8. Second Mission

79 5 0
                                        

Dug!
Bugh!
Bugh!

"SIA! BEHIND YOU!" teriak Jay melalui in-ear.

Dengan gerakan gesit, Jake langsung memutar tendangannya kearah lelaki yang lebih tinggi darinya itu, berhasil tepat mengenai sasaran hingga membuatnya pingsan.

Puluhan preman berhasil dilumpuhkan oleh Jake dan Steve. "Sia, lo yang ngamanin dokumennya, gue ngamanin anak-anak," ujar Steve.

Steve menuju ke lantai basement tempat dimana anak-anak kecil disekap, sedangkan Jake menuju ke ruangan di ujung lorong.

Dengan sikap yang hati-hati dan penuh waspada, keduanya berhasil menerobos masuk kedalam ruangan yang di tuju. "Attle posisi," ujar Steve.

"Good bro," jawab Jay.

Steve membebaskan sekitar 9 anak yang merupakan korban penculikan. Steve yang melihatnya meringis, keadaan mereka cukup memprihatinkan karena tak terurus, bahkan bau pesing pun memenuhi ruangan. Steve tak habis pikir di zaman modern seperti ini masih ada kasus sekeji ini, terlebih lagi pada anak-anak yang bahkan umur mereka sepertinya masih dibawah 12 tahun.

"Eve- ouch!" Jake yang baru datang langsung menutup hidungnya, kemudian menatap kearah Steve. Steve hanya menggelengkan kepala kecil, menyuruh Jake untuk tidak berbicara apapun.

"Let's go, we don't have much time," ucap Jake.

Steve menyuruh kesembilan anak-anak tersebut untuk mengikutinya, sedangkan Jake membuka jalur untuk menuju ke luar. Steve memperhatikan beberapa anak yang terlihat berjalan dengan tertatih-tatih sambil memegangi kakinya, ada juga seorang anak laki-laki yang terlihat begitu kesakitan memegangi perutnya. Steve menghampiri anak tersebut, "dek, kenapa?" Tanya Steve pada anak laki-laki tersebut.

"Ngga apa-apa kak," jawabnya takut-takut.

"Hey, kita orang baik. Jangan takut, kalo ada yang sakit kasih tau aja ya?" Ujar Steve dengan suara yang sangat lembut.

Sampai di pintu belakang, Jake dan Steve mencari keberadaan mobil, namun tak menemukannya. "Attle you okay? Kita udah dibelakang," ujar Jake melalui in-ear.

"Kenapa ngga bilang anjir?!" Omel Jay yang terdengar langsung menyalakan mesin mobil.

"Bangsat! Gue udah bilang tadi! Lo bilang Good anjing!" Balas Steve mengomeli Jay.

"Bilang dong kalo maksudnya itu gua udah harus standby! Lo salah keyword!" Sahut Jay.

"Ya lo tahu gua goblok bahasa inggris! Lagian siapa si yang buat pake keyword bahasa inggris?!" Balas Steve.  Jake melirik tajam dan berkata, "gue," yang langsung membuat Steve salah tingkah.

"Bagus kok! Gue jadi bisa belajar bahasa inggris, thanks ya Jake, gue emang harus belajar bahasa lebih rajin lagi sih," Steve memuji-muji Jake supaya sahabatnya itu tidak marah. Jake itu perubahan mood-nya cepat sekali berubah dan jika itu terjadi akan sulit untuk menaikkannya lagi.

Sebuah bus kecil akhirnya sampai di depan mereka, namun sejalan dengan itu derap langkah kaki dan berbagai teriakan membuat mereka semakin terburu-buru.

Steve mencoba menghadang para preman tersebut, sementara Jake mengamankan anak-anak masuk kedalam bus. "EVE! HURRY UP!" Teriak Jake.

"BENTAR! SALAH JAY NIH DATENG TELAT! BEGO EMANG! POKOKNYA KALO GUA MATI DISINI GUA BAKAL HANTUIN LO SEUMUR HIDUP JAY!" Balas Steve penuh emosi.

"TOLOL! CEPET MASUK!" Teriak Jay. Jake mengambil alih kemudi, sedangkan Jay turun dan menarik Steve untuk masuk kedalam bus.

Akhirnya bus mereka jalan dengan semua orang aman di dalamnya.

"GOBLOK!!! LO NGUNGKAPIN IDENTITAS GUA!!" Teriak Jay kesal.

"Kapan anjir? Gua ngomong Attle! Lo jangan nuduh-nuduh deh!" Balas Steve tak terima merasa dituduh oleh Jay.

"Anjing! Makannya jangan makan emosi! Tolol!" Maki Jay lagi.

"Udahlah anjir, sejak kapan kita takut identitas kita ketahuan. Lagian ngga selamanya juga kita sembunyiin identitas kita terus," ujar Jake menengahi kedua sahabatnya.

Keduanya terdiam, walaupun sama-sama memalingkan wajah. Seperti anak kecil habis bertengkar.

Jake memberhentikan mobilnya di sebuah panti asuhan, kemudian menyuruh semua anak-anak untuk turun.

Sementara Jake dan Jay mengurus anak-anak, Steve mendatangi Ibu panti asuhannya dulu dan memberitahukan apa yang terjadi. Untungnya sang Ibu panti dapat di ajak bekerja sama dengan baik. Pengurus panti pun menyapa anak-anak baru itu dengan sepenuh hati.

"Guys, we can't stay long. We have to go," ujar Jake.

"Steve!" Sebuah suara melengking membuat ketiganya menoleh.

Seorang perempuan berambut panjang sepinggang dengan mata bulat berlari kearah Steve dengan ceria. Perempuan itu langsung memeluk Steve erat. "Gue kangen banget sama lo," ucapnya.

Steve hanya diam. "Steve, lo ngga apa-apa kan? Gue percaya lo ngga bakal kayak gitu. Kenapa ngga dateng ke gue? Kenapa ngga hubungin gue? Gue kira lo udah meninggal tahu ngga?!" Ucap perempuan itu tanpa henti.

"Steve," panggil perempuan itu karena tak mendapat respon apapun dari pria jangkung berkulit pucat ini.

"Ghea, gue harus pergi," ucap Steve akhirnya.

Ghea menahan lengan Steve, menatap pria itu sungguh-sungguh. "Kali ini lo mau kemana? Gue ikut,"

"Ngga bisa, terlalu bahaya buat lo," tolak Steve.

"Kalo gitu kenapa lo pergi kalo bahaya?" Balas Ghea.

Jake dan Jay yang merasa pertengkaran ini sepertinya akan terus berlanjut memberi isyarat pada Steve untuk segera menyelesaikannya. Kemudian keduany masuk kedalam mobil.

"Ghea, sekarang waktunya ngga tepat. Gue janji bakal ceritain semuanya ke lo nanti," Steve mencoba memberi pengertian pada sahabat kecilnya ini.

"Ngga! Lo bohong! Lo pasti bakal ngilang lagi!"

Steve meraih kedua tangan Ghea dan meyakinkan perempuan yang sudah lama tak ia temui. "Gue janji kali ini ngga akan kabur. Kalaupun akan kabur, gue akan minta izin lo dulu,"

"Janji?" Ghea mengulurkan jari kelingkingnya.

Steve tersenyum. Kebiasaan sahabatnya ini tak berubah ternyata. Steve mengaitkan jari telunjulnya, "janji."

"Pokoknya yang langgar bakal mati duluan," ancam Ghea. Steve terkekeh kecil, mengacak rambut perempuan yang tubuhnya selalu lebih pendek darinya itu lalu berkata dengan nada mengejek, "iye boncel."

Steve akhirnya masuk kedalam bus. Jay kemudian melajukannya.

Saat perpisahannya dengan Ghea, perasaannya menjadi galau. Pertemuan tadi mengingatkannya akan masa-masa dimana Ghea yang dari dulu selalu melindunginya bagaikan seorang kakak. Bagi Steve, Ghea adalah rumah utama untuknya hingga akhir hayatnya. Bahkan Steve berjanji pada dirinya akan menjaga Ghea saat mereka beranjak dewasa.

"Uwuw~ jadi ini si boncel gemes yang dari dulu sering di omongin," ledek Jake.

Steve tersenyum salah tingkah mendengar ledekan Jake.

"Kalo emang suka kenapa ngga diungkapin aja si? " sewot Jay yang gemas dengan tingkah sahabatnya ini.

"Bukan ngga mau! Keadaan sekarang ngga memungkinkan untuk itu! Kalo semua udah beres juga ngga perlu pacaran, langsung gua nikahin di tempat," balas Steve.

"Ya ilah gaya lo.. dulu aja ngejekin gua bakal kawin duluan. Ternyata yang ngebet banget lo!" Sahut Jake.

"Takdir dan feeling tuh ngga nentu gembel!" Sungut Steve.

Jake dan Jay tertawa ngakak. Baru kali ini melihat Steve yang sedang kasmaran, pria berkulit pucat itu sangat lucu. Mereka tidak menyangka akan melihat sisi Steve yang hangat seperti ini pada seorang perempuan.

B-SIDE || [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang