membantu ibu panti menjemur pakaian, mencuci piring kotor, menjaga adik-adiknya, bukankah itu sudah dikatakan hebat bagi anak seusia bumi? Lantas, mengapa tidak ada yang mengadopsinya? Bumi juga ingin seperti adik dan kakaknya yang mendapat mommy Da...
Hujan turun deras membasahi kota. Padahal sudah pukul tujuh pagi, tetapi langit masih gelap, dan udara di panti begitu dingin menusuk. Bau tanah basah bercampur aroma masakan dari dapur.
Caka sudah sedari tadi di depan kompor, sibuk mengaduk tumisan. Wajahnya tampak fokus, meski rambut depannya sedikit berantakan.
"Kak, kok nggak sekolah?" Sera muncul di pintu dapur, membetulkan cardigannya yang sedikit lembap.
"Guru-guru rapat, Bu," jawab Caka, masih menatap wajan.
"Kalau gitu gantian, sini Ibu lanjutin. Kamu cek Bumi, tadi batuknya kedengaran sampai sini," ucap Sera lembut.
Tanpa tanya lebih lanjut, Caka mematikan api kompor dan segera berjalan ke kamar anak-anak. Hujan terdengar lebih jelas di koridor sempit itu, diselingi bunyi langkah kakinya di lantai.
Begitu pintu kamar dibuka, terlihat Bumi duduk di atas ranjang, memegangi dadanya. Napasnya berat, terputus-putus. Matanya yang besar masih basah karena baru bangun tidur.
Anak kecil itu hanya mengangguk pelan, bibirnya bergetar saat mencoba menarik napas dalam.
Caka segera duduk di sisi ranjang, mengulurkan tangan, "Sini, duduk di pangkuan Kakak, biar lebih enak."
Bumi menurut. Ia perlahan merangkak kecil lalu bersandar ke dada Caka. Tubuhnya kecil dan hangat, tapi bahunya naik-turun cepat karena sesak.
Setelah itu, Caka menarik selimut tipis di kasur, membalut tubuh Bumi dengan hati-hati. Ia ingat bahwa sentuhan langsung sering membuat anak itu gelisah.
Suasana hujan di luar menjadi latar alami, menenggelamkan sisa ketegangan di dalam kamar.
Dengan tangan yang sudah terbiasa, Caka mengambil inhaler kecil dari laci di meja samping ranjang. Ia menggoyangnya sebentar, lalu menempatkan alat itu di tangan mungil Bumi, membantunya menekan tuasnya perlahan.
"Napas pelan-pelan ya? Kayak waktu latihan, ingat?" bisiknya, mengusap dada kecil Bumi dengan lembut untuk menenangkan.
Beberapa detik pertama masih berat, tapi perlahan suara napas itu mulai lebih teratur. Bumi menutup mata, tubuhnya makin rileks di pelukan Caka.
"Udah mendingan?"
Bumi mengangguk kecil. Ia memegang erat selimutnya, menatap Caka dari balik lipatan kain. Napasnya mulai kembali stabil. pipinya menempel di dada Caka, "Dingin," Bisiknya lirih.
Sera sempat menengok dari pintu, melihat keduanya dalam diam. "Udah tertangani?" tanya Sera lirih.
"Iya, Bu," jawab Caka, masih dengan suara tenang. "Udah lumayan."
Sera mengangguk, lalu kembali ke dapur. Sementara itu, Caka tetap memeluk Bumi-tak lagi karena panik, tapi karena tahu, di pelukannya, anak kecil itu bisa bernapas lebih tenang.
Suara hujan makin pelan, tapi udara masih dingin. Caka duduk di tepi ranjang seraya merapikan selimut yang melilit tubuh kecil Bumi. Anak itu sudah lebih tenang, napasnya tidak seberat tadi.
"Bumi udah bisa napas kayak biasanya kan?" tanya Caka lembut.
Bumi mengangguk, rambutnya berantakan menempel di dahi. "Udah, ndak sakit... tapi Bumi capek..." suaranya kecil, tetapi terdengar jelas dari nadanya bahwa ia lelah.
Caka tersenyum. "Ya udah, hari ini istirahat aja, nggak usah ke sekolah dulu."
Ia menatap anak kecil itu yang kini mulai tenang lagi. "Ayo, kita sarapan, yuk? Ibu udah masak, tuh."
Bumi nyengir kecil, lalu mengangkat dua tangannya. "Gendong..."
"Duh, berat nih kayaknya." "Ndak, Bumi enteng, loh!"
Caka terkekeh, lalu perlahan ngangkat Bumi dalam gendongannya. Anak itu masih berselimut, kayak kepompong kecil yang hangat. Setiap langkah ke dapur, Bumi nempel di bahunya, kepala miring, matanya separuh merem.
Begitu sampai, Sera langsung nengok. "Nah, pahlawan kecil udah bangun rupanya."
Bumi nyengir dari balik selimut. "Bumi lapel, Bu..." katanya dengan aksen cadel seperti biasa.
Sera ketawa lembut, ngambil piring dari meja. "Pas banget, sarapannya masih hangat."
Caka duduk di kursi sebelah Bumi, masih bantuin ngelipet selimut di pangkuannya. Dan di antara suara hujan yang semakin pelan, meja makan panti itu terasa hangat - sederhana, tapi penuh sayang.
Gimana kabarnya? Cerita ini udah lama banget nggak sybill sentuh. Bukan karena apa, tapi sybill tuh dari awal bikin cerita beneran yang ngalir doang. Ngga buat alur sampe selesai, jadi lanjutin sesuai ide di kepala aja. Ditumpahin semuaa😭😭
Nyesel banget sih, soalnya sekarang jadinya buntu.. Sybill juga sibuk kelas akhir ini, seminggu sekali ujian terus biar ngga kaget nanti TKA. Bahkan saking stressnya sybill pernah sakit 2 minggu😌😌 (gk pp, karena pas sakit nilai sybill meningkat)
Minta maaf sebesar besarnya yaaa.. Nggak tahu juga kapan sybill bisa apdet lagi kayak semula-seminggu sekali gitu.. Kangen, tapi beneran deh sibuk BANGET☺‼️ nggak kuat.
Say sorry lagi kalau semisal penulisan sybill ada yang kacau, udah lama nggak nuliss😭😭 semoga aja enggaa..
Oh yaa, sybill terbuka yaa kalau mau ada yang nyaranin chapter berikutnya mau kayak gimana.. Yang penting nyambungg. Soalnya ending sudah ditangan sybill🤭 soalnya ini cerita kan slice of life gitu. Selagi belum ke puncak masalah oke aja sybill kalau aunty uncle kakak kakak sekalian request.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anw, say hi with Kakak Cakaa😘👋
Kalian tahu nggak, kenapa Caka nggak panik waktu tahu Bumi kambuh? Karena.. Semakin dirinya panik Bumi jadi ikutan panik dan berakhir napasnya makin rebutan sama panik. Dia juga ngerasa, selagi tahu solusinya nggak perlu tuh panik panik. Biar Bumi tahu, kalau kayak gini tuh harus ngapain, dan ya gitu.. Hari-hari Caka ngelatih Bumi buat hal kayak gini.
(Kayaknya Caka di ejanya ya Ca-ka aja deh, bukan Ka-ka, anehh😭😭)