Aku lupa kalo di sini itu gak bisa copy-paste foto. Jadi kalian kalo penasaran sama foto yang tersemat, bisa cek link yang ada di bio, ya! Xixixix.
*
*
*
*
*
*
Happy Reading!
___***___
Sampai Ci Shani pulang, masih belum ada tanda-tanda Ashel akan menepati janjinya soal 'itu'. Aku tak ingin terlihat berharap dan membiarkan Ashel nanti yang datang dan mengajakku. Tapi kalau Ci Shani sudah pulang, aku takut ketahuan sama dia. Satu-satunya cara yaaa waktu Ci Shani sedang di kantor.
Tapi waktuku mulai kuliah mulai dekat. Bahkan sekarang aku sudah di-invite ke dalam grup OSPEK. minggu depan akan ada gathering bersama teman-temanku seangkatan.
Okay. Di sore hari yang membosankan ini, aku memilih bersantai di rooftop. Panas, tapi daripada di kamar dan suntuk, aku memilih di rooftop sambil melihat pemandangan gedung-gedung tinggi di kejauhan.
Ci Shani mengabari kalau dia akan lembur. Dia mengirim uang untuk aku membeli makan malam sendiri. Namun karena aku malas keluar kosan, aku memilih memesan lewat aplikasi online.
Saat melihat abang ojek online yang mengantar pesananku sudah dekat, aku buru-buru turun untuk menunggunya di gerbang kosan. Kebetulan saat hendak keluar, aku berpapasan dengan salah satu penghuni kosan yang belum aku kenal.
Ada berapa banyak penghuni kosan ini yang aku belum kenal sih?
"Permisi, A."
Dia menyapa dengan logat sunda. Senyum tipisnya begitu manis. Aku terpesona dengan senyum itu.
Aku mengangguk kecil, membalas sapaannya sebelum dia berlalu. Saat menaiki tangga, mataku menangkap bongkahan pantatnya yang tercetak di celana legging nya itu.
Okay. Selain punya wajah cantik, penghuni kosan itu juga punya badan seksi.
Tunggu sebentar. Selama tinggal di sini, aku merasa semua penghuni kosan ini liar. Dari yang aku kenal pertama yaitu Gracia. Kalian juga tau ceritanya seperti apa, lalu Flora, Ashel, dan penghuni kamar 205 yang aku belum tau yang mana namanya Indah.
Ciciku? Hahaha. Jangan gila. Mana mungkin kelakuan Ciciku seperti mereka?
Karena banyak kejadian janggal yang aku alami disini entah kenapa otak kotor ku langsung melanglang buana ketika melihat perempuan yang baru saja menyapaku.
Apakah dia juga seliar Kak Gracia atau Flora atau Ashel? Kalo iya, aku akan cari-cari kesempatan.
Tak lama kemudian, abang gojek yang membawa pesananku datang. Kebetulan juga Kak Hanan juga datang diantar ojek.
"Pesen apa?" tanya dia padaku setelah menyerahkan helm ke abang ojek itu.
"Makan, Kak."
"Jangan dimakan dulu. Temenin gue beli makan di depan trus makan bareng sama gue," katanya lagi. Nadanya bukan meminta, tapi seperti memerintah.
Aku menghela nafas, lalu mengikutinya yang mulai berjalan menuju depan gang. Padahal tujuanku memesan lewat aplikasi online karena malas jalan ke depan gang.
"Balik kerja?" kutanya sebagai basa-basi pembuka obrolan pada Kak Hanan.
"Iya. Jarang-jarang banget gue bisa balik jam segini. Biasanya paling cepet jam 8 malem," katanya.
