Suara derap langkah yang terburu-buru membuat Jake dan Jay yang masih berada dalam area kemudi menoleh.
Brak!
Pintu area kemudi terbuka, Uncle Shua dengan nafas terengah dan wajah yang menegang langsung berbicara pada kedua lelaki yang saat ini tengah sibuk dengan tab dan juga laptop.
"Jake! Jay! Pergi ke ruang kontrol sekarang! Nyalakan kembali mesin!" Titah Uncle Shua.
"Live streaming-nya gimana Uncle?" Tanya Jake.
"Sampingkan semua itu dulu! Steve ngga di aula! Gue sama Han lagi cari dia! Lo berdua nyalain kembali mesin! Sekarang!" Setelah itu Uncle Shua langsung pergi.
Jake dan Jay menuju area kontrol dengan langkah tergesa.
Lampu cadangan berkedip samar. Lorong sempit kapal berbau oli dan besi terbakar. Suara langkah memecah keheningan setelah mereka melumpuhkan para penjaga yang juga memiliki tujuan yang sama.
Jay berlari paling depan—di dalam kepalanya saat ini hanyalah menjalankan semuanya kembali sesuai rencana—. Jake dibelakangnya mencoba untuk menyusul, namun ia teringat sesuatu. "JAY! GUE SERAHIN SEMUANYA SAMA LO!" Teriak Jake, tanpa menjelaskan apapun dan pergi ke sisi yang berlawanan.
"WOY!! LO MAU KEMANA?!!" Teriak Jay. Namun terlambat karena langkah Jake sudah menjauh. "Shit!" Umpat Jay lalu melanjutkan ke langkahnya menuju are kontrol.
Jay sampai di depan ruang kontrol cadangan, tapi ia tidak langsung masuk. Jay melihat Gina sedang berdiri tidak jauh darinya.
Gina berdiri disana dengan tubuh yang membelakangi Jay, tangannya kanannya memegang sebuah pemicu hitam kecil. Penutup merahnya sudah terbuka dan jarinya melayang-layang di atas tombol merah yang terkutuk itu. Jay sangat tidak asing dengan benda tersebut.
"Gina.." panggil Jay pelan, ada keraguan terselip di suaranya—berharap jika apa yang sedang ia pikirkan salah—.
Gina menolehkan kepalanya, terkejut melihat Jay berada disana.
"Gin.. lo jangan coba-coba.." Jay menatap ngeri tangan kanan Gina yang sedang memegang pemicu.
Tatapan mata Gina gelap. "Gue harus mastiin semuanya selesai malam ini."
"Steve yang nyuruh lo?"
"He tolds me to do this when you're plan fucked up!"
"Tapi rencana kita ngga gagal Gin.. setelah gue nyalain kembali semuanya-"
Gina berdecak dan tertawa meledek. "Ngga gagal? Are you blind?! Semua rencana lo gagal! Lampu padam! Ayah lo kabur! Siaran lo gagal! Kalau gue ngga melakukan ini sekarang, kapan lagi?!" Ujar Gina sama frustasinya dengan Jay saat ini.
"Siapa yang tahu hal ini selain lo?" Tanya Jay.
"I guess..." Gina menggantungkan kalimatnya, seakan-akan sedang mempermainkan Jay. "your other best friend."
"Jake?" Ucap Jay pelan. Sesaat ia merasa terkhianati karena kedua sahabatnya menyembunyikan ini semua darinya.
Tiba-tiba suara langkah berat dari luar lorong terdengar. Empat perempuan yang sudah Jay kenal beberapa jam lalu masuk ke area lorong depan ruang kontrol. Mereka berdiri di belakang Gina.
"Gina. It's time to go home," ucap Tia.
Gina menoleh ke arah sumber suara yang ada dibelakangnya—terkejut melihat kelompoknya datang. "Kak Tia?!"
"Gina. Cukup sampai disini keterlibatan kita," sahut Aca.
"NGGA! BELUM!" Teriak Gina histeris sambil menodongkan pistol ke arah kelompoknya dan pemicu bom ke arah Jay.
Mereka semua mundur sedikit untuk memberikan Gina ruang. "Aku.. aku belum bisa pulang sebelum semua ini selesai... sebelum kak Ghea mendapat keadilannya..." ujar Gina dengan suara rendah.
Jay mencoba untuk menenangkan Gina. Ia perlahan berjalan maju ke arah Gina, dengan fokusnya pada pemicu bom yang ada di tangan kanan perempuan itu. "Gina.. gue ngerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayang tanpa mendapat keadilan.. i know you're gonna do everything for your sister, tapi ngga dengan cara begini.."
Gina menatap nanar ke arah Jay. Matanya memerah karena menahan air mata dan amarah. "LO TAHU APA?! LO NGGA TAHU GIMANA RASANYA HARUS DIPAKSA UNTUK DI PISAHKAN DARI SATU-SATUNYA ORANG YANG PEDULI SAMA LO!"
"You're wrong, Gin! We are the ones who understand your feelings better than anyone else," Jake datang dari arah belakang Jay. Terlihat begitu kelelahan tapi juga sorot matanya lega, seperti ada misi tersendiri yang telah lelaki itu selesaikan.
"I still have to do this. He asked me to do this!" Gina hendak menekan tombol pemicu tersebut.
Jake tahu jika ia harus bertindak sekarang. Dengan gerakan cepat, Jake melepas jam tangannya dan melempar keras ke arah tangan Gina hingga remote pemicu itu terlepas dari genggaman tangannya—terhempas ke lantai dan meluncur entah kemana.
Gina tertegun, mematung. Matanya membulat dan napasnya tercekat.
Jake mendekati Gina, memegang bahu perempuan itu untuk menenangkannya. "Lo anak baik Gin.. for your sister, for us.. akan kita pastikan, Ghea mendapat keadilannya."
Gina jatuh berlutut. Tangisnya pecah. "Gue.. gue cuman mau berbalas budi buat kakak gue... gue mau ngelindungin dia untuk yang terakhir..."
Jake langsung memberi isyarat pada Jay untuk segera menyalakan kembali mesin.
Jay masuk kedalam ruang kontrol dan mesin akhirnya kembali menyala.
Kini mereka semua dapat melihat dengan jelas bagaimana berantakannya Gina, perempuan muda itu terlihat begitu rapuh dan cukup mengenaskan.
Salah satu anggota termuda dari kelompok itu menghampiri Gina dan merangkulnya. "Ayo kak.. udah waktunya kita pergi."
Untuk kali terakhir, Gina menatap ke arah Jake dan Jay—tersenyum, seakan mengucapkan kata terimakasih. Jake dan Jay menganggukkan kepala mereka dan membalas senyuman Gina.
•••
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan semuanya.
Ketika keadaan kembali normal, orang itu mengambil alat pemicu bom yang terselip diantara celah pintu, lalu menekannya.
Dan
Sekitar pukul 20.30 terdengar ledakan dari dek di belakang kapal.
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
B-SIDE || [COMPLETED]
Mystery / ThrillerMereka bukan siapa-siapa. Hanya anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang udah lama dipoles dari satu sisi: A-side. Rapi, penuh janji, tapi penuh kepalsuan. Tapi kebenaran nggak pernah diam. Ia tumbuh dengan pelan, sunyi, tapi pasti, tapi berada di sis...
![B-SIDE || [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/350911202-64-k465604.jpg)