Ketika atlet taekwondo, kapten basket, pro-gamer, professional dancer, Yuda Aryasatya suka sama jamet modelan Melvin Virendra si wibu yang terkenal kutu buku, cupu, penakut, cowo lembek seantero kampus. Badannya gede tapi cupu, tapi siapa sangka ter...
Yuda sama Melvin beserta orang tuanya dateng ke rumah duka. Yuda dipapah sama Melvin dan mamanya soalnya Yuda gemeteran. Waktu mereka masuk dan ngeliat peti jenazah yang dibuka pun tangisan Yuda pecah. Akhirnya dia bisa ketemu sama orang tuanya dan adeknya setelah sekian lama, walaupun dalam keadaan mereka udah meninggal. Seenggaknya Yuda bida ketemu sama meraka buat terakhir kalinya. Ini juga pertama kalinya dia ketemu adeknya.
"Ma.. Pa.. Yuda disini, Dek ini kakak." Suara Yuda getar sambil nahan sesenggukkan.
"Maafin Yuda ya ma, pa, dek kalo Yuda punya salah sama kalian hiks. Yuda seneng ketemu kalian, setelah sekian lama hiks Yuda akhirnya bisa ketemu sama mama dan papa. Yuda juga bisa ngeliat adek Yuda hiks. Ma.. Pa.. Yuda kangen hiks. Yuda ga punya siapa-siapa lagi. Hiks keluarga Yuda udah abis ga tersisa hiks." Yuda kakinya lemes nyaris pingsan, untung ditahan sama Melvin sama mamanya.
"Vin.. Kamu bawa Yuda keluar dulu ya. Ini biar mama sama papa yang bantu urus. Kamu tenangin Yuda dulu." Melvin manggut.
Melvin bawa Yuda duduk disudut ruangan sambil melukin Yuda. Yuda sesenggukkan dan baju Melvin sampe basah sama air mata Yuda tapi Melvin diem aja. Dia tau ini berat buat Yuda. Melvin ga ngomong apa-apa, dia cuma ngusapin punggung Yuda, berharap Yuda bisa sedikit lebih tenang.
Melvin ngusap air mata Yuda sambil ngelapin ingus Yuda. Melvin ngecup kening Yuda dan eratin pelukan dia. Ga lama mama sama papa bilang kalo temen-temen mereka dateng. Melvin bilang biar mereka ngelayat dulu aja, sambil nunggu Yuda biar tenang dulu. Mama sama papa ngeiyain. Pelan-pelan Yuda udah mulai tenang. Yuda coba buat ikhlasin kedua orang tuanya sama adeknya.
"Vin.."
"Iya sayang?"
"Mau ke tempat mama, papa sama adek. Mau foto buat terakhir kalinya." Melvin manggut.
"Bisa bangun?" Yuda manggut. Dia bangun dan dia jalan sambil melukin lengan Melvin.
Disana udah ada Harvey dan yang lain beserta orang tua Melvin. Yuda ngasih HPnya ke Melvin buat fotoin dia sama keluarganya terakhir kali sebelum sebelum di kremasi. Yuda pose deket peti mati keluarganya dan Melvin fotoin. Jujur, Melvin gemeteran pas ngefotoin, ga kuat liatnya, tapi demi Yuda akhirnya Melvin bisa dapet hasil yang bagus.
Setelahnya keluarga Yuda di kremasi. Yuda cuma natap nanar keluarganya yang akhirnya di kremasi. Air matanya udah kering, dia udah ga bisa nangis. Yuda cuma bisa ikhlas. Mamanya dan papanya Melvin deketin Yuda dan mereka meluk erat Yuda.
"Kuat ya nak ya. Tante sama om bakal selalu ada buat kamu." Mamanya Melvin malah yang nangis.
"Makasih banyak tante, om." Ucap Yuda lirih.
"Nak Yuda, sekarang anggap aja om sama tante orang tua kamu ya. Kalo ada apa-apa bisa kabarin om sama tante dan ada Cantika juga, anggap aja Cantika adek kamu ya. Liat nih, semua yang disini sayang sama nak Yuda. Nak Yuda ga sendirian." Papanya Melvin meluk erat Yuda, nyesek papanya Melvin liat Yuda kayak gini. Harvey dan yang lain sampe nangis.
"Kuat ya nak ya." Mama dan papanya Melvin nyiumin Yuda udah kayak anaknya sendiri.
"Yud.." Itu Willy.
"Makasih ya kalian udah dateng." Yuda senyum. Willy sedih liat Yuda tegar banget. Willy sama yang lain melukin Yuda.
"Yud, lu ga sendirian. Lu punya kita semua." Ucap Yesa.
"Iya bang Yud. Kita semua sayang sama lu." Ucap Junot.
"Ikhlas ya Yud. Biar mendiang orang tua sama adek lu tenang disana." Satya ngusap kepala Yuda.
"Kalo ada apa-apa lu bisa bilang sama kita ya Yud." Yuda manggut ke Harvey.
"Lu kuat Yud. Semangat ya Yud." Sakti nepok pundak Yuda, Yuda manggut.
"Yud, lu bestie gua. Kalo ada apa-apa please kasih tau gua. Gua bakal bantu lu apapun itu." Yuda manggut. Willy ngusap punggung Yuda.
Melvin cuma ngeliatin Yuda yang lagi ngobrol sama temen-temennya. Papa dan mamanya Melvin melukin Melvin. Mereka tau ini juga berat buat Melvin karena dia yang nemenin Yuda dari awal.
"Terus di samping Yuda ya nak. Kalo bukan kamu siapa lagi yang bisa jagain Yuda." Ucap mamanya Melvin.
"Papa tau kamu sesayang itu sama Yuda. Pasti ini juga berat buat kamu liat Yuda sedih begitu. Semangat nak. Papa selalu dukung kamu sama Yuda. Papa bangga sama kamu Vin. Kamu udah ngelakuin yang terbaik. Yuda pelan-pelan udah bisa ikhlasin orang tuanya. Kamu laki-laki yang bertanggung jawab Vin." Ucap papanya Melvin.
"Makasih okasan, otousan. Melvin bisa begini juga karna okasan sama otousan yang sering ngingetin Melvin. Dan kehadiran Yuda di hidup Melvin juga sedikit banyak ngasih Melvin pelajaran. Melvin banyak belajar dari Yuda. Yuda ga lemah, Yuda kuat. Cowok paling kuat di mata Melvin itu Yuda. Dia hidup jauh sama keluarga dari kecil dengan segala kesulitan yang dia hadapin tapi dia masih bisa jadi anak berprestasi, ga neko-neko. Prinsip Yuda kuat, makanya Melvin juga harus bisa punya prinsip kuat kayak Yuda. Okasan, Otousan.. Melvin setelah selesai kuliah, boleh ga nikahin Yuda?" Mama dan papa Melvin kaget. Hah?? Secepet itu??
"Vin.. Tapi kamu belum kerja. Mau ngehidupin Yuda gimana??"
"Melvin dapet tawaran kerjaan jadi analis laboratorium di Jerman. Melvin bakal bawa Yuda kesana." Eh???
"Hah?? Kok kamu baru bilang??" Papanya Melvin shock.
"Selesai olimpiade kemarin, waktu Melvin ngasih tugas ke ruang dosen, dosen Melvin bilang kalo temennya yang kerja di Jerman ngasih tawaran kerja buat Melvin disana jadi scientist." Jawab Melvin.
"Apa nama laboratoriumnya?" Tanya papanya Melvin.
"Roche." Jawab Melvin.
"Oke papa setuju." Mamanya Melvin kaget. Roche? Itukan salah satu laboratorium terbaik di Eropa.
"Oke mama setuju. Tapi kamu harus obrolin dulu sama Yuda. Apapun keputusan Yuda kamu terima, kamu ga bisa maksa Yuda ya nak." Melvin manggut.
Hari itu Yuda, Melvin, orangtua Melvin, Harvey dkk nunggu di rumah duka sampe proses kremasi selesai dan mereka simpen abunya di columbarium. Mereka berdoa buat terakhir kalinya sebelum pergi ninggalin rumah duka. Yuda udah keliatan tegar, dia udah ikhlasin semuanya. Sekarang dia mau jalanin hidupnya bareng sama Melvin dan temen-temennya juga keluarga Melvin. Ini udah takdir, Yuda ga mau berlarut-larut dalam duka berkepanjangan.
"Vin.."
"Iya sayang?"
"Laper. Tadi makan dikit doang. Disana makan rasanya ga ketelen."
"Yaudah nanti kita makan ya. Cantika juga pasti udah nungguin di rumah, kita makan sama-sama oke?" Yuda manggut. Melvin ngecup kening Yuda. Mama sama papanya Melvin berasa jadi nyamuk, duduk di belakang ngeliatin dua sejoli di depannya ini. Tapi disisi lain mereka lega, Yuda udah baik-baik aja, Melvin juga ternyata udah dewasa. Dibalik kewibuannya ada sosok dewasa yang sigap. Walaupun Melvin aneh, tapi ketika dia serius, Melvin bener-bener bisa diandelin.
Tbc Hai happy reading ya Jangan lupa vote dan comment (*'︶'*)♡Thanks! -voyez
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.