32. Plot Twist

66 6 4
                                        

Pukul 19.59—satu menit sebelum acara inti dimulai, yang mana seharusnya menjadi ajang kesuksesan rencana Steve bersama yang lain, justru menjadi kacau.

Steve berdiri sedikit jauh dari podium untuk mendapat pandangan ke seluruh ruangan, jantungnya berdegup cukup kencang memikirkan rencana selanjutnya akan segera dimulai. Semua telah siap—Jay dengan tab-nya memantau live streaming dan sinyal supaya tetap stabil. Jake yang berada di posisi teknis, memastikan bahwa kapal tetap berjalan dengan normal. The Uncles yang berada di lantai dua dan satu, memantau Steve dan memberikan instruksi.

Steve hanya hanya perlu mengambil satu langkah lagi untuk maju, membuka kebenaran pada dunia apa yang telah terjadi padanya dan juga teman-temannya akibat dari ke egoisan para golongan atas yang haus akan kekuasaan.

Namun—

KLEK
Lampu tiba-tiba padam, hanya ada sorotan cahaya kecil dari sela-sela jendela di lantai dua akibat dari sinar bulan.

Ruangan langsung bergerumuh. Beberapa orang menjerit, beberapa ada yang tertawa gugup, beberapa juga ada yang menganggap bahwa ini hal yang biasa dan melanjutkan obrolan mereka.

"Mohon tenang," suara dari speaker darurat terdengar. "Telah terjadi gangguan teknis. Mohon untuk tetap berada di tempat masing-masing sampai ada arahan selanjutnya. Terimakasih."

Berbeda dengan para tamu yang langsung bersikap kembali seperti biasa—meskipun masih ada beberapa yang m tetap panik—Steve tahu jika ini telah disengaja. Dan yang membuatnya benar-benar yakin adalah.. suara langkah kaki yang sangat familiar di telinganya—tergesa-gesa, namun tetap ritmis dan terukur—menuju ke pintu keluar.

Tanpa menunggu lagi, Steve keluar dari ruangan, menyusuri lorong menuju area dek belakang kapal. Dengan langkah yang cepat dan cemas, bahkan Steve mengabaikan suara-suara dari Jake dan Jay yang memarahinya.

Sampai akhirnya langkah Steve terhenti di dek belakang kapal. Dan disana terlihat Sandiaga dengan wajah yang tenang menghadap membelakanginya, menatap ke arah laut, dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.

Amarah Steve yang sudah memuncak, menghampiri Sandiaga dan menarik lengannya sehingga lelaki berusia akhir 50-an itu membalikkan tubuhnya. "Anda tahu rencana ini." Kilatan amarah terpatri di kedua mata Steve dengn nafas beratnya karena menahan emosi yang sudah di ujung kepala.

Sandiaga sama sekali tidak terlihat takut. Ia justru tersenyum lalu dengan santainya mengambil rokok dari saku celananya untuk ia hisap. "Bukan karena aku tidak lagi mengejar kalian itu berarti aku tidak tahu rencana kalian," ucap Sandiaga sambil menyalakan rokoknya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Steve, jangan berbuat bodoh. Aku disini justru melindungi kalian."

Steve tertawa, bukan tawa bahagia melainkan tawa miris. Melindungi? Omong kosong. "Jika benar begitu, seharusnya anda tidak lari! Seharusnya anda tidak menyabotase rencana kami! Harusnya anda tetap berdiam disana dan melakukan pidato bodoh anda itu! DAN SEHARUSNYA ANDA BERADA DI PIHAK KAMI SEPERTI THE UNCLES!" Teriak Steve akhirnya. Ia sangat frustasi dengan semua keadaan ini.

"Aku di pihak mu nak, selalu. Tapi aku memiliki cara sendiri untuk melakukannya." Sandiga menghisap rokoknya dan kembali menghembuskannya. "Jika kalian pikir aku adalah dalang dari semua ini.. kalian salah. Aku disini bukan seseorang yang membawa panah untuk menusuk kalian, tapi aku orang yang membawa perisai untuk melindungi kalian."

"Berhenti berbicara omong kosong! Semua bukti dari awal mengarah ke anda!"

"Kamu yakin bukti yang kamu dapat akurat? Kamu yakin sudah berpikir jernih dan tidak melibatkan perasaan pribadi saat melihatnya? Kamu yakin sudah objektif?" Kini suara Sandiaga melemah, terdengar seperti berbisik. Sandiaga maju satu langkah untuk berada dekat dengan Steve. "Lebih baik kamu hentikan semua ini, tarik mundur semuanya sebelum terlambat Steve."

"Lalu apa? Kalian akan mengembalikan kami ke kehidupan yang bagaikan neraka itu? Anda pikir aku bodoh?"

Sandiaga menghela nafas panjang. "Kamu memang anakku. Keras kepala dan tidak mudah untuk di goyahkan."

"Dan aku sangat membenci fakta itu!"

Sandiaga mendongakkan kepalanya, sesaat matanya terlihat sedih saat Steve mengatakan hal itu. "Aku hanya ingin melindungi mu. Aku sudah membiarkan kalian pergi dan seharusnya kalian tidak kembali sehingga tetap aman."

"Aman?" Senyum miris kembali muncul di wajah Steve. "Berapa banyak orang yang telah anda bunuh dan anda bungkam hanya untuk memuaskan ego anda! Anda mengancam Jay! Membunuh Ghea! Dan hampir membuat Jake mati di hutan! Itu 'aman' menurut anda?!"

Sandiaga menghela nafas panjang, memundurkan dirinya satu langkah. "Kamu benar, hanya karena aku ingin memuaskan ego-ku saat itu, aku membuat perjanjian bodoh bertahun-tahun lalu. Perjanjian yang menghancurkan hidupku.." Sandiaga menatap nanar wajah Steve. Wajah sang anak yang dulu ia tinggalkan di panti asuhan. "Dulu aku gagal melindungi bunda, tapi sekarang aku akan melakukan apapun untuk melindungi mu Steve. Bahkan jika itu mengharuskan aku menjadi seorang monster yang tidak berperasaan."

"Jangan.. jangna pernah sekalipun kau menyebut Bunda dengan mulut kotor mu itu!"

Derap langkah kaki membuat Sandiaga menoleh, ia melihat dua sahabatnya—Harras dan Sean—menatap nyalang ke arahnya.

"Lo keterlaluan San," ucap Harras, menarik Steve sehingga menjauh dari Sandiaga.

"Gue ngelakuin ini semua buat ngelindungi lo semua Har," jawab Sandiaga. Tidak ada raut wajah kecewa, hanya ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya karena melihat kembali dua sahabatnya.

"Cukup San! Lebih baik serahin diri lo sekarang juga!" Kini Sean berbicara.

"You know i can't. Kalau gue serahin diri gue, kita semua mati Sean,"

"Apa maksud lo?!" Tanya Harras.

Suara tembakan membuat Harras, Sean, dan Steve terlonjak kaget.

"He already knows," ucap Sandiaga pelan.

Tiga lelaki yang berdiri cukup jauh dari Sandiaga menoleh kearahnya. "Better you get out from here, now!" Ucap Sandiaga lagi, kini matanya berubah menjadi lebih serius.

"In your dream!" Ucap Steve lalu berlari kencang ke arah Sandiaga dan tercebur ke laut.

Harras dan Sean terkejut karena semuanya terjadi begitu cepat. Mereka berlarian ke arah ujung kapal, namun belum sempat mereka sampai, sebuah suara ledakan dari dalam air membuat keduanya menghentikan langkah.

"Lo.. denger barusan?" Tanya Harras.

"Ngga mungkin Steve bunuh diri kan?" Ujar Sean.

•••

B-SIDE || [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang