Sepertinya belum rezeki untuk lanjut ke ronde dua. Pasalnya, setelah kami selesai makan bubur ayam di warung depan gang, Ci Shani menghubungi kalau dia dalam perjalanan pulang. Dia juga menawariku makanan, tapi aku menolak karena sudah makan dengan Gracia. Tentunya aku tidak menjelaskan kalau aku makan bersama Gracia.
"Gimana?" tanya Gracia ketika membuka kunci pintu kamar kosnya.
"Yaaa... Gak gimana-gimana. Aku harus pulang sekarang," kujawab, pasrah. Kulihat Gracia juga kecewa dengan jawabanku.
"Apa mau quickie bentar?"
Aku melihat live location yang dikirim Ci Shani lewat aplikasi. Harusnya dia sampai ke kosan dalam waktu dekat. Mungkin 10 menit. Menurutku 10 menit bukan waktu yang masuk akal untuk quickie. Mungkin bisa, tapi aku yakin tidak akan mendapat nikmatnya.
"Besok aja deh, Kak," kujawab lagi setelah menimang. "Ci Shani bentar lagi pulang. Bahaya."
"Orang gue sangenya sekarang."
"Mau gimana lagi, Kaaaakk..." Aku kesal karena Gracia seakan memaksa. Ini juga salahnya karena makan terlalu lama tadi. Padahal cuma makan bubur tapi satu mangkok bisa hampir satu jam. Heran.
"Beneran gak mau quickie dulu? Bentar ajaaa..." Gracia menahan tanganku setelah aku mengambil tas di dalam kamarnya.
"Ci Shani gimana?"
"Ya, udah. Bertiga sama Ci Shani berani gak?"
"Gila!" Tanganku menggeliat pelan saat mencoba lepas dari genggamannya. "Besok aja, ya, Kak. Takut sama Ci Shani. Bye!"
"Gimana kalo gue izin sama Ci Shani aja buat minjem elo bentar?"
Seketika langkah kakiku berhenti, lalu memutar menghadap ke Gracia yang masih berdiri di ambang pintunya. "Maksud Kakak?"
"Yaaa... gue bilang sama Ci Shani buat ngajakin lo main gitu. Clear, 'kan?"
Ide menarik, tapi sebelum aku mengiyakan tawaran itu, penghuni kamar 201 alias si aneh itu tiba-tiba keluar dari kamar dan melihat aku yang sedang berdiri di depan kamar Gracia. Tatapannya begitu mencurigakan dengan senyum miring di bibirnya. Anak rambutnya yang berantakan jelas menandakan dia baru saja bangun tidur.
Jujur, tepat sebelum si aneh itu keluar dari kamar, aku sudah hampir menerima tawaran Gracia. Tapi karena sekarang ada saksi mata, aku memilih mengurungkannya. Si aneh itu bisa jadi mengadu pada Ci Shani. Memang, itu hampir tidak mungkin, tapi karena saksi matanya adalah dia, hal itu bisa terjadi, mengingat dia aneh.
"Sorry, Kak. Besok aja deh. Takut sama Ci Shani."
Aku meninggalkan Gracia dengan muka penuh kecewa sementara si aneh itu masih berdiri di depan pintu kamarnya melihat aku berjalan dari depan kamar Gracia menuju kamarku. Merinding, 'kan? Aneh, 'kan?
***
Akhir-akhir ini pikiranku terganggu dengan foto Ci Shani yang ada di galeri Gracia. Selain penasaran bagaimana dia punya foto itu, aku juga penasaran dengan fotonya. Jujur aja, selama kami mulai serumah sekalipun Ci Shani tak pernah berpakaian seksi di depanku. Paling mentok dia cuma memakai tanktop dan celana pendek.
Ngomong-ngomong soal Ci Shani, kalau kalian penasaran apakah aku pernah penasaran dengan tubuhnya, jawabannya adalah iya. Aku pernah penasaran dengan bagaimana wujudnya tanpa busana, tapi sekalipun aku tak pernah berniat mengintip dia saat mandi atau ganti baju. Semenjak kami tinggal satu kos juga Ci Shani selalu berganti baju di dalam kamar mandi.
Meski aku cuma adik tirinya, akal sehatku masih ada. Memang, kita tidak ada hubungan darah dan sah-sah saja kalau seumpama aku dan Ci Shani saling suka, tapi menurutku itu amoral. Jelas-jelas Ci Shani kakak tiriku. Di sisi lain, Ci Shani juga tak pernah menggodaku. Dia benar-benar seperti kakak bagiku.
