Mereka menginap sampai beberapa hari karena hal yang tak terduga yaitu Pak Poernomo berpulang keesokan harinya.
Dan hari ini setelah tujuh hari kematian Pak Poernomo mereka akan baru pulang.
Tapi mereka ditahan dulu karena ada pertemuan dengan pengacara Pak Poernomo yang menjelaskan tentang surat wasiat berikut warisanya.
"Gak bisa! Aku gak setuju!" Dewi berkacak pinggang saat mendengar kalau bagiannya tak jauh beda dengan Ryan. "Dia ini kan anak haram. Seharusnya dia gak berhak waris!" teriak Dewi sambil menunjuk-nunjuk wajah Ryan.
Rina yang hendak angkat bicara dilarang Ryan dengan menggenggam tangannya.
"Tapi ini isi dari wasiat mendiang Pak Poernomo, bu Dewi." jelas pengacara.
"Dengan mengibahkan universitas Poernomo buat dia aja sudah bersyukur harusnya!" Dewi masih berbicara dengan nada tinggi.
"Tidak bisa begitu Bu, ini-"
"Sudahlah pak Sutopo. Saya Adryan setya, mengibahkan warisan bagian saya kepada Ibu Dewi, semuanya." Adryan berdiri dan otomatis Rinrina juga ikut berdiri karena tangan mereka masih bertautan.
"Apa? Mengibahkan?" Dewi tertawa meremehkan. "Heh anak haram! Emangnya situ siapa berani bicara begitu."
"Ryan mungkin memang anak haram, tapi Ryan punya etika dan sopan santun. Sedangkan Kak Dewi, putri dari istri sah keluarga konglomerat tapi tidak punya etika sama sekali." Dewi dibuat syok dengan balasan Adryan. "Kita pulang sekarang. Kak Adnan dan semuanya. Ryan dan Rinrina pamit pulang."
Setelah mengatakan itu Ryan menarik tangan Rina keluar rumah agak tergesa.
"Mas mas mas!" panggil Rina dan Ryan menghentikan langkahnya setelah diluar.
"Kenapa?" tanya Ryan yang nafasnya memburu mungkin karena masih emosi.
"Pelan-pelan jalannya aku bisa jatuh nanti, ini juga jangan erat-erat sakit." Ryan baru sadar jika ia membawa istri yang tengah hamil besar dan juga mengenggam erat pergelangan tangan Rina sampai memerah.
Melihat itu ia langsung mengusap pergelangan yang memerah itu dan memeluk Rina. Tangan yang satunya ia pakai untuk mengelus kepala Rina.
"Maaf, maafin Mas ya." ucap Ryan.
Tangan Rina mengelus punggung suaminya dengan sayang. "Aku ngerti perasaan Mas sekarang. Mas juga pasti sedih karema kakak Mas begitu sama Mas kan?"
"Mas gak peduli tentang itu. Mas cuma malu sama kamu, harusnya emang kita gak datang kesini. Kamu dan anak-anak-anak kita sampai harus mendengar omongan yang gak pantes tentang Mas dari mulut dia." ucap Ryan sedikit bergetar.
"Aku aja yang denger emosi apalagi anak-anak-anak kita, mereka juga pasti emosi dengan Pipih nya dikatain begitu. Biadab banget emang."
"Eeh."
Ryan melepaskan pelukannya dan membungkam mulut Rina.
"Gak boleh ngomong begitu, nanti mereka denger." tunjuk Ryan ke perut Rina.
"Hehe iya. Maaf Mas keceplosan, emosi soalnya." cengenges Rina.
"Jangan ngomong begitu lagi ya." Rina mengangguk berjanji. "Yuk pulang."
***
Ryan yang beres mengurus administrasi itu bergegas pergi ke ruang rawat inap Rina dengan tergesa.
Yah, karena Rinrina hamil anak kembar tiga dokter menyarankan untuk lahiran sesar, kalau lahiran normal bisa beresiko kepada ibunya yang tak selamat dan resiko lahir tak selamat juga pada bayinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Om, Eh Suami
Romance|| •Rinrina ♥ Adryan• || Author kasih rate 18+ ya!! // Rinrina harus bertahan di pernikahannya dengan Adryan yang 10 tahun lebih tua darinya karena ternyata ia hamil Start : 1 juni 2023 Finish :
