8

6.7K 133 4
                                        

Malam itu aku berakhir diomelin Ci Shani karena tak kunjung pulang ke kamar. Aku berkelit memberinya alasan menunggu di rooftop, padahal aku sedang bersenang-senang dengan Kak Indah. Untungnya Ci Shani tak curiga. Setelah diomelin, aku langsung mandi dan tidur di sebelahnya.

Pagi hari menjelang. Hari ini sedikit mendung. Hawa dingin yang merasuk membuat aku harus meringkuk di dalam selimut. Tapi aku yakin, setelah ini akan ada yang mengomel lagi.

"Adek, mau tidur sampe jam berapa? Kamu harus terbiasa bangun pagi buat kuliah nanti. Ospek mu kapan? Minggu depan, 'kan? Masak jam segini masih molor?"

Diberondong pertanyaan itu membuat telingaku risih. Dengan malas aku beranjak turun dari kasur dan mulai membereskannya. Saat itu kulihat Ci Shani sudah duduk di meja rias sambil memakai maskara.

"Mendung, Ci. Mager banget rasanya. Cici apa nggak ngerasain itu juga?" Aku protes dan bersiap menerima omelannya lagi.

"Cici juga ngerasa gitu, tapi 'kan Cici harus kerja."

Oh, aku kira dia akan mengomeliku lagi.

Setelah membereskan tempat tidur, aku langsung mengantar Ci Shani ke bawah. Ojek pesanannya kebetulan baru datang.

"Sarapan, ya. Uangnya Cici taroh di meja," katanya sebelum abang gojek melajukan motornya. Aku membalas dengan acungan jempol.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya minggu depan aku mulai kuliah. Aku harus menikmati hari-hari santai terakhirku dengan maksimal sebelum bergelut dengan tugas ospek yang kata Ci Shani 'nggak masuk akal'. Aku haru mulai dari mana pagi ini, ya?

Ah, iya. Sekarang aku punya spot favorit di kosan ini yaitu; rooftop. Harusnya di pagi ini sepi. Maka dari itu aku pergi ke dapur bersama, mengambil satu sachet kopi instan dan menyeduhnya, lalu kubawa ke rooftop.

Aku kira rooftop akan kosong pagi ini, ternyata ada satu orang yang sedang duduk di dekat dinding yang menghadap ke bagian depan kosan. Kuperhatikan sekilas. Ternyata dia adalah si penghuni misterius yang pernah melengos ketika aku sapa.

Keadaannya masih sama seperti saat kita pertama bertemu. Rambutnya yang meski lurus itu terlihat acak-acakan. Tidak disisir. Tubuhnya kurus. Bisa kulihat juga ada kantung mata besar di sana. Keadaannya kacau. Matanya fokus ke layar iPad di hadapannya dengan jari menggenggam pensil tab itu.

Aku tak masalah dengan keberadaannya. Kuanggap dia tak kasat mata, lalu aku memilih untuk di kursi panjang yang pernah dipakai Marsha untuk bercinta. Tapi, baru saja aku meletakkan pantatku di kursi panjang ini, tiba-tiba aku mendengar dia berucap dengan nada kesal.

"Ah, baru aja pengen nyari udara pagi dengan suasana sepi, udah ada yang ganggu aja."

Hah?!

Apa yang aku lakukan?

Apa keberadaanku di sini mengganggunya? Apa suara nafasku membuatnya risih?

Astaga, orang ini. Aku berani bertaruh apapun kalau orang ini pasti tidak punya teman di dunia nyata dan seorang keyboard warrior di dunia maya alias freak banget ini orang!

Terang-terangan mataku menatap tak suka ke arahnya. Dia melirik sinis dan melengos begitu saja. Tak lama kemudian dia meringkasi iPadnya sebelum pergi begitu saja dari rooftop tanpa menatapku lagi.

Astaga. Aku kira pagi ini akan cerah dan aku bisa menyeduh kopi dengan perasaan tenang. Tapi jam baru saja menunjukkan pukul delapan, tapi hatiku sudah panas seperti terik matahari di jam 12 siang! Kopi manis yang barusan aku sesap rasanya jadi pahit. Aku sudah hilang selera.

"Kenapa?"

Aku sedikit tersentak ketika ada seseorang yang sudah berdiri di sampingku sambil memegangi cangkir yang mengepulkan asap. Orang itu ternyata Indira. Sejak kapan dia berdiri di sampingku?

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang