56. rujak buah

652 21 2
                                        

" Aku akan selalu menjadi pelukan ternyamanuntuk kamu, Naa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Aku akan selalu menjadi pelukan ternyaman
untuk kamu, Naa. Entah hari ini, besok dan
selamanya. Karena pelukan ini hanya di takdirkan
untuk kamu."

- Seandro Pradikta Widjaya -

👑👑👑

~o0o~

selamat membaca!!

Tengah malam Sheena merengek kepada Sean—suaminya. Bahkan wanita itu menindih tubuh suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya. Sean membuka matanya sedikit karena tidurnya terusik. Lalu menatap wajah Sheena dengan pencahayaan yang remang-remang. Tangannya menyingkirkan helaian demi helaian yang menutupi wajah istri.

"Sayang, minggir dulu gih?"

Tanpa membantah Sheena pun turun dari tubuh suaminya. Wanita itu menunduk dengan wajah yang sudah cemberut. Sean menghidupkan lampu tidur untuk melihat wajah istri mungilnya. Setelah menghidupkannya, pemuda itu terkekeh pelan seraya mengusap surai panjang istrinya.

"Kenapa, hm?" Sean mengangkat dagu Sheena menggunakan jari telunjuknya.

Kening Sean mengernyit karena melihat mata Sheena sudah memerah seperti habis menangis. Lalu ibu jarinya mengusap sisa-sisa air mata yang masih di pipi Sheena.

"Sayang, kenapa nangis? Apa perutnya sakit? Atau apa?" Sean menunjukkan raut wajah khawatir.

Sheena menggelengkan kepala sebagai balasan. "Aa', apa boleh Sheena minta sesuatu?"

"Boleh, memangnya mau minta apa?" Sean membawa istrinya ke dalam dekapan tubuhnya.

"Em—itu Sheena pengen rujak buah." Cicit Sheena pelan.

Sean yang mendengar pun sontak membulatkan mata sempurna. Terkejut? Tentu saja. Bagaimana tidak terkejut. Sheena meminta Sean untuk membelikan rujak! Malam-malam begini emangnya ada yang masih jualan! Dasar Sheena!

Sean meringis dalam batin karena permintaan yang aneh dari sang istri. Seraya menghela napas panjang pria itu menatap istrinya dengan amat serius.

"Sayang, udah malam loh, besok aja gimana?"

Sheena menggelengkan kepala cepat. "No Aa', Sheena maunya sekarang! Bukan besok! Kalau besok Sheena udah gak mau lagi!" Rengeknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Sean menghela napas panjang lalu memijat kepalanya yang sedikit nyeri. "Emangnya ada tukang rujak tengah malam begini?" Batin Sean.

Sean menatap wajah istrinya seraya menghapus air mata Sheena yang sudah mengalir tadi. Lalu menakup pipi Sheena dengan kedua tangannya. Mata bahkan hidung Sheena sudah memerah karena menangis tadi.

Hate Becomes Love [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang