"Bagaimana?" Pertanyaan Harras membuat Jake semakin larut dalam pikirannya.
"Kita tetap pada rencana, aku sudah muak dengan segala omong kosong lelaki tua itu," jawab Jake akhirnya.
Harras menganggukkan kepala. "Kalo udah selesai, ayo balik, kasian sahabat lo pasti pada laper nungguin kita bawa makanan," Harras bangkit dari duduknya, lalu berjalan lebih dulu dari Jake.
Jake tidak tahu apakah keputusannya ini tepat atau hanya akan menambah luka yang semakin dalam di hatinya, namun dengan cara ini mungkin bisa membuat sang Papa menyadari apa yang telah dilakukan olehnya kepada keluarga mereka dulu.
Sampai di rumah, Harras memanggil tiga orang lelaki yang sudah menunggu kedatangan mereka. Sedangkan Jake memilih untuk masuk kedalam kamar.
Jake memandang langit-langit kamar sambil melakukan lempar-tangkap dengan bola tenis yang entah darimana ada di dekat kasur Jay.
Pikirannya kalut dengan apa yang tadi sedang terjadi. Jake masih ragu dengan keputusannya, namun ia juga tidak bisa menunda lagi karena rencana mereka akan berlangsung tiga hari lagi.
'Bagaimana dengan nasib remaja perempuan itu jika aku membuat mengambil keputusan ini?'
'Apakah keputusanku sudah benar? Aku sangat takut jika aku akan menyesali keputusanku hari ini.'
Ketika sedang asik dengan pemikirannya, bola tenis yang tadi dilempar Jake ditangkap oleh Jay.
"Bengong aje lo," ucap Jay.
Jake merubah posisinya menjadi duduk, menatap kedua sahabatnya yang sedang memegang slice pizza ditangan mereka. Jake tersenyum, lalu tertawa kecil, membuat Jay dan Steve merinding. "Lo kesurupan?" tanya Steve.
Jake menggelengkan kepala, tanpa berhenti tersenyum.
"Oh ya, ada yang mau di bicarain sama lo," ucap Steve lalu mendorong Jay mendekat kearah Jake.
"Kenapa lo berdua? Takut bener gue liat-liat," ujar Jake berusaha mencairkan suasana.
Jay langsung berlutut sambil menundukkan kepalanya, membuat Jake bingung. "Gue minta maaf banget sama lo, apalagi kita udah sejauh ini..." ucap Jay tanpa mendongakkan kepalanya.
"Apaan sih anjir? Jangan ginilah," Jake berusaha membangunkan Jay, namun lelaki itu bersikukuh dengan posisinya.
"He leaves,"
Dua kata itu cukup untuk membuat Jake paham dengan situasi mereka saat ini.
Entah mengapa Jake tidak merasa sakit hati sama sekali dengan keputusan Jay, justru hatinya merasa senang bahwa akhirnya ada salah satu diantara mereka yang memiliki kehidupan normal.
"I'm so sorry abou-"
"Don't feel sorry for your decision. Gue tahu ngga mudah buat lo ninggalin kita, tapi gue juga happy karena akhirnya lo mendapat kehidupan yang normal. Setidaknya ada salah satu diantara kita yang akhirnya punya hidup normal," jawab Jake.
"Lo ngga marah? Lo ngga kecewa?" Tatapan Jay saat ini terlihat menggelikan, tapi Jake mengidahkan hal itu, menurutnya ini tatapan tertulus dari Jay yang pernah Jake lihat selama mereka bersama.
Jake menggelengkan kepala. "Gue justru happy banget asli, gue tunggu lo punya istri terus gue punya ponakan," jawab Jake dengan nada bercanda.
"Kan, udah gue bilang Jake ngga bakal marah, justru kita happy karena lo bisa ngerasain hidup normal dan kita akhirnya nanti bisa kondangan," timpal Steve yang kini terduduk di ujung kasur.
"Baru juga hubungan gue baik sama bokap anjir, lo pada mikir kejauhan," balas Jay.
"Doa bagus itu bodoh!" Sahut Jake, memukul pelan sahabatnya ini.
"Jadi lo bakal pergi dari sini?" tanya Jake kembali.
Jay menganggukkan kepalanya. "Nanti malem The Uncles nganterin gue kerumah bokap," ucapnya.
"Have fun deh pokoknya, kita tunggu wedding invitation dari lo pokoknya," sahut Steve menepuk pundak Jay.
"Setuju gue!" timpal Jake.
"Lo berdua hidup aja dulu! Awas lo kalo sampe mati duluan!" ucap Jay kepada kedua sahabatnya.
"Gampang, nyawa kita kan ada sembilan," canda Steve.
Sore itu ketiga sahabat ini menghabiskan hari terakhir mereka bersama-sama, tidak ada yang spesial, tapi bagi Jay, Jake, dan Steve semua yang mereka lakukan akan menjadi memori yang sangat bermakna.
•••
Ketika hari sudah cukup larut, The Uncles mengantar Jay untuk kembali dengan keluarganya. Tinggallah Jake dan Steve di rumah saat ini.
"Jake, ada yang mau gue tunjukin," ucap Steve sambil berlalu memasuki rumah.
Jake hanya menurut dan mengikuti Steve, sampai mereka di kamar, Steve mengeluarkan tas dari lemari dan menyingkap sesuatu yang selama ini ia tutupi.
Betapa terkejutnya Jake saat melihat benda dihadapannya saat ini, bom.
"Lo inget rencana awal kita kan?" Ucap Steve.
"Sebelum rencana kita mulai, gue akan meletakkan bom ini di beberapa titik, pemicu ini gue yang akan pegang. Sedangkan lo, pegang pemicu ini," Steve menunjuk sebuah tongkat kecil dengan tombol diatasnya yang berwarna biru.
"Lo gila?! The Uncles udah punya rencana! Bahkan disana ada media untuk meliput! Ngga, gue ngga mau ngorbanin orang-orang yang ngga bersalah. Dan gue ngga mau mengorbakan lo!" tolak Jake dengan sangat keras.
"Jake, kita ngga pernah tahu apa yang terjadi! Tujuan kita menghancurkan ayah dan antek-anteknya! Jika gue harus berkorban, akan gue lakukan!" Balas Steve tidak kalah keras kepala dengan Jake.
"Cukup dengan semua rencana gila itu! Gue percaya sama The Uncles!"
Steve yang emosi, menarik kerah baju Jake dan memojokkan ke dinding. "Do not trust anyone," ucap Steve dengen menekankan kalimatnya.
"Listen! Execution doesn't always smooth, we should have a backup plan, and this is our backup plan! It's also your idea! You're not sure about your own idea?!"
"Gue udah bilang dari awal! Rencana B gue buat untuk keadaan genting! Dan yang akan melakukannya itu adalah gue! Bukan lo, Jay! Or anyone else! But Me!" Balas Jake.
"I don't care about your opinion. Gue akan melakukan sesuai rencana awal kita,"
Baru kali ini Jake menghadapi sifat keras kepalanya Steve. Tidak pernah sebelumnya, lelaki berkulit putih pucat ini begitu keras kepala. Apa mungkin karena ini satu-satunya peluang mereka untuk terbebas dari semua siksaan yang selama bertahun-tahun mereka hadapi?
Jake menghela nafas kasr. "Okay! Tapi semuanya harus salam arahan dan perintah gue!" Pinta Jake.
"Apa?"
"Sebelum gue memberikan perintah, lo ngga boleh menekan tombol pemicu merah itu. Paham?"
"Deal!"
Steve dan Jake saling menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda perjanjian yang tidak boleh dilanggar.
Jake tahu jika tidak menuruti permintaan Steve, lelaki itu benar-benar akan menghancurkan segalanya. Setidaknya lebih baik untuk saat ini Jake mengiyakan permintaan Steve dan Jake akan memastikan kalau ia tidak akan pernah memakai rencana B yang dibuatnya.
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
B-SIDE || [COMPLETED]
Misterio / SuspensoMereka bukan siapa-siapa. Hanya anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang udah lama dipoles dari satu sisi: A-side. Rapi, penuh janji, tapi penuh kepalsuan. Tapi kebenaran nggak pernah diam. Ia tumbuh dengan pelan, sunyi, tapi pasti, tapi berada di sis...
![B-SIDE || [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/350911202-64-k465604.jpg)