12

9.9K 153 11
                                        

"Seriusan, kosan lo nyaman banget. Gede. Fasilitasnya lengkap juga. Jadi pengen ngekos di sini," katanya dengan santai sambil mengusap-usap sprei kasurku dan kakinya yang menggantung berayun-ayun. Matanya tak henti-hentinya mengedar, melihat pernak-pernik yang ada di meja belajar, lemari sampai kasur. Lalu, dia menatapku lagi dengan tatapan polosnya. "Lo tinggal bareng Cici lo, 'kan?"

Aku menggeleng. "Iya, bareng Cici ku. Kenapa?" aku tanya balik.

"Oh, pantesan ada itu." Azizi menunjuk gagang pintu kamar mandi. Mataku membulat sempurna. Bagaimana bisa ada bra warna ungu menggantung dengan indahnya di gagang pintu kamar mandi? Tentu saja itu milik Ci Shani.

Dengan sigap langsung aku sambar, lalu melemparkan bra itu ke keranjang kotor sebelum aku menatapnya sambil tersenyum canggung. Kok tumben banget Ci Shani teledor dan berantakan seperti itu?!

"Gue hampir ngira lo pake beha. Ternyata punya Cici lo," kata Azizi sembari menahan tawa.

"Diem ah!"

Azizi melihat bra yang tadi aku lempar ke keranjang kotor sekejap, lalu menatapku lagi. "Kecil, ya."

"Apanya?" Keningku mengernyit.

"Ituuu..." Azizi menunjuk bra Ci Shani di keranjang kotor dengan dagunya. "Kecil deh. Cup A, ya?"

"Mana aku tau!" Aku memasukkan lebih dalam di tumpukan baju kotor bra itu daripada dikomen Azizi lagi. "Kamu ke sini mau ngerjain tugas bareng atau mau komenin beha Cici ku?"

Azizi terkekeh, lalu mengambil tas nya. Ia mengeluarkan laptop berlogo apel digigit. Seperti dugaanku, dia anak orang kaya.

Aku juga melakukan hal sama, mengeluarkan laptopku dari dalam tas dan duduk di samping Azizi yang sudah duduk di lantai sambil bersandar di kasur.

"Mulai dari mana?" tanya dia.

"Rangkum dulu aja baru dibikin power point, biar gampang."

"Oke. Gue rangkum dari bab satu sampe dua, lo bab tiga sampe empat, ya. Butuh waktu berapa lama kira-kira?" Azizi menoleh, menatapku dengan kedua alisnya sedikit menjauhi kelopak mata.

"Sejam mungkin?"

"Oke, satu jam."

Setelah itu kami sama-sama fokus ke layar laptop, membaca e-book yang dibagikan dosen tempo hari untuk merangkumnya. Aku tulis di word point-point penting yang perlu dicatat. Baru beberapa halaman aku baca dan belum sempat mencatat point penting, tiba-tiba Azizi menceletuk begini...

"Laper. Lo gak ada jajan?"

"Lah? Tadi kamu bilang mau bawain jajan?"

Azizi menatapku dengan tatapan yang seperti pura-pura lupa. Mulutnya setengah terbuka, lalu dia tertawa. "Oh, iya. Sorry deh. Lo mau makan apa kalo gitu? Biar gue pesenin."

"Ngikut kamu aja. Bebas."

Azizi mengeluarkan ponselnya dari saku celena sementara aku fokus merangkum lagi. Tak lama kemudian dia menunjukkan layar ponselnya ke aku. "Gue pesenin ayam fast food. Doyan, 'kan?"

"Doyan. Makasih, ya."

Azizi berdehem, mengangguk sebelum menyimpan ponselnya di saku celana lagi.

"Gue masih penasaran deh," katanya tiba-tiba di tengah keheningan kami merangkum.

Sontak aku menoleh, menatapnya dengan bingung. "Penasaran apa sih?"

"Ituuuu..."

Tiba-tiba Azizi beranjak, meletakkan laptop nya di atas ranjang. Dia berjalan mendekati keranjang kotor. Dengan santainya dan tak punya sopan santun, dia merogoh keranjang baju kotor itu, lalu mengambil bra milik Ci Shani dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Penasaran sama ukurannya Cici lo."

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang