5

6.5K 90 5
                                        

Aku gelisah, mondar-mandir dan berputar-putar di dalam kamar. Baru kali ini aku merasakan waktu berjalan begitu lambat.

Sampai pada akhirnya jam menunjukkan pukul 6 sore. Rasa gelisah ini membuatku lapar. Aku harus keluar untuk mencari makan.

Jaga-jaga kalau Kak Ashel pulang aku bisa langsung tau, aku memilih mencari makan di dekat kosan.

Kebetulan saat aku turun dari tangga, aku berpapasan dengan laki-laki yang baru keluar dari kamar yang dekat tangga. Dia menyapa, aku membalasnya.

"Mau cari makan?" tanya laki-laki itu.

Aku mengangguk. "Iya, Bang. Paling deket-deket sini."

"Bareng aja kalo gitu. Gue juga mau nyari makan."

Aku menyetujuinya, lalu saat kami sampai di lantai satu, dia menyodorkan tangannya. "Gue Hanan. Kamar 201."

"Arshaka, Bang." Aku menyambut tangannya, menjabat sekejap sebelum berjalan di sampingnya. "Udah lama di sini?"

"Iya," kata Hanan. "Hampir setahun lah."

"Kerja di mana emang, Bang?"

"Di Sudirman. Deket kok." Hanan menoleh sekejap ke aku. "Lo baru, ya, di sini?"

"Iya, Bang. Baru seminggu lebih."

"Gimana?" tanya Hanan, tapi aku tak tahu maksudnya. Ia pun sadar dan memberi penjelasan. "Gimana di sini? Kerasan, 'kan?"

"Kerasan kok."

"Udah kenalan sama semua penghuni yang di lantai dua?" tanya dia.

"Belum."

"Udah ada pikiran mau deketin yang mana?" tanya Hanan, lalu melirik ke arahku dengan senyum miring.

Aku tertawa getir.

"Lo boleh deketin siapa aja di kosan ini, tapi jangan punya gue, ya."

Kedua alisku bertaut, lalu menoleh ke arahnya. "Emang abang punya pacar di sini?"

"Bukan pacar sih... Masih coba deketin. Kamar 205."

"Kamar 205?" Aku mencoba mengingat, tapi sepertinya aku belum pernah bertemu dengan penghuni kamar itu.

"Iya. Kamar 205. Depan kamar gue persis," jelasnya.

"Oh, belom pernah ketemu sih, Bang." Aku mengangguk kecil.

Si Hanan merangkul pundakku, lalu dia mendekat. "Namanya Indah. Orang Jambi. Jangan berani-berani lo coba deketin dia. Oke?" Nadanya begitu dingin. Dia serius.

"I-iya, Bang."

Seketika tangannya lepas setelah aku mengucapkan itu. Lantas dia terkekeh. "Mau makan apa?"

"Ngikut Abang aja deh."

Kami memutuskan untuk makan ketoprak yang jual di depan gang kosan. Kami duduk saling berhadapan.

Ternyata Bang Hanan ini orang Jawa. Dia berasal dari Semarang. Sudah satu tahun dia merantau di ibukota.

Dan perempuan yang dia sebut tadi datang lima bulan lalu. Di pandangan pertama dia sudah jatuh cinta pada Indah. Aku penasaran dengan wajah Indah, tapi Bang Hanan enggan untuk memperlihatkan fotonya.

"Gue takut kalo lo naksir sama dia, Shak. Lo liat sendiri aja deh nanti."

Aku terkekeh. Kebetulan pesanan kita datang. Lantas obrolan kita jadi sedikit ringan di sela-sela makan.

Tak terasa, ternyata sudah hampir jam set 8 malam ketika aku dan Bang Hanan memutuskan untuk pulang. Jantungku tak beraturan membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini dengan Kak Ashel di kamarnya.

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang