36. Fight Goes On [End]

63 7 2
                                        

Beberapa jam setelah kejadian,
Jake dan Jay akhirnya dipersilakan masuk ke ruang interogasi. Ruangan itu dingin dan terang, dengan dinding putih kosong dan cahaya neon yang menyilaukan. Di hadapan mereka duduk Jaksa Putri, ditemani dua penyidik. Raut wajah mereka serius, namun tidak mengintimidasi.

Meski lelah dan terpukul, Jake dan Jay tetap duduk tegak, bersiap menghadapi pertanyaan demi pertanyaan.

"Kami hanya perlu mendengar kronologi dari kalian," ucap Jaksa Putri. "Sebagian besar sudah terekam CCTV dan komunikasi kapal, tapi kami butuh kesaksian langsung."

Jay diam. Pandangannya kosong. Luka emosionalnya terlalu segar untuk diurai dengan kata-kata. Maka Jake pun mengambil alih.

Dengan suara pelan dan goyah, ia berkata,
"Kami... kami cuma pengen kebenaran akhirnya terungkap. Kami tahu ini kelihatan gila. Tapi kadang, satu-satunya cara buat ngelawan kegilaan... adalah dengan jadi gila juga. Kami udah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang mereka."

Jaksa Putri menatapnya dalam. "Dan Steve? Kenapa dia melakukan itu?"

Jake terdiam lama. Wajahnya menegang menahan emosi.

"Karena dia tahu," bisiknya akhirnya. "Satu-satunya cara menghancurkan kebohongan ini... adalah dengan memaksa dunia melihatnya. Bahkan kalau itu artinya dia harus lenyap dari dunia ini."

Jaksa Putri mengangguk pelan. Lalu ia menarik sebuah foto dari map di tangannya—gambar satelit yang diambil tak lama setelah ledakan.

Jake dan Jay langsung mencondongkan tubuh mereka. Di dalam gambar itu, tampak sosok kecil mengambang di laut, hanya beberapa meter dari titik ledakan.

"Ini diambil lima menit setelah ledakan," ucap Jaksa Putri pelan. "Kami belum bisa pastikan siapa, tapi..."

"Itu Steve," gumam Jake. Matanya tak lepas dari foto itu.

Jay tetap membisu. Sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan—ragu, takut, dan marah.

"Tim penyelamat belum menemukan tubuh, atau tanda kehidupan," lanjut Jaksa Putri. "Tapi kami akan terus mencari."

Jay berdiri tiba-tiba. Wajahnya masam, penuh letih dan muak.

"Gue akan cari dia," kata Jake mantap.

Jay hanya tertawa—kering dan sinis. Lalu melangkah ke pintu tanpa berkata sepatah kata pun. Jake bangkit dan menatap punggung sahabatnya itu.

"Gue ngerti lo benci gue," kata Jake, nadanya tulus. "Tapi kalau Steve masih hidup... dia pantas dibawa pulang."

Jay berhenti. Masih membelakangi Jake, ia bertanya tanpa menoleh, "Kalau. Tapi kalau dia udah mati?"

Jake menjawab tanpa ragu.
"Then we find him. Dead or alive... he's coming home."

Jay menarik napas dalam, membuka pintu, dan sebelum keluar, ia berbisik,
"Such a bullshit."

Dan pintu pun tertutup.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Angin laut berhembus pelan. Daun kelapa bergoyang malas di tepian sebuah pulau kecil yang asing.

Di bibir pantai, tubuh seorang pria terbaring lemah. Luka membekas di wajah dan tubuhnya, tapi matanya terbuka—menatap langit cerah yang tak terjamah.

Burung-burung berkicau lembut, dan senyum tipis mengembang di wajahnya.

Damai. Tapi belum selesai.

"So..." bisiknya pada langit biru, "am I still alive, or already dead?"

B-SIDE || [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang