10

7.1K 135 2
                                        

Kami sedikit telat pulang ke kosan setelah ngopi cantik dengan Ci Shani dan Gracia. Hampir tengah malam saat taksi online yang mengantar kami berhenti tepat di depan kosan. Kebetulan juga hujan sehingga kami susah mencari taksi online yang mau mengambil pesanan kami.

"Ci, aku tidur tempatmu boleh ga?" ucap Gracia ketika kita hendak naik ke lantai dua. Aku kaget, tapi lebih kaget dengan jawaban Ci Shani.

"Boleh aja, tapi adekku gimana?"

Hah? Ci Shani lebih mentingin Gracia ketimbang aku?

Kemudian mereka berdua berhenti melangkah, menatapku dengan tatapan kosong. Seolah tatapan itu menyuruhku untuk mengalah.

"Aku tidur di lantai deh," sahutku dengan kesal, lalu berjalan melaluinya. Gracia tertawa.

"Engga, Dek. Cici di tengah aja," jawab Ci Shani, santai.

"Kenapa Cici nggak tidur kamarnya Kak Gracia aja terus aku tidur sendiri? Enak, 'kan?"

"Oh, iya. Gitu aja, Ci." Gracia antusias. Mereka menyusul aku melangkah ke lantai dua.

"Oh, iya. Bener juga." Ci Shani terkekeh. "Ya, udah, aku di tempatmu aja, Ge."

Lalu Gracia berbelok ke kamarnya sementara Ci Shani buru-buru masuk ke kamar dan aku mengikutinya.

Aku heran dengan Ci Shani. Bagaimana bisa dia seakrab itu dengan Gracia dalam waktu singkat? Setahuku Ci Shani susah bergaul dengan orang. Setahuku juga ini hari pertama mereka berinteraksi. Tapi lihatlah, mereka seperti sahabat karib.

Ah, aku tak peduli. Bahkan melihat Ci Shani mengambil skin care nya dan langsung keluar dari kamar, aku tak peduli. Setidaknya aku bisa tidur dengan tenang.

Namun baru saja aku selesai bersih-bersih dan mengganti baju tidur, kamarku tiba-tiba diketuk. Siapa lagi orang yang mengganggu ketenanganku di tengah malam ini?

Aku buru-buru membuka pintu, lalu orang yang mengetuk adalah ... Ashel.

"Lo udah ngantuk?"

Aku menggeleng dan mengedikkan bahu. Mataku sedikit berkeliaran karena Ashel hanya mengenakan tanktop coklat dan celana training sekarang. Tubuhnya tercetak jelas. Tanktop coklat itu press banget dengan badannya. Kalau saja rambut panjangnya tidak diurah ke depan, bulatan payudaranya pasti menantang.

"Gue mau minta tolong lo boleh gak?" tanya Ashel lagi.

Minta tolong di tengah malam seperti ini?

Tapi karena aku baik hati, aku mengiyakan. Ashel langsung menarik tanganku. Pintu kamar aku tinggalkan tertutup tanpa aku kunci. Ashel membawaku ke dalam kamarnya.

Saat aku baru saja masuk, terdapat banyak hiasan pernak-pernik mengkilap dari kertas dan tulisan happy birthday di dinding. Aku langsung menatapnya. "Lho, Kak Ashel ulang tahun?"

"Iya. Ke sembilan belas."

"Selamat ulang tahun ya, Kak." Aku menyalaminya, tapi Kak Ashel langsung memelukku dengan erat. Bisa kurasakan payudaranya yang besar menggencet dadaku.

"Makasih, ya." Kak Ashel memberi jarak, lalu menatapku. "Tapi aku mau minta bantuanmu."

"Apa emang, Kak?"

Ashel mengunci pintu, lalu membawaku duduk di tepi ranjang. Aku baru menyadari ada kue ulang tahun dengan lilin sudah ditiup. Masih ada asap tipis yang mengepul dari ujung sumbunya. Dia merayakan dengan siapa?

"Gue jelasin dulu dan lo gak boleh motong, ya." Ashel menunjuk wajahku lurus. Tatapannya serius.

"Iya." Aku sedikit takut.

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang