CHAPTER 15

750 82 12
                                        

CHAPTER 15 : Terpecah Belah.

***

Kakinya berlari menyusuri jalanan kota yang sedang dilanda hujan deras. Ia tidak peduli dengan badannya yang sudah basah kuyup serta matanya yang merah akibat kemasukan air. Kakinya terus saja berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang tadi sempat ia tabrak namun tidak mengucapkan maaf sama sekali.

Ia tidak bisa menggunakan kendaraan karena terlalu lama jika mengeluarkan dari parkiran sekolah. Makanya, Azar memilih untuk menggunakan taxi, tapi malah tidak punya uang. Semua uangnya masih di Azel. Alhasil dia berlari kencang agar sampai di tempat tujuan demi bisa melihat seseorang yang mungkin saja tidak akan selamat. Untung saja jaraknya tidak jauh seperti harus menggunakan kendaraan. Namun, tetap saja jika berjalan kaki akan terasa jauh.

Sesampainya ia disana, tepatnya di rumah sakit langsung saja cowok itu menuju IGD dan mencari seseorang dengan membuka tirai satu persatu milik pasien lain.

"Maaf, saya kira Papa saya." katanya saat ada pasien lain yang marah karena ulahnya.

Azar kemudian membuka tirai selanjutnya, untung saja benar jika itu adalah Papa Ernald. Ia langsung memeluk tubuh pria itu sampai terhuyung kebelakang.

"A-aduh, Zar.."

Azar melepaskan pelukannya. "Ada yang sakit, Pa? Bilang sama Azar apa yang sakit, n-nanti Azar panggilin dokter. A-apa se-sekarang aja?"

"Azar, hey, Papa nggak papa. Cuma luka sedikit, tenang ya?"

Napas Azar tidak stabil, selain karena tadi berlarian kini juga menangis melihat keadaan Papanya yang terbilang cukup parah. Dahi yang di perban, tangan yang di gips serta kakinya yang penuh dengan luka.

"Sini duduk dulu deket Papa." tangannya diayunkan, menyuruh anak bungsunya untuk duduk disamping.

Azar hanya menurut saja, melupakan kejadian kemarin yang cukup membuatnya trauma. Kini dihadapan cowok itu, seseorang yang telah membuatnya ketakutan malah menjadi tempat yang selama ini Azar rindukan.

"Papa nggak papa, cuma keserempet mobil aja pelakunya juga udah tanggung jawab. Kamu tuh yang basah kuyup gini. Emangnya nggak pake mantel?" Papa Ernald menyisir kecil rambut berantakan Azar.

"Azel lari dari sekolahan."

Tangan Papa Ernald berhenti sejenak sebelum turun kebahu Azar untuk menepuknya beberapa kali.

Hening.

Tidak ada yang berbicara setelahnya, Azar bingung harus membahas apa dengan Papa Ernald. Tidak seperti biasanya yang bisa diajak bercanda tak kenal tempat. Sekarang rasanya terlalu sungkan untuk sekedar mengajak bercanda.

Bukannya Azar marah, otaknya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin disampaikan, namun mulutnya sangat kelu hingga mengutarakannya saja sangat sulit.

"Azel sama Alfa gimana kabarnya?" bodoh! Harusnya Papa Ernald tidak perlu menanyakan itu, karena ia bisa pulang dan melihatnya sendiri, kan. Ia tidak perlu bertanya bagaimana keadaan anaknya sendiri jika bisa mengetahuinya secara langsung. Namun, itu yang keluar dari mulut Papa Ernald.

"Baik, Pa." jawab Azar.

Papa Ernald mengangguk. "Bagus, deh. Kalian masih sering berantem?"

"Pa."

"Hm?"

Azar menatap manik binar milik Papa Ernald saat membicarakan anaknya. "Kenapa Papa nggak pulang aja? Minta maaf sama Mama, Bang Ajel dan Pajero? Mereka nungguin Papa. Iya, Azar emang nggak tau kenapa Papa kayak gitu kemaren, tapi jujur aja itu buat Azar kecewa sama Papa."

A3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang