Part 13

5.8K 122 9
                                        

"Oohh... sama sih, Dek. Dulu aku waktu kuliah juga sering banget disuruh ngerangkum gini kok. Abis ngerangkum, suruh presentasiin. Kayak ... dosennya males nerangin aja dan dijadiin tugas kelompok gini."

"Iya, Kak? Yah, males banget dapet dosen kayak gitu. Terus, Kakak juga sering ngerjain tugas kelompok gitu di kosan temen?"

"Enggak, sih. Dulu lebih sering di rumah aku pas ngerjain tugas kelompok."

"Gak pernah di kosan temen?"

"Pernah sih."

"Ngerjain tugas kelompok doang kan, Kak?"

"Hah?"

"Hah?"

Aku yang dari tadi sibuk merangkum dan diam-diam mendengarkan percakapan Azizi dan Ci Shani langsung menoleh, menatap Azizi dengan tak percaya dengan mulut setengah terbuka. Ekspresiku seperti berucap 'kamu serius nanya gitu?'.

Ci Shani tiba-tiba salah tingkah, menatap Azizi dan aku bergantian. "I-iya, dong. Emang mau ngapain lagi?"

Sekarang giliran Azizi yang menatapku. Seketika jantungku berdegup tak karuan. Hal apa lagi yang akan diucapkan anak songong ini?

Aku tahu pertanyaan itu menjurus ke suatu hal. Masalahnya, aku dan Azizi baru saja melakukan itu. Kalau dia sengaja memancing ke topik itu, aku akan mengusirnya detik itu juga.

"Yaaa... siapa tau sambil nonton film? Sambil MAIN juga bisa?" kata Azizi dengan intonasinya ditekankan pada kata MAIN serta matanya mengerling.

Gila. Aku siap-siap mengusirnya.

"O-ohhh... E-enggak. Enggak, kok. Aku cuma ngerjain doang terus pulang," sahut ci Shani masih sedikit salah tingkah.

Entah kenapa kini fokusku beralih ke Ci Shani yang salah tingkah dengan pertanyaan itu. Apa ada sesuatu yang disembunyikannya? Kalau dia memang tidak pernah melakukan sesuatu, harusnya caranya menjawab biasa aja dong.

"Yah, gak seru, Ci. Harusnya ngerjain tugas kelompok sambil main," Azizi melirik ke arahku sambil menyikut lenganku pelan.

Aku mulai deg-deg an. Sebelum pembicaraan mereka semakin jauh, aku alihkan dengan memotong pembicaraan mereka.

"Zee, udah sampe mana? Udah jam segini. Apa kamu gak dicariin orang tuamu?"

"Oh, iya." Azizi menatap jam dinding sekejap. Matanya membulat, lalu dia beranjak. "Gue lanjutin di rumah aja deh. Besok gue ke sini lagi," katanya.

"Enggak! Enak aja kesini lagi."

"Jangan gitu, Dek. Biarin dong. Kan cuma ngerjain tugas, 'kan?" tegur Ci Shani dengan jawabanku.

Untuk sedetik aku dan Azizi saling bertukar pandang, lalu tertawa kikuk kemudian. Azizi pun meringkasi barang-barangnya sebelum berpamitan dan aku antarkan sampai gerbang.

"Jujur aja, lo jago. Gue jadi nagih," katanya setelah menekan tombol buka kunci di remote kunci mobilnya. "Kapan-kapan gue pengen lagi sama lo."

Aku hanya tersenyum miring sembari mengedikkan bahuku. Sedikit bangga mendapat pujian itu, tapi juga deg-deg an karena kita melakukannya di waktu yang tak tepat. Mungkin aku akan mengiyakan jika situasi dan kondisinya nanti aman dan mendukung.

"Oh, iya." Azizi menoleh ke arahku setelah membuka pintu. "Kalo kos lu ada yang kosong, kabarin, yak. Gue pengen ngekos di sini juga."

"Tanya sama yang punya aja lah!"

"Kasih nomer yang punya."

Aku menghela nafas, lalu mengeluarkan ponselku dari saku celana. Aku cari kakak pemilik kos ini dan aku kirimkan ke Azizi. Dia belum menutup pintu kalau kontak kakak pemilik kos belum masuk ke room chat nya.

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang