61. ingin bercerai?

1K 26 8
                                        

👑👑👑

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

👑👑👑

~o0o~

selamat membaca!!

Mata teduh itu kini masih terpejam, bibir sudah pucat, wajah penuh dengan plester. Sheena menatap sendu suaminya yang masih terbaring di brankar. Jujur saja Sheena rindu dengan suaminya tapi mau gimana lagi, keadaan tidak mengijinkan mereka.

Tangan Sheena mengusap rambut hitam pekat milik Sean dengan lembut dan penuh kasih sayang. Seraya bergumam pelan. "Tolong bangun Aa', Sheena kangen."

Sheena meneteskan air matanya karena melihat suaminya terbaring lemah. Meraih dengan perlahan tangan kekar suaminya lalu meletakannya tepat di atas perut ratanya.

"Tolong bangun Aa', Sheena dan anak kita kangen." Sheena berlirih dengan suara yang amat serak.

Sementara di luar ruangan. Ada seseorang yang menatap sendu Sean dan Sheena. Mengamati lewat jendelan kecil di pintu itu. Seraya bergumam pelan.

"Kakak yakin kamu bisa nyembuhin semua itu, Sean. Tolong bertahan demi istrimu dan anakmu." Lirih seseorang itu lalu tersenyum miris.

"Dok, dicariin seseorang dan orang itu sudah nunggu di ruangan pribadi dokter." Ucap seseorang membuat dokter itu menoleh.

"Baik, terimakasih. Oh ya kalau ada apa-apa dengan pasien di ruangan ini langsung cari saya." Pesan dokter itu.

Suster bernama tag Ayunda putri itu mengangguk lalu tersenyum simpul. "Baik dokter Wina!" Serunya.

Dokter Wina tersenyum simpul. "Kalau gitu saya permisi."

Suster Ayu mengangguk pelan dan Dokter Wina pun melenggang pergi dari sana. Sedetik kemudian suster Ayu pun ikut pergi dari sana.

Kini kembali dengan Sheena. Gadis itu memutuskan untuk tidur di samping suaminya. Dengan lengan kanan ia gunakan untuk menopang kepalanya, sementara tangan kirinya ia taruh di bawah tangan Sean. Kedua tangan itu bertaut seakan saling memberi energi. Sheena tertidur dengan posisi duduk.

***

Kabut tebal, tempat yang gelap, dan tempat yang amat kosong. Sean nampak bingung dengan tempat kali ini. Menoleh kesana-kemari seperti mencari pintu keluar, namun nihil tempat ini seakan penjara.

Hingga suara langkah kaki seseorang mengalihkan perhatiannya. Sosok berjubah hitam berdiri tepat di hadapannya.

"Ingin menyerah?" Tanya sosok hitam itu.

Sean enggan untuk menjawab dan hanya terdiam.

"Menyerahlah dan matilah seperti kakekmu!" Makinya.

Perkataannya membuat kepala Sean langsung sakit. Sean memejamkan mata perlahan. Saat matanya kembali terbuka, sosok hitam itu sudah tak ada dihadapannya.

Hate Becomes Love [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang