14

3K 84 2
                                        

"Seriusan ini?" Bukannya aku sumringah mendengar tawarannya, tapi ragu dan takut gagal memuaskan mereka berdua. Secara, Manda punya persona seperti seorang laki-laki, bisa-bisa aku yang didominasi.

"Iya. Aku sama Manda tadi lagi sama-sama sange. Kalo mau, sekalian layanin kita berdua. Tapi kalo kamu ragu ... " Indira terkekeh pelan, mengedikkan kedua bahunya. "yaaa ... gak usah."

Aku sempat menerka kalau kekehannya itu seperti merendahkan, meledek aku yang terlihat ragu. Memang, aku ragu karena harus melayani mereka berdua, tapi di sisi lain aku juga takut Ci Shani nanti mencariku.

Untuk itu aku berpikir cepat. Aku harus mencari alasan agar Ci Shani tidak khawatir nantinya. Lantas aku mengambil ponsel di saku, lalu mencari kontak Ci Shani. Aku tinggalkan pesan singkat yang menjelaskan akan pergi ke warkop depan gang. Setelah itu kembali aku simpan ke dalam saku dan menatap Indira yang tengah menunggu. "Ayuk. Jangan nyepelin aku."

"Siapa yang nyepelein?" Nada bicara Indira terdengar sarkas. Apa dia sedang menahan tawa?

Kemudian aku mengikutinya menuju ke kamar. Jantungku jujur saja berdegup cukup kencang. Tapi saat kami masuk, di dalam kamarnya masih ada kedua teman Manda.

Mataku mengerjap. Temannya ada dua. Ternyata mereka kembar.

"Kok lo bawa Arshaka?" tanya Manda setelah kami masuk dan menutup pintu. Kedua teman Manda juga menatapku dan mengangguk kecil menyapaku.

"Iya. Ketemu dia di rooftop. Gue ajakin aja ke sini," jelas Indira sembari menyuruhku duduk di kursi belajar sementara dia duduk di tepi ranjang bersama Manda dan kedua anak kembar ini duduk di lantai. "Biar makin rame," sambungnya dengan sedikit menekan. Jelas itu sarkas.

Aku tahu Indira sedang kesal karena kedatangan dua teman Manda, tapi seharusnya dia tidak seperti itu menunjukkannya meski senyumnya sedari tadi tidak luntur. Untungnya dua anak kembar itu tak merasa. Mereka masih sibuk dengan ponselnya.

"Oh, iya, Ka. Kenalin, ini temen gue. Desy sama Dena." Manda mengenalkan dua temannya, tapi tanpa menunjuk mana yang Desy dan mana yang Dena. Bagaimana bisa aku membedakan mereka kalau begini?

Beruntung mereka inisiatif mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Sialnya, meski mereka sudah memperkenalkan diri, aku masih belum bisa mengenali perbedaan mereka. Aku cuma tahu kalau Desy memakai baju kuning dan Dena memakai kemeja putih. Jangan sampai tertukar.

Kini obrolan kami seakan terpecah. Aku sesekali mengobrol dengan Indira, dan Manda mengobrol dengan si kembar. Obrolanku dengan Indira seputar kuliah dan topik-topik ringan yang viral di media sosial. Namun perlahan obrolan kami mulai jadi satu saat Desy mulai menimpali apa yang aku bicarakan dengan Indira.

"Iya, Kak. Kalo paling murah deket kampus sih emang itu, tapi menurut ku nggak begitu enak. Ada yang lebih enak lagi. Tempatnya sebelah ATM center yang deket gedung serba guna."

Kami sedang membicarakan coffee shop yang menjual pastry termurah di area kampus.

"Ohhh... Itu. Gue tau, tapi tempatnya kecil," sahut Manda."

"Aku biasanya take away sih, Kak. Males nongkrong di sana soalnya kecil," jelas Desy.

"Ohhh... Croissant yang biasanya lo beli satu doang itu, ya?" Dena menimpali dengan nada mengejek dengan matanya sinis.

"Mahal, Deeenn... Tapi 'kan gue selalu ngasih lo setengah!" Desy membela.

"Selalu?" Nada Dena tak terima. "Selalu apaan? Orang gue harus minta dulu sampe mohon-mohon baru lo mau bagi setengah. Emang dasarnya lo pelit aja!"

"Heeei, heeii. Ni anak kembar berantem mulu!" Manda melerai mereka, seperti figur seorang kakak. "Kalian di rumah juga kayak gini, ya? Apa nggak pusing orang rumah?"

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang