Suara ledakan dari dalam air itu membelah laut malam yang tenang.
Harras dan Sean membeku di tempat, hanya bisa menatap ombak yang beriak liar di ujung dek kapal tempat terakhir kali Steve melompat bersama Sandiaga—sahabat mereka—.
Asap tipis perlahan naik dari permukaan laut, namun tidak ada tubuh yang mereka cari. Tidak ada suara yang mereka dengar, hanya gemuruh air yang pelan-pelan kembali tenang seperti tidak pernah ada orang yang melompat sebelumnya.
"Lo... denger barusan?" Bisik Harras, suaranya nyaris tidak terdengar di antara angin laut yang dingin.
Sean tak menjawab. Untuk sejenak ia masih mencerna semua yang terjadi di hadapannya. Pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah dia gagal lagi?
"Ngga mungkin Steve bunuh diri kan?" Ujar Sean dengan suara gemetar. Tatapannya masih menatap ke arah laut, berharap bahwa tubuh Steve dan Sandiaga muncul ke permukaan. Tapi yang hal itu hanyalah harapan semu. Tidak ada tanda-tanda bahwa kedua lelaki itu akan muncul kembali.
Berbeda dengan Sean yang kalut dengan apa yang telah terjadi, Harras kembali memilih untuk menenangkan kembali pikirannya. Mencoba untuk tidak larut dalam perasaannya saat ini dan tetap berpikir rasional. Hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk membuat semua ini tidak sia-sia adalah melanjutkan kembali rencana awal.
Langkah tergesa-gesa terdengar dari lorong kapal. Jake muncul dengan nafas yang terengah. "Semua sudah kembali normal. Jay sudah menyetel ulang semuanya. Kita harus kembali ke aula!" Ujar Jake, tapi ia tersadar jika Steve tidak ada disana. "Steve... dimana Steve?" Tanya Jake kemudian.
Belum sempat Sean berbicara, Harras sudah mendahuluinya. "Dia sudah kembali ke aula. Lanjutkan kembali sesuai rencana. Kamu kembali ke area kemudi. Secepat mungkin kita harus sampai di pelabuhan sebelum subuh!" Titah Harras.
Ada rasa janggal dalam hati Jake, tapi ia tidak punya waktu. Semua harus kembali sesuai rencana. Jake kembali ke area kemudi, sedangkan Harras dan Sean kembali ke aula untuk melakukan sabotase.
"Lo ngga punya hati ya Har?! Kenapa rencana kita masih lanjut!?!" Desis Sean.
"Jangan buat kematian Steve sia-sia Sean! Kendalikan diri lo! Kita harus selesaikan ini semua sebelum sampai pelabuhan!" Sahut Harras.
Ada ketegangan di antara mereka. Sean tidak suka dengan cara Harras, tapi di di sisi lain Harras benar, tidak seharusnya mereka menyia-nyiakan pengorbanan Steve.
Pukul 21.00
Lampu kembali menyala. Keadaan di aula pun kembali normal, mereka semua kembali menikmati acara, sampai akhirnya suara berat dari Harras yang menggema di dalam aula menangkap atensi mereka.
"Selamat malam semuanya.." sapa Harras.
Bisik-bisik kebingungan dari para tamu terdengar. Mempertanyakan kemana perginya sang aktor utama—Sandiaga. Namun hal itu tidak membuat Harras mundur. Justru tekadnya semakin kuat untuk menjalankan semua rencana ini.
"Saya tahu kalian bingung dengan kehadiran saya malam ini.. acara yang seharusnya menjadi ajang dimana kalian akan ber-euforia menikmati uang hasil mencuri dari rakyat berubah menjadi sebuah pengakuan dosa.."
Kerumunan kembali ricuh dengan ucapan Harras, beberapa dari mereka menyentak dan menyangkal tuduhan dari Harras.
"Silahkan berteriak, mengelak, dan mencaci sepuas kalian.. karena malam ini adalah malam terakhir kalian sebelum cahaya kebenaran membakar setiap topeng yang kalian kenakan."
Satu detik hening. Harras menatap satu persatu wajah pucat semua orang di hadapannya saat ini.
"Dan sekarang," Harras kembali melanjutkan kalimatnya—nada suaradanya tajam tetapi tetap tenang. "Biarkan mata kalian menyaksikan dosa-dosa yang selama ini kalian tutupi dengan setelan jas dan senyuman palsu itu."
Setelah menyelesaikan pidato singkatnya, layar besar di belakang Harras menyala, sedetik kemudian satu per satu video mulai di putar. Wajah-wajah para pendosa pembohong rakyat terpampang dengan jelas, semua tokoh yang terlibat dari yang sangat terkenal hingga yang jarang sekali tersebut namanya muncul. Perbincangan soal perjanjian jangka panjang, keuntungan dalam berpolitik dengan memanipulasi rakyat, perintah untuk menyusupi para pendemo serta rencana pembungkaman pun terpampang dengan jelas. Data tentang kematian Ghea, penculikan band The Oz—Jake, Jay, dan Steve—hingga laporan korupsi atas proyek-proyek besar mengatasnamakan kesejahteraan rakyat terus terpampang disana.
Ruangan yang tadinya gaduh kini senyap. Mereka tahu jika kebohongan mereka telah terungkap. Mereka tahu jika hidup mereka telah hancur. Flash dari kamera reporter yang memang di susupi oleh Harras dan Sean lah yang sesekali mengisi suara di aula malam ini.
Di atas kapal pesiar yang begitu mewah, kebenaran terungkap.
Raungan yang selama ini menjadi panggung kemunafikan, kini menjadi ruang sidang tanpa pengampunan. Tagar #KebenaranDiLautan dan #TruthOnTheSea terus mencuat di seluruh platform menimbulkan atensi dari berbagai negara di luar Indonesia.
Di tengah samudra yang sunyi. Di atas kapal pesiar yang megah, tirai kebohongan akhirnya terbakar. Satu per satu dosa yang tersembunyi mencuat ke permukaan, membelah gelap yang selama ini menyelimuti tanah air.
Malam itu, cahaya kebenaran tidak hanya menyinari lautan, tetapi juga menyusup ke relung-relung negeri yang telah terlalu lama di bungkam.
Dan malam itu, sang Ibu Pertiwi tidak tertidur. Luka-luka yang sekian lama telah dibungkam akhirnya berteriak, bukan karena takut tetapi karena harapan baru mulai menyala kembali.
•••
Pukul 02.44 dini hari. Angin semakin dingin. Jake dan Jay yang berada dalam ruang kendali. Keduanya saling bertatap dan tersenyum lega. Tanpa perlu mengucap kata apapun, mereka berpelukan. Akhirnya.. akhirnya semua ini telah usai.. akhirnya mereka mendapat keadilan.
Di sisi lain, aula sedikit ricuh. Beberapa tamu yang datang telah di tahan oleh Polisi yang memang dibawa oleh Sean dan Harras, ada beberapa dari mereka yang menyangkal, ada yang pasrah, ada juga yang mendadak jadi gila.
Harras dan Sean duduk di podium, menatap kembali semua kerja keras mereka yang masih terus terputar di layar.
"Akhirnya.. gue bisa dateng ke makam Gloria Har," ujar Sean dengan senyum yang hangat.
Harras tersenyum, menepuk pundak Sean.
Seorang jaksa dan juga polisi menghampiri mereka—Jaksa Putri dan Inspektur Dian—keduanya tersenyum pada Harras dan Sean. Mengulurkan tangan untuk mengucapkan terimakasih.
"The war is over Har. Thanks," ucap Putri seorang jaksa yang sangat Harras kenal.
"Yeah.. thanks juga karena udah mau kembali percaya sama gue Put," jawab Harras menerima jabat tangan dari Putri.
"Untuk pencarian Steve dan Sandiaga udah di bentuk tim SAR gabungan dari Indonesia dan Singapura. Gue udah koordinasi sama KBRI juga, mereka yang bantu proses izin dan diplomasinya. Sekarang kita tinggal tunggu kabar dari laut," kini inspektur Dian yang berbicara dan mengulurkan tangan ke arah Sean.
"Thanks Di.. I hope i can see their bodies," ucap Sean penuh rasa syukur, menyambut uluran tangan Dian dengan hangat.
"I truly hope so too," jawab Dian.
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
B-SIDE || [COMPLETED]
Mistério / SuspenseMereka bukan siapa-siapa. Hanya anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang udah lama dipoles dari satu sisi: A-side. Rapi, penuh janji, tapi penuh kepalsuan. Tapi kebenaran nggak pernah diam. Ia tumbuh dengan pelan, sunyi, tapi pasti, tapi berada di sis...
![B-SIDE || [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/350911202-64-k465604.jpg)