19. What is coming next?

297 47 25
                                        


Sujin memperhatikan kondisi nyonya Sonja, wanita itu terlihat baik-baik saja meski memakai baju rumah sakit dan duduk di atas ranjang pasien. Karakternya masih terlihat ceria, bugar dan penuh semangat, Sujin senang sewaktu nyonya Sonja melahap potongan melon yang baru ia kupas.

"Dokter mencukur rambutku, lihat sekarang aku harus pakai kupluk sampai rambutku tumbuh kembali." Karena tumor di kepalanya harus dioperasi, wanita paruh baya itu harus terpaksa kehilangan rambut panjangnya. Daripada rasa sakit, itulah yang terus-terusan dikeluhkan nyonya Sonja, setidaknya Sujin mengerti ibu Jungkook tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Tipikal, wanita penuh semangat dan enerjik.

Dulu sebelum tumornya semakin ganas, Jungkook dan ayahnya sering membujuk nyonya Songja untuk operasi. Nyonya Sonja total mengabaikan itu, tapi kemudian saat tumor itu semakin besar barulah nyonya Sonja merasa sering sakit kepala, sampai sering kali ditemukan pingsan. Operasi tidak bisa ditunda lagi, dan beginilah keadaan nyonya Sonja sekarang, kabar baiknya tumor itu sudah berhasil diangkat.

"Omong-omong soal kupluk, semoga bibi suka, aku menyulamnya sendiri."

Nyonya Sonja membetulkan kacamatanya, dan langsung sumringah begitu tahu apa yang Sujin bawa. "Wah! Ini bagus sekali Liu Sujin," katanya sambil membolak-balikan sebuah kupluk berwarna hitam. "Lembut dan sangat, terima kasih, ya."

Nyonya Sonja pandai menghargai seseorang, wanita itu langsung melepas kupluk lamanya dan menggantinya dengan yang baru Sujin hadiahkan. Nyonya Sonja tersenyum setelah merasa kupluk buatan Sujin terasa nyaman di kepalanya, saat itu Sujin menyadari senyuman nyonya Sonja mirip sekali dengan Jungkook.

Sujin ikut tersenyum karena hasil rajutnya tidak sia-sia, ia membuatnya seperti kesibukan untuk mengisi waktu luang. Paling tidak, ilmu merajut yang diajarkan ayahnya masih berguna, terlebih Sujin menggunakan bahan yang paling berkualitas dengan harapan bisa membuat nyonya Sonja merasa nyaman ketika menggunakannya.

"Bibi kenapa tidak mau operasi sejak awal?"

Menoleh ke arah Sujin, nyonya Sonja menarik napas sambil membetulkan posisi kupluk barunya. "Alasannya sederhana, aku takut tidak akan membuka mataku lagi setelah menjalani operasi. Operasi itu punya resiko kegagalan, 'kan? Aku mau hidup lebih lama untuk melihat Jung membawa pacarnya ke rumah. Rupanya, penyakitku berkembang dengan cepat. Tapi, aku beruntung bisa selamat dari operasi itu.

"Benar sekali." Sujin tertawa pelan. "Bibi sangat menyayangi Jung."

"Sujin, andai kau pacaran dengan Jung tidak ada yang perlu aku khawatirkan seandainya operasiku gagal."

Nyonya Sonja tahu Jungkook menyukai Sujin sejak lama, dan nyonya Sonja adalah tipikal ibu yang selalu mendukung penuh pilihan putranya. "Jung harus berkencan dengan wanita yang lebih baik."

"Tapi kata Jung. Kau sudah cukup baik." Nyonya Sonja manarik tangannya, membawanya ke atas pangkuan. "Hei, Nak."

Sujin total menatap ibu Jungkook. "Kalau suamimu macam-macam, datanglah pada kami. Aigoo..." katanya sambil membelai kepala Sujin seperti anak perempuannya sendiri. "Kau masih terlalu muda untuk berkeluarga."

Sujin menyapu sudut matanya karena teringat pagi ini Taehyung menyebutnya pelacur kecil, hatinya langsung buyar saat merasakan kehangatan dari ibu Jung. Perasaan seperti ini tidak pernah dirasakannya dari keluarga Taehyung. Mereka terlalu kaku, arogan dan keras, lantas tidak heran Taehyung menjadi pribadi yang keras pula. Bukan sesuatu yang aneh, kenapa sekarang pria itu punya mulut yang kasar.

"Sekarang aku mengerti kenapa Jung punya sikap yang ceria, karena dia tumbuh bersama keluarga yang hangat, kepribadian jadi terbentuk dengan positif." Tanggapan Sujin membuat nyonya Sonja meledak tertawa.

Senoparty Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang