Happy reading all~!
2 tahun kemudian..
Sinar matahari menyelinap lewat celah tirai yang setengah tertutup, menari-nari di dinding kamar seolah ingin membangunkan penghuninya. Udara masih terasa dingin, membawa sisa-sisa malam yang enggan pergi, sementara aroma teh yang tersisa di meja kecil menguar samar, bercampur dengan wangi lembut seprai kamar yang belum rapi.
Alarm meraung tanpa ampun, mengguncang pagi dengan kejamnya. Seakan bocah itu tidak peduli, ia bersembunyi di balik selimut tebal. Jendela kamar bergetar sedikit akibat hembusan angin pagi, seolah ikut merasakan keengganannya untuk bangkit dari tempat tidur.
Ceklek
Pintu usang itu berderit menghasilkan bunyi setelahnya. Membiarkan banyaknya angin menerobos mendahului Caka yang mematung di depan kamar.
"Ya Allah, adek-adek! Kok masih bobo? Udah jam berapa ini? Kalian nggak sekolah?" Ia langsung mengibaskan selimut yang tengah dikenakan oleh dua bocah itu.
Nono terbangun, ia duduk dan langsung memarahi Caka karena merasa tidurnya diganggu. Layaknya anak kecil pada umumnya, ia merengek kesal.
"Kakaaaak, mana selimut na.. Kakak jahat sekali ya,"
Caka memasang wajah julid, "Dih, dramatis nyaa.."
"Sana mandi, ibu udah nyiapin air hangat," Katanya seraya mendekat ke arah Bumi yang masih tidur.
"Bumi, oi! Banguun! Sudah berapa kali kakak datang ke sini kamu masih tidur? Ayo, nanti kamu bisa telat!" Yang dibangunkan melenguh pelan. Merasa tidak terganggu.
"Ini, kalau nggak ada yang gerak.. Kakak hitung ya? Satu.."
"Dua.."
"Ti-"
Gedebuk! Gubrak!
"Ish, Nono yang banun duluan, sabal! Nono kelual kamal kok," Katanya mendengus kesal, ia melangkahkan kakinya dengan kuat layaknya sebuah monster besar yang sedang marah.
"Bumi mawu ketemu ibu duluan, cepat!"
Mereka berdua berebut untuk keluar bersamaan dari pintu yang lumayan kecil itu. Perut perut buncit seperti roti dan tubuh gempal mereka tentu tidak akan muat, akibatnya mereka terjebak di tengah-tengah pintu bersama.
"Huwaaa! Kakak, tolong~"
"Nggak mau,"
~•🌍•~
Pagi itu, hati Bumi terasa begitu ringan. Ada senyum yang tak bisa ia sembunyikan sejak membuka mata. Hari ini, sebelum berangkat ke sekolah, ia berhasil membantu kakaknya Ratu, pindah ke rumah barunya. Meski hanya sebuah rumah sederhana, kakaknya begitu bahagia, dan itu cukup membuat dunia Bumi terasa lebih hangat.
Namun, sepertinya dunia tidak merestui kebahagiaan itu bertahan lama.
Setibanya di sekolah, suara-suara sumbang mulai terdengar. Bisikan-bisikan yang menyakitkan, tawa mengejek yang menusuk.
"Kasihan sekali, ya. Anak panti asuhan ingin merasa seperti punya keluarga."
"Hei, Bumi, kamu kan nggak punya orang tua. Ngapain sok-sokan nganterin ‘keluarga’ ke rumah barunya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY BUMI
Acakmembantu ibu panti menjemur pakaian, mencuci piring kotor, menjaga adik-adiknya, bukankah itu sudah dikatakan hebat bagi anak seusia bumi? Lantas, mengapa tidak ada yang mengadopsinya? Bumi juga ingin seperti adik dan kakaknya yang mendapat mommy Da...
