15

3.1K 104 5
                                        

Seperti dugaanku. Saat baru saja membuka pintu kamar kos, Ci Shani sudah berdiri di balik pintu sambil berkacak pinggang. Kedua alisnya bertaut di tengah. Tatapannya tajam. Detik itu juga aku sudah pasrah mau dimarahi dan dihukum seperti apa oleh Ci Shani.

"Ni anak bener-bener, ya!" Ci Shani menarik aku setelah menutup pintu dengan rapat. Telingaku langsung dijewer dan diseret sampai di samping ranjang. "Bisa-bisanya mabar doang di warkop sampe jam segini?! Emang besok kamu libur? Nggak niat kuliah, ya?!"

"Ampun, Ci. Ampuuunn..." Aku harus berjinjit karena kalau tidak, telingaku terasa sakit sekali dijewer dia. "Ampun, Ci... Maaafff...."

"Maaf, maaf, enak aja. Kalo kamu gak niat kuliah, gak usah kuliah! Pulang aja ke Jogja!" Nada bicara Ci Shani semakin tinggi. Aku takut tetangga kosan yang lain mendengarnya.

"Maaf, Ci. Maaf." Aku terus memohon ampunnya, meminta maaf dan berjinjit. Tapi Ci Shani terus menarik telingaku. Dia baru melepasnya setelah telingaku merah menyala. Ci Shani langsung melipat tangan di depan dada dan melihatku merintih kesakitan sembari mengusap-usap telinga.

Ci Shani menghela nafas, seakan di helaan nafasnya itu kesabarannya sudah habis. Ia tak mengucapkan apapun lagi setelah itu dan naik ke atas ranjang sebelum menggulung tubuhnya dengan selimut. "Buruan mandi terus tidur. Besok kuliah. Cici udah ngantuk."

"I-iya, Ci."

***

Kalian tentu masih ingat orang aneh yang sering menggangguku itu, 'kan? Akhir-akhir ini aku sering berpapasan dengan dia di gerbang kosan saat pulang kuliah. Padahal jam pulang ku ke kos tidak tentu, tapi frekuensi berpapasan dengan dia hampir setiap hari. Jujur saja, aku sedikit merinding karena takut kalau dia ternyata selama ini menguntit.

Oh, iya. Saat berpapasan kami seperti tidak saling kenal, bahkan bertegur sapa juga tidak. Cuma berlalu begitu saja lalu hilang. Sudah. Memang aneh.

Aku juga menyadari kalau si orang aneh itu nampak semakin kurus semenjak aku melihatnya pertama kali. Apa tugas kuliahnya semengerikan itu? Padahal menurutku dia lumayan cantik saat masih sedikit berisi, tapi karena seperti tidak terawat, cantiknya itu hilang. Ditambah dia juga menjengkelkan.

Hari ini juga sama, saat aku pulang ke kos setelah melewati hari panjang di kampus, aku berpapasan dengannya di gerbang. Dia ke arah keluar, menenteng tas belanja dengan kaos oversize dan celana pendek hampir tak terlihat tertutup kaosnya. Aku bisa melihat pahanya yang kecil tapi putih mulus itu.

Saat berpapasan aku tidak ada niat untuk menyapa, begitu pula dia. Kami cuma berlalu begitu saja. Saat aku sampai ke lantai dua, kebetulan aku bertemu Gracia. Dia hendak membuka pintu kamarnya.

"Baru keliatan," aku basa-basi, lalu melihat tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki. Mataku terpana melihat tubuhnya hanya dibalut legging dan tanktop hitam yang ketat. "Abis nge-gym?"

Gracia menggeleng. "Pilates."

"Apa itu?"

"Hmm... Ya, gitu deh. Susah jelasinnya. Pokoknya... hmmm gimana, ya?"

Kepalaku sedikit meneleng. Mataku diam-diam mengamati tubuhnya. Anak rambutnya yang sedikit berantakan itu membuat tatapannya yang sayu jadi lebih menggoda. Jujur saja, aku kangen mencicipi tubuhnya, tapi bagaimana caranya meminta?

"Pokoknya gitu deh," ucapan Gracia membuyarkan lamunanku. "Gerakannya kayak peregangan doang gitu, tapi semua otot dilatih. Intinya gitu."

"Masih gak paham," kataku.

"Tadi gue rekam sih pas latihan. Mau lihat?"

"Mau."

"Sini masuk."

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang