16. Overthinking

271 28 37
                                        

"Aku malu padamu."

Taehyung membawa Sujin ke kafe setelah mereka keluar dari toko itu, sesaat lalu Sujin memberinya penjelasan. Taehyung memahami mengapa sang istri begitu sangat marah, sampai-sampai menangis di sana. "Aku tidak keberatan kalau ibumu minta uang dariku."

Sujin mendesah, menggenggam minumannya di atas meja. Mereka duduk berhadapan, mata Sujin bahkan masih merah karena habis menangis. "Tapi, ini 1 milyar!"

Untuk orang awam nominal itu pasti terdengar fantastis, tapi baginya itu bukan apa-apa. Taehyung sudah sering mendengar nominal itu, bahkan penghasilannya dalam sebulan bisa berlipat-lipat sampai rasanya jumlah itu seperti terdengar biasa saja di telinganya. "Tapi aku tidak keberatan."

Sujin diam sebentar, tidak lama setelah itu kembali membuka suara. "Dengan cara apa aku mengembalikannya?" Alis Sujin melengkung, tersorot kegelisahan dari matanya.

Sambil mengulas senyum, Taehyung mengaduk minumannya dengan sedotan. Lucu sekali Sujin ini. Padahal mereka suami istri, Taehyung bahkan tidak sedang menawari hutang. "Dengan tubuhmu, telanjang, dan-aww." Sujin mencubit lengannya. "Hanya bercanda."

Sujin cemberut, mungkin di mata Taehyung terlihat menggemaskan sampai pria itu maju untuk mencium bibirnya. Hanya kecupan sebentar, tetapi mampu membuat Sujin melotot kaget, dan malu. "Hei, kita ditempat umum."

"Memangnya kenapa?"

"Cuma tidak sopan saja, dilihat orang." Hari ini Sujin memakai baju kebesaran, perutnya nyaris tidak ketara sedang hamil. Orang-orang di sekitar mereka pasti mengira mereka pasangan yang belum menikah, sebab Taehyung pun hari ini memakai kaus polos dibalut kemeja yang kancing-kancingnya dibiarkan terbuka. Mereka terlihat seperti anak kuliahan.

"Siapa peduli." Mendengar itu justru malah membuat Taehyung beri kecupan singkat sekali lagi.

Sujin tidak protes seperti sebelumnya, ia diam sebentar karena menyadari sesuatu. Ia mencium aroma parfum yang berbeda ketika Taehyung maju untuk menciumnya tadi, wangi itu bukan aroma parfum milik Taehyung di rumah, terasa agak lembut, seperti wewangian perempuan, dan jelas-jelas ini bukan miliknya.

"Tidak perlu dipikirkan, berhentilah bersedih. Masalahmu selesai, aku akan transfer uangnya sekarang. Oke?" kata Taehyung setelah aksinya barusan.

Melupakan pertanyaannya sejenak, Sujin ingin betul-betul berterima kasih, dan agak malu. Bahkan ketika mereka menikah Sujin tidak berani meminta pernikahan yang terlalu elit. Namun, ibunya perempuan mata duit, tahu menantunya kaya raya, Jang Mihae tidak menyia-nyiakannya. Akhirnya Sujin mengangguk, tapi tidak berani menatap Taehyung karena malu.

"Ganti parfum ya?" Terlepas dari masalahnya, Sujin penasaran oleh yang satu ini. Maksudnya, aroma itu bukanlah tipikal aroma yang akan dipakai Taehyung. Sujin penasaran, alasan kenapa jika tiba-tiba si bungsu Kang itu mau memakainya.

Menyadari sesuatu Taehyung langsung menciumi bahunya sendiri. Sial, pasti parfum Hyewon menempel di tubuhnya. Mengingat mereka berpelukan dan melalukan ciuman cukup lama. Ia tahu Hyewon memakai parfum mahal, kualitasnya berbeda, baunya tidak gampang luntur. "Ahh.." sahutnya agak panik. "Aku mencoba beberapa parfum di toko tadi."

"Tapi ini bau perempuan."

"Tadinya mau kubelikan untukmu."

"Benarkah? Mana sekarang?" Sujin mengalihkan perhatiannya pada tiramisu, lalu memotong kue itu dengan garpu kecil.

"Tapi aku tidak jadi membelinya, aku lebih suka parfummu yang sekarang." Bagus, Sujin percaya kebohongannya. Tapi, ia serius ketika bicara soal suka, daripada parfum mahal yang dipakai Hyewon ia lebih suka aroma parfum sakura yang mengguar dari tubuh istrinya. Taehyung tahu Sujin membelinya di toko isi ulang, harganya bahkan tidak sampai 100 won, tapi rasanya, wangi itu terasa lebih menarik.

Senoparty Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang