Baca aja
Cuma kumpulan cerita receh mas (m/n) yang di penuhi kegilaan penghuni kostnya dan tetangganya.
"Mas suka kucing gak?" -Yukimiya Kenyu
"Suka, apalagi yang manis." -✨
"Kok pake beliin kue segala?" -Oliver Aiku
"Selamat ulang tahun ya." -✨
"Pi...
Dinginnya udara pagi ini berbanding terbalik dengan hangatnya wajah seorang Yukimiya setiap matanya memandang (m/n). Kos Zoo yang biasanya diisi suara heboh melebihi konser Blackpink pagi ini terasa lebih tenang, mungkin sebab masih jam 05.30 pm dan mayoritas masih pada turu.
Suara detak jantung Yukimiya berpadu dengan suara dentingan gemrisik daging ayam yang digoreng (m/n) . Mata Yukimiya mencuri pandang sosok tegap yang sibuk memasak itu, yang membelakanginya. Bahkan teh di tangannya sudah tak panas lagi lantaran terlalu sibuk memandang sang pujaan.
Perasaan sukanya yang tumbuh dihati bukan semata cinta pada pandangan pertama, meski memang seorang (m/n) selalu mengundang decak kagum instan. Namun perasaan yang tumbuh itu tumbuh ketika saat mencari loker waktu itu, sudah agak lama namun kenangannya masih tersimpan dalam benak. Eaa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ingin sekali rasanya Yukimiya mengungkapkan perasaannya yang meluap-luap itu, namun apalah daya dirinya —
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Masalahnya, (m/n) itu bukan cowok sembarangan. Dia dewasa, mapan, punya prinsip, segala act of service diembat, ganteng pula, mines ditidur dan perilaku yang tidak bisa ditebak. Bisa masak, jahit sambil menjelaskan fisika kuantum.
Bahkan kucing Yukimiya— Uki pun tau (m/n) cowok idaman dan babunya itu suka, makanya hampir tiap malam kucing berbulu mujair itu tidur di kamar (m/n). Mau jadi mak comblang.
Terpikirkan dan sudah menyusun kata demi kata untuk confess sehari semalam malah hilang begitu sang pujaan di depan mata. Hal kecil yang dilakukan (m/n) selalu sukses membuat jantung miliknya berdetak tak karuan.
Contohnya sekarang ketika (m/n) memasak sambil berjoget ria diiringi lagu koplo. Apalagi ketika (m/n) mengajaknya mengobrol kemarin malam meski pada akhirnya harus berakhir karena dua anomali mengganggu.
Kemarin malam,
"Mas suka kucing gak?" tanya Yukimiya, tak berani menatap pria di sampingnya apalagi sekedar melirik, hanya bisa menunggu jawaban sambil mengelus-elus Uki di pangkuannya.
"Mmm... suka, apalagi yang manis." jawab (m/n), langsung menoleh untuk menatap Yukimiya dengan lesung pipi yang terlihat karena senyumannya.
Sedikit demi sedikit warna merah menghiasi pipi Yukimiya begitu jawaban keluar dari mulut (m/n). Masih malu untuk melihat (m/n), memilih untuk tetap menundukkan kepala menatap dan mengelus Uki.
"Kalo gitu, Uki manis gak?" tanyanya lagi.
"Manis banget, anaknya juga nurut. Jadi gemes." balas (m/n) agak cepat. Tangannya ikut mengelus makhluk berbulu tersebut yang langsung merespon. Padahal tadi sepertinya tidur.
Entah mengapa Yukimiya sedikit kesenengan mendengar jawaban (m/n).Mungkin karena sama-sama Uki.
Melihat tangan (m/n) yang mengelus Uki yang di pangkuannya. Lebih besar dari tangannya, uratnya menonjol semua, tipe tangan cowok seksi.
Mereka mengobrol santai tanpa beban, damai, aman sentosa. Sampai dua makhluk ciptaan Tuhan yang kelakuannya membuat ingin mempertemukan mereka dengan Tuhan lebih cepat. Siapa lagi kalau bukan Shido dan Otoya.
"Mas (m/n)!!!" Otoya berlari ke arah (m/n) dan langsung memeluk pria itu dari belakang, membuat (m/n) yang tubuhnya belum siap menanggung beban, apalagi beban orang tua, menjadi oleng dan membungkuk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Krek. Suara pinggangnya yang keseleo akibat beban dadakan, ia meraih lengan Yukimiya tanpa mampu menegakkan badan. Suaranya lirih dan tangannya gemetar, Yukimiya menjadi panik.
"Kenapa, mas?" tanya Yukimiya dengan kepanikan melanda.
Si pelaku— malah tak peka dan plonga-plongo. Shido baru datang menatap bingung tapi mukanya seperti mengejek.
"Pinggang... sakit... Otoy– khk..." ungkap (m/n) dengan suara lirih.
Hmm, balung tuo. Sakne.
• • • • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.