[KAVIN 58 ❥ PEMBERIAN BUKTI]

144 9 0
                                        

✨ SELAMAT MEMBACA ALL ✨

58. Pemberian Bukti

Galen Sagara Aldebara
Anak" di markas, lo ga ke sini?

Kavin menatap layar ponselnya, membaca notifikasi pesan masuk dari Faisal. Lalu dengan cepat jemari panjangnya membalas pesan dari wakil nya itu.

Kavin Rezvan Farizi
Gue msh ada urusan, nanti gue ke markas kalo sepet


Balas Kavin singkat, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Kakinya melangkah tegap keluar dari kamar, setelah mengambil kunci motor dan jaket kebesarannya yang sudah menutupi kaos hitam polosnya.

Kavin menuruni anak tangga, saat melewati ruang tengah. ia melihat seseorang yang sedang sibuk bergulat dengan laptop di hadapannya.

"Mau kemana lo? Rapi bener." tanya Agha, mengalihkan sebentar fokusnya pada Kavin.

Kavin tidak langsung menjawab, ia berhenti di hadapan Agha. Meraih secangkir kopi yang ada di atas meja dan meminumnya sedikit.

"Enak bener lo, kopi gue jangan di habisin. Kalau mau, bikin sendiri di dapur?" kata Agha, melihat Kavin yang meminum kopinya hingga tersisa sedikit.

Kavin melirik sekilas Agha, "Ck, pelit banget lo, mau gue muntahin?" balas nya santai.

Agha memutar bola matanya malas, "Lo belum jawab pertanyaan gue, mau kemana lo?" tanyanya.

"Ada urusan," jawab Kavin singkat.

Agha mengerutkan keningnya. "Urusan apa?" tanya penasaran.

Kavin melirik Agha tajam. "Bukan urusan lo," jawabnya singkat.

Agha mengangkat tangannya. "Oke, fain." finalnya, "Tapi, gue ikut?" tanya dengan senyum tipis.

Kavin melirik Agha, lalu menghela napas. "Hm, tapi lo nggak usah ikut campur." katanya memperingati.

Agha berdiri dari duduknya, meraih jaket hitammya yang terselampir di sofa. Lali memakainya, "Tergantung, kalau lo bertindak di luar batas sama tuh pekhianat. Gue harus ikut turun tangan, lo nggak lupa kan? Masalah lo Maslaah gue juga." berjalan melewati Kavin, yang masih berdiri dengan tatapan dingin.

Kavin menatap punggung Agha lekat, lalu berjalan mengikuti lelaki itu dengan wajah datarnya. Menuju halaman rumah yang sudah terparkir dua motor sport besar.

"Lo kenapa nggak balik ke rumah Algraf?" tanya Kavin, memandang Agha yang sedang memasang helm full facenya.

Agha melirik sekilas Kavin, yang masih berdiri mematung di sampingnya. "Kenapa? Lo udah nggak mampu, kasih gue makan?" sahutnya asal dengan nada santai. "Gue bawa motor sendiri atau sama lo?" tanyanya lagi.

Kavin menghela napasnya kasar, berjalan ke arah motornya, "Sama gue, gue nggak mau ribet adu balap sama lo." balasnya, menaiki motornya dan memakai helm full facenya.

Agha berdecak sambil terkekeh kecil, lalu naik ke jok belakang motor Kavin.

Kavin menyalakan mesin motornya dan mulai melenggang pergi meninggalkan pelataran rumah berlantai dua itu, beradu di jalanan sore yang mulai sepi oleh kendaraan.

Kavin menancap gas motornya di atas kecepatan rata-rata, menembus angin sore yang menerpa tubuhnya. Sampai beberapa saat motor sport hitam dengan corak birunya memasuki halaman rumah seseorang.

Agha turun dari motor Kavin, membuka helm yang melekat di kepalanya. "Lo bawa motor, apa mau nantang malaikat maut?"

"Lo emang nggak gitu?" ketus Kavin turun dari motornya.

KAVIN [ SEGERA TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang