Happy reading all~!
Malam ini, Hujan turun cukup deras membungkus perkotaan. Hujan yang disertai dengan petir kencang di mana-mana membuat banyak orang takut untuk keluar rumah dan memilih lebih baik di dalam rumah bersama keluarganya.
Termasuk juga dengan para anak-anak panti asuhan ini, alih-alih berada di kamar mereka malah berkumpul menjadi satu diruang tengah.
Alasannya? Oh, mereka sedang membahas tentang Esppa yang diadopsi. Mereka bingung ingin memberikan kado spesial apa untuk dirinya.
"Eh, tapi sebenernya aku agak kecewa.. Kamu nggak ngasih tahu aku dulu kalau kamu mau diadopsi," Ratu menceletuk lirih.
"Bukan nggak mau kasih tahu, tapi aku takut kamu sedih, Ratu.. Aku ingat gimana sedihnya kamu waktu Lana dijemput sama keluarga barunya,"
"Kamu emang nggak nangis waktu itu, tapi sehari setelahnya baru nangis. Kamu kayak kehilangan separuh jiwa kamu, dan aku datang buat bikin kamu enjoy. Kita masih bisa telponan, kan?" Lanjut Esppa. Ia memeluk sang sahabat yang telah menemaninya selama tujuh tahun terakhir di panti ini.
"Kalau kamu nggak dibolehin untuk telponan sama aku gimana? Kita bisa-bisa lost contact.." Esppa menggeleng, Ratu sudah hampir menangis sekarang.
Bayang-bayang dirinya kehilangan sang sahabat mulai muncul dalam benaknya. Tidak, ia tidak mau..
"Kamu tahu? Ini yang buat aku nggak mau ngasih tahu kamu jauh-jauh hari, cukup aku simpan kebahagiaan sendiri.. Karena yang aku tahu cuma sedikit dari kalian yang berbahagia selainnya pasti sedih,"
"Kalau kayak gini, aku ngerasa bersalah karena mau menerima adopsi itu,"
"Kenapa ngerasa bersalah? Itu hak kamu untuk menerima," Caka menyahut. Ia bangkit duduk dari yang semula tiduran bersama Bumi dan Nono yang asik menggambar.
"Nggak enak, Kak.. Nggak enak,"
"Ya dienak-enakin aja, santai~" Jawab Caka yang mana mengundang gelak tawa anak-anak panti.
"Kakak mah, gitu sukanya!"
Ratu menjadi sedikit lebih terhibur, ia menggenggam tangan sahabatnya erat-erat.
"Kalau kita memang harus berpisah ya berarti emang takdirnya. Semoga bisa ketemu lagi ya?" Katanya mencoba rela. Layaknya keluarga yang akan berpisah, mereka berdua berpelukan hangat seraya memberi semangat satu sama lain.
"Pasti, pasti aku akan lebih sering datang ke panti ini!" Kelingking yang saling bertautan menandakan bahwa mereka sedang membuat perjanjian.
"Aku bantu kamu packing, ya?" Senyuman merekah Esppa terpatri, ia menarik tangan Ratu untuk pergi ke arah kamarnya.
~•🌍•~
Hujan masih belum berhenti, petir petir terdengar menyambar di luar sana. Angin kencang seolah ingin merobohkan pohon-pohon sekitar. Suhu pun mulai turun, mengakibatkan semua mulai berkemul pada selimutnya masing-masing.
Caka menatap lurus pada jendela dari arah tempat tidurnya. Ia ingin menutup jendela dan tirai kamarnya, ternyata ada penyusup kecil yang tetap ingin Caka ada di sampingnya.
Bumi memegang jari telunjuk Caka dengan erat. Padahal anak itu sudah tertidur sejak tadi, namun sekalinya Caka bergerak, maka Bumi akan langsung ikut terbangun.
"Ini hujan deras banget, kalau nggak di tutup jendelanya nanti air hujan pada masuk," Gumamnya.
Matanya melirik pada Bumi, susu yang menyumpal di mulutnya masih banyak, tidak diminum sama sekali. Tetapi, anak itu tidak ingin susunya diambil.
Ia merapikan selimut Bumi dengan tangan kirinya, lalu ikut berbaring perlahan. Biarlah air hujan itu masuk ke dalam kamar, asal Bumi tidak terganggu Caka tak masalah.
Sekarang pukul 2 dini hari. Nanti pagi, Caka dan adik-adik harus berangkat pagi untuk menimba ilmu. Mereka berangkat pagi-pagi sebab tidak ingin ketinggalan bus sekolah yang biasa berhenti di depan halte dekat panti.
Tok tok tok!
Suara pintu kamarnya diketuk agak kencang. Caka sedikit tersentak, lalu kembali membenahi posisi tidurnya.
"Masuk," Katanya pelan.
Ceklek..
Itu Nohan! Caka tersenyum melihatnya.
"Loh, kok Nono belum tidur? Nono mimpi buruk?"
Nono menggeleng, ia berusaha merangkak keatas kasur dan tidur di samping Bumi. Untung saja kasur Caka lumayan besar, jadinya muat untuk mereka bertiga.
"Ndak, Nono kebanun saja.. Mau bobo sama Kakak boleh?" Anak itu menarik selimut Bumi untuk berbagi dengannya. Caka ikut membantu Nono memposisikan posisi tidurnya agar lebih nyaman.
"Hm? Boleh. Tapi tumben banget Nono pengen tidur sama Kakak, biasanya kan sama Ibu," Caka menjawab seraya tersenyum tipis.
"Ibu denan Layla, kasihan Ibu kalau halus menjaga Nono juga. Jadi Nono kesini deh," Jelasnya dengan tampang polosnya.
"Oh, begitu.. Yaudah, ayo tidur! Ini Bumi aja udah tidur loh, masa Nono belum?"
"Ish, sabal! Ini juga mawu tidul kok. Ndak usah khawatil, Nono bisa tidul sendili!" Si Kecil menyahut tidak terima. Ia menberengutkan wajah kesal, membelakangi Caka dan Bumi.
"Iya iya, adek.. Good night, Nono~"
Hening.
"Kakak~"
Suara mendayu itu menyapa indra pendengaran Caka yang sensitif. Ia segera membuka matanya kembali dan menatap balita mungil yang juga menatapnya balik dengan tatapan memohon.
"Mau puk puk.."
Caka terkekeh, ia perlahan mendekatkan tangan kirinya. Sedikit kesusahan mengingat adanya Bumi di tengah-tengah mereka.
"Mangkanya, nggak usah sok bisa tidur sendiri. Orang masih di puk puk kayak gini, hahahaha!" Caka memelankan suaranya agar Bumi tidak terbangun. Sementara Nono semakin memberengutkan wajahnya, ia tidak suka diejek seperti ini!
"Hump! Telselah kakak."
"Yah, yah.. Ngambek deh.."
♪°♪
Helloww!!
Anybody here?
Sybill kembaliiii~
Bagaimana kabar aunty uncle dan kakak kakak kesayangan Bumi? Semoga sehat selalu, ya😚😚💕
🌍 : maapin buna na Bumi yaww suka telat apdet, salahin aja itu suka malas. Bumi jadi lama deh ketemu aunty uncle kakak kakak na Bumi☹️
Thank u, Bumii.
Nah, jadi, see u next timee~~
Always sweet~Sybilla
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY BUMI
Aléatoiremembantu ibu panti menjemur pakaian, mencuci piring kotor, menjaga adik-adiknya, bukankah itu sudah dikatakan hebat bagi anak seusia bumi? Lantas, mengapa tidak ada yang mengadopsinya? Bumi juga ingin seperti adik dan kakaknya yang mendapat mommy Da...
