Sekali lagi Ci Shani menoleh ke belakang, menatapku dengan tatapan sinis dan satu alisnya terangkat. Aku tak bisa menangkap apa maksudnya barusan. Apa sebuah satiran atau memang meminta.
Tiba-tiba ci Shani berdecak, lalu dia menggeliat. Aku turun dari atas tubuhnya. Bersamaan dengan itu, dia menarik celananya ke atas. Aku bingung dengan apa yang dia lakukan.
"Gak jadi?" kutanya, karena Ci Shani seperti enggan melanjutkannya.
"Nggak," jawab Ci Shani dengan nada dingin. "Ambilin bh Cici, dek."
Aku menghela nafas, lalu mengambilkan bra nya yang tergeletak. Setelah itu dia menyuruhku untuk keluar kamar. Alasannya ingin berganti pakaian dan beres-beres. Padahal dia biasa melakukan itu di dalam kamar mandi, tapi entah kenapa tiba-tiba mood nya seperti ini.
Daripada kena omelannya, aku memilih untuk keluar dari kamar. Kebetulan saat baru saja menutup pintu kamar, aku melihat Marsha naik ke rooftop bersama laki-laki sama waktu itu.
Oke. Aku tahu itu privasi dan aku juga tak mau ikut campur dengan kehidupan pribadinya, tapi nafsu birahiku ingin melihatnya sekali lagi melihat tubuh Marsha yang begitu indahnya itu sedang digagahi laki-laki.
Jujur, menurutku tubuh Marsha adalah yang paling indah di antara perempuan di kosan ini yang pernah aku lihat dalam keadaan telanjang. Ashel, Flora, Kak Gracia semuanya kalah. Marsha juaranya.
Mungkin soal ukuran dada, Ashel nomor satu. Kuakui kalau dadanya Ashel sebesar itu. Lalu di urutan kedua ada Flora. Meskipun dia mini, dadanya juga luar biasa. Ketiga ada Kak Gracia, yang menurutku hal paling menarik dari tubuhnya bukan bagian dada, melainkan pantat.
Iya, pantat Kak Gracia paling juara. Bentuknya benar-benar seperti buah peach. Bulat sekal sempurna. Kalau Ashel... Hmm... Menurutku dia lebih berisi dibanding yang lain. Kalau Flora... dia punya tubuh yang ideal juga. Ramping, seksi, perutnya rata dan pinggulnya lebar, ditambah dadanya juga besar, tapi dia terlalu mini untukku.
Nah, kalau Marsha, meski dadanya paling kecil di antara semua perempuan di kos ini yang pernah aku lihat dalam keadaan telanjang, tapi dia punya kaki jenjang, pinggul kecil, kulit putih seperti susu dan... puting serta vaginanya berwarna merah muda cerah.
Sumpah, aku kira perempuan yang mempunyai puting dan vagina merah muda cerah itu hanya ada di video jepang atau anime jorok saja. Kemarin aku melihatnya langsung dengan mata kepala, puting dan vagina Marsha berwarna merah mudah cerah.
Aku penasaran dengan itu. Rasanya ingin mencicipi tubuh Marsha bagaimanapun caranya. Aku harus membuat rencana.
Kakiku berjalan mengendap menuju tangga. Kupastikan Marsha dan laki-laki itu sudah naik ke rooftop. Tapi baru saja aku menapaki anak tangga pertama, pintu kamar 205 terbuka.
"Mau ke rooftop?"
Kak Indah yang bertanya dan keluar dari dalam kamar 205. Seketika langkahku berhenti. "Iya, Kak."
"Jangan." Kak Indah mengulum senyumnya. Dia berjalan mendekat dengan kedua tangannya di belakang. "Mau ngapain emang ke rooftop?"
"M-mau..." Ucapanku terhenti karena tiba-tiba wajah Kak Indah mendekati wajahku. Benar-benar dekat, bahkan kurang dari sejengkal. "Mau nyantai, Kak."
"Nyantai di kamar Kakak aja, yuk?"
Tiba-tiba tanganku ditarik paksa masuk ke dalam kamarnya tanpa sempat aku menolak.
Cklek.
Kini aku sudah di dalam kamar Kak Indah dengan pintu tertutup dan terkunci rapat. Masih dengan daster coklatnya, Kak Indah terlihat begitu menawan. Punggungnya putih mulus. Senyumnya membuatku candu.
