles tetap berjalan sesuai dengan rencana tanpa harus mengorbankan Steve. Namun kita tidak pernah bisa memprediksi masa depan dan Gina sudah siap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
B-SIDE || [COMPLETED]
Misteri / ThrillerMereka bukan siapa-siapa. Hanya anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang udah lama dipoles dari satu sisi: A-side. Rapi, penuh janji, tapi penuh kepalsuan. Tapi kebenaran nggak pernah diam. Ia tumbuh dengan pelan, sunyi, tapi pasti, tapi berada di sis...
![B-SIDE || [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/350911202-64-k465604.jpg)