Happy reading all~!
Setelah bel sekolah berbunyi, Bumi berjalan keluar gerbang bersama Nono. Hari ini terasa lebih menyenangkan dibanding biasanya.
Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba terdengar suara riang memanggil namanya.
"Bumiii!"
Bumi menoleh dan melihat Soraya berlari kecil ke arahnya. Rambut merah kecoklatannya bergoyang-goyang terkena angin, dan matanya yang biru seperti blueberry berbinar cerah.
Nohan mengernyit, bingung melihat anak perempuan yang tiba-tiba datang dengan semangat. Sebelum ia sempat bertanya, Soraya sudah berdiri di depan mereka.
"Hai, Bumi! Lagi sama siapa?" tanya Soraya sambil tersenyum lebar.
Bumi membuka mulutnya, tapi sebelum sempat menjawab, Nohan yang merasa asing dengan Soraya justru menatapnya penuh tanya.
Soraya menyadarinya dan langsung memperkenalkan diri tanpa ragu. "Oh iya! Aku Soraya! Tapi Bumi manggil aku Aya, biar gampang!" katanya ceria.
Nohan mengangguk kecil. "Ooh… Aku Nohan. Tapi kalau mau panggil Nono juga ndak papa,"
Tiba-tiba, Nohan menyenggol lengan Bumi sambil menyeringai kecil. "Wah, sepeltinya ada yang punya teman balu, ya? Ih, ndak ajak-ajak!" godanya.
Bumi langsung terkejut, pipinya memanas. "N-ndak kayak gitu!" katanya cepat, menunduk malu.
Soraya tertawa melihat wajahnya yang merah. "Haha! Nohan, Bumi gampang banget merah mukanya, ya?"
Nohan ikut terkikik. "Iya, lucu banget, kayak tomat!"
Bumi makin menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Jangan bilang gitu…" keluhnya pelan.
Soraya dan Nohan tertawa lagi.
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih seru untuk Bumi.
~•🌍•~
Sesampainya di panti, aroma masakan hangat langsung menyambut mereka. Di ambang pintu, Sera, ibu panti mereka, sudah berdiri dengan senyum lembut.
"Eh, udah pada pulang, nih! Gimana hari ini?" tanyanya hangat.
Nono langsung berseru dengan penuh semangat. "Ibuu! Nono sama Bumi punya teman balu! Namanya Solaya! Dia keleeen banget! Lambutnya walna melah kecoklatan dan matanya bilu kayak buwah bluebelly!"
Bumi yang biasanya malu-malu justru ikut berbinar. "Iya! Aya baik banget, dia bantu Bumi waktu di sekolah!"
Sera tersenyum lebar mendengar cerita mereka. "Wah, ibu senang sekali! Teman baru itu penting. Jadi, kalian sudah akrab?"
Bumi mengangguk cepat. "Iya! Bumi senang! Aya bilang mau jadi temannya Bumi!" katanya dengan penuh antusias.
Sera terkikik melihat semangatnya. "Bagus! Ibu bangga sama kalian. Tapi sebelum cerita lebih banyak, ayo bersih-bersih dulu. Setelah itu, kita makan siang, setuju?"
"Setuju!!" jawab Bumi dan Nohan bersamaan, lalu berlari menuju tempat cuci tangan.
Saat mereka duduk di meja makan, Sera menatap mereka dengan penuh kasih. "Ingat, ya. Jangan pilih-pilih teman. Semua orang bisa jadi teman kalau kita mengenalnya dengan baik."
Bumi menggigit sendoknya sebentar, lalu tersenyum. "Bumi ndak pilih-pilih, kok, Ibuu! Bumi mau belteman sama siapa aja! Yang penting baik!"
Sera terkekeh, lalu mengusap kepala Bumi. "Ibu senang dengarnya."
Saat mereka sedang makan siang, tiba-tiba suara riang terdengar dari pintu depan.
"Wah, rame banget di sini! Ada apa, nih?"
Bumi dan Nono menoleh bersamaan. Wajah mereka langsung berbinar ketika melihat sosok yang baru saja masuk.
"Kak Caka!" seru mereka senang.
Caka, kakak tertua mereka, baru saja pulang dari kampus. Tas ranselnya masih menggantung di satu bahu, dan senyumnya begitu lebar melihat kedua adiknya terlihat ceria. Tanpa ragu, ia berjalan mendekat dan langsung duduk di antara kursi Bumi dan Nono.
"Kakak denger kalian punya teman baru?" tanyanya penuh semangat.
Bumi mengangguk cepat. "Iya, Kak! Namanya Aya! Dia baik banget! Dia yang bantuin Bumi di sekolah!" katanya penuh semangat, tangannya bahkan ikut bergerak-gerak saat bercerita.
Nohan ikut menimpali. "Iya! Aya cantik! Telus juga lamah sama kita hehe,"
Caka terkekeh melihat antusiasme mereka. Ia mengacak rambut Bumi dan Nono dengan gemas. "Wah, keren banget! Bumi sama Nono akhirnya punya teman baru, ya? Kakak senang banget dengarnya!"
Bumi tertawa kecil dan mengangguk dengan semangat. "Iya! Aya teman Bumi!"
Sera, yang melihat interaksi mereka, tersenyum hangat. "Kakak, ayo makan dulu. Baru pulang pasti lapar, kan?"
Caka mengangguk cepat. "Iya, Bu! Caka makan dulu, tapi sambil dengar cerita lengkapnya, ya!"
Bumi dan Nono langsung bersorak kecil. Mereka kembali makan dengan semangat, sementara Caka mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian.
Hari itu terasa lebih menyenangkan. Tidak hanya karena makanan yang enak, tapi juga karena hangatnya keluarga yang selalu ada untuk mendukung mereka.
♪°♪
Yippie yey! Hai hai hai aunty, uncle brother, sister kesayangan Bumii~
Sybill baru ujiaan, kasi semangatzz dungss🧘♀️
Kalau banyak yang voment nanti Sybill kasi bonus chapter mingdep hwhwhwhw‼️ jadi jangan lupa voment yaaa kesayangan Bumii💙💙 (lov nya bilu biar imut kayak Bumi)
Semangat puasanyaa bagi yang melaksanakann🌟
(Sybill udah diambang..😵😵)
Mkay, pay pay aunty uncle kakak kakak~!
See you next time!
Always sweet~Sybilla
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY BUMI
Разноеmembantu ibu panti menjemur pakaian, mencuci piring kotor, menjaga adik-adiknya, bukankah itu sudah dikatakan hebat bagi anak seusia bumi? Lantas, mengapa tidak ada yang mengadopsinya? Bumi juga ingin seperti adik dan kakaknya yang mendapat mommy Da...
