✨ SELAMAT MEMBACA ✨
Tengah malam yang sunyi, hanya cahaya lampu rumah sakit yang menerangi ruangan. Suara mesin medis yang berderak-derak menemani kesunyian.
Tasya membuka mata, pandangannya kabur dan tidak fokus. Dia menarik napas dalam, merasakan sakit kepala yang hebat dan lelah yang menghantam tubuhnya. Tubuh Tasya lemah tak berdaya, seperti tidak memiliki kekuatan untuk bangun.
Wajahnya pucat, matanya merah karena terlalu banyak menangis dan kekurangan tidur. hijabnya basah oleh keringat yang membasahi kulitnya. Bibirnya kering dan retak-retak. Luka di pipinya terasa perih meskipun sudah di balut oleh perban. Gadis itu berusaha duduk, tapi terlalu lemah dan terjatuh kembali ke tempat tidur.
Tasya memandang sekitar, mencari sosok laki-laki yang sudah berusaha mati-matian menyelamatkan dirinya dengan pandangan yang penuh harapan. "Ka-Kak Kavin... di mana?" tanyanya dengan suara lemah dan bergetar penuh kecemasan. Suaranya hampir tidak terdengar.
Suara decitan pintu yang bergesekan dengan lantai mengalihkan intens Tasya. Seorang gadis berkuncir kuda masuk ke dalam ruang rawatnya.
"Sya, lo udah bangun?" kata Aruna berjalan mendekati brankar Tasya.
"Aruna, Kak Kavin mana? Kak Kavin nggak kenapa-kenapa kan Run?" tanya Tasya masih dengan suara lemah.
Aruna terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Tasya. "Sabar ya Sya, Kak Kavin masih di tanganin sama dokter, lo istirahat aja dulu, bentar lagi Om Angga sama Tante Fatimah ke sini." mencoba menenangkan dengan nada lembut.
Tasya terdiam. rasanya, tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk terlarut dalam kesedihan, karena sempat mengingat kondisi terakhir Kavin yang sangat menyayat hatinya. Meski jauh dalam kelemahannya saat ini ada rasa cemas dan kekhawatiran mendalam terhadap laki-laki itu.
Tasya terbangun dari lamunannya, masih merasakan kecemasan. "A-Aruna, Asya pengen lihat Kak Kavin." katanya dengan suara lemah.
Aruna ragu-ragu. "Tapi Sya lo kan masih butuh istirahat, jangan dulu ya." peringatnya lembut.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Asya pengen lihat Kak Kavin Aruna, Asya udah baik kok." mencoba memaksa bangun, meskipun tubuhnya lemah.
"Wait... Wait... Wait... Wait... Oke gue anterin lo ke sana, tapi bentar gue panggil suster dulu jangan kemana-mana, bentar." ucap Aruna pasrah lalu berjalan keluar ruangan untuk memanggil suster.
🌷🌷🌷
Kavin, laki-laki pemilik mata elang itu terbaring tak berdaya di atas brankar ruang ICU, tubuhnya terhubung dengan berbagai peralatan medis. Suara mesin EKG terus berbunyi memenuhi ruangan bernuansa putih bersih itu, menunjukkan detak jantungnya yang lemah. Dokter dan perawat bergerak cepat, melakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawanya.
Kondisi Kavin sangat kritis. Luka-luka dalam dan luar tubuhnya terlihat jelas. Darah masih mengalir dari luka di bagian pinggang dan perutnya, wajahnya pucat pasi. Napasnya tersengal di dalam, dan matanya tertutup rapat.
Dokter memeriksa monitor EKG, wajahnya serius. "Kondisi jantungnya semakin memburuk! Kita harus bertindak cepat!"
Perawat memasang oksigen, mencoba menstabilkan napas Kavin. Dokter lain memeriksa luka-lukanya, berusaha menghentikan pendarahan.
"Dokter, pendarahannya tidak berhenti, pasien benar-benar kekurangan banyak darah dan stock darah di rumah sakit ini untuk golongan AB tinggal tiga kantong saja. Bagaimana dok?" kata salah satu perawat yang mengobati luka-luka Kavin.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAVIN [ SEGERA TERBIT ]
Novela Juvenil✨ FOLLOW SEBELUM MEMBACA ✨ MAAF KALAU MASIH BANYAK KEKURANGAN KARENA INI CERITA PERTAMA YG AKU BUAT🙏🏻 Menceritakan tentang seorang KAVIN REZVAN FARIZI, Cowok jangkung berwajah tampan diatas rata² pemilik mata setajam pisau dan tegas. Yang terkenal...
![KAVIN [ SEGERA TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/361737454-64-k225555.jpg)