Pagi ini rasanya malas. Benar-benar malas. Entah kenapa bangun pagi di hari Senin rasanya tiada motivasi. Hampa. Ditambah pagi ini mendung dan dingin. Hawa yang pas untuk menggulung tubuh di dalam selimut dengan rapat. Tapi...
"Kuliah!"
Suara Ci Shani meninggi karena aku tak kunjung beranjak dari ranjang. Ia tarik paksa selimut yang menggulung tubuhku. Aku kedinginan, lalu seketika beranjak sebelum Ci Shani kembali meninggikan suaranya.
Ya, aku sudah mulai kuliah di musim penghujan ini. Kenapa kuliah tidak dimulai di musim kemarau saja? Mendung, dingin seperti ini enaknya buat santai-santai aja.
Ci Shani mulai ngereog lagi saat melihat aku lelet bersiap-siap. Padahal kuliahku masih nanti, jam 11 siang. Ini masih jam 8 pagi, astaga!
"Ci, aku kuliah jam 11 siang. Ini masih jam 8 pagi. Aku masih bisa santai sebentar lagi."
"Enggak!" Ci Shani melempar kuncir rambutnya ke arahku. "Kalo kamu ngga mandi sekarang, bisa-bisa nanti kamu tidur lagi, terus kesiangan, terus nggak kuliah. Mau jadi apa kalo kamu gak kuliah?"
"Astaga..." Aku menghela nafas panjang, lalu beranjak dari ranjang. Tanganku menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi buru-buru sebelum Ci Shani meninggikan suaranya lagi. Tepat saat kakiku menapak lantai kamar mandi, hujan mengguyur dengan derasnya.
Selepas aku keluar dari dalam kamar mandi, Ci Shani sudah pergi. Akhirnya aku bisa santai lagi sekarang. Tapi... tadi Ci Shani berangkat pake apa, ya? Dia kehujanan apa nggak, ya? Apa dia masih di bawah?
Aku khawatir Ci Shani kehujanan di bawah saat menunggu ojek atau taksi online yang ia pesan. Buru-buru aku memakai baju, lalu menyambar payung sebelum berlari turun.
Sesampainya aku di depan, ternyata Ci Shani sudah pergi. Semoga ci Shani nggak kehujanan. Aku memastikan sampai di luar. Hujannya deras. Mataku menangkap seorang perempuan yang sedang berdiri di depan kosan.
Mataku mengerjap. Dia perempuan sungguhan. Kenapa dia hujan-hujanan di depan kosan?
"Kak, ngapain di situ?" Aku buru-buru menghampirinya dan langsung aku tutupi payung. "Kok hujan-hujanan di sini ngapain, Kak?"
Kasian. Aku bisa melihat tubuhnya menggigil dan bibirnya sudah membiru. Kedua tangannya melipat di depan dada. Mataku sedikit membulat melihat kaos putih ya yang basah itu membuat tubuhnya tercetak jelas. Dadanya besar padahal badannya kurus.
"A-aku lagi nungguin temenku," katanya dengan suara bergetar.
"Nungguin kok di sini? Kok hujan-hujanan? Ayo, masuk." Aku mengajaknya masuk atas dasar peri kemanusiaan, bukan atas dadar hal lain. Kalau bisa melihat tubuhnya yang tercetak jelas karena kaosnya basah kuyup, itu bonus.
Aku persilahkan perempuan ini masuk ke teras kosan dan duduk di bangku teras. Badannya benar-benar basah kuyup. Aku kasihan melihatnya.
"Nungguin siapa, Kak?" kutanya.
Dia tak menjawab. Badannya masih menggigil dengan kedua tangan menyilang di depan dada dan mengusap-usap lengannya sendiri. Aku makin kasian, lantas aku naik ke atas, mengambil handuk baru untuk perempuan ini. Dia langsung mengeringkan tubuhnya dengan handuk itu.
"Nungguin siapa?" Aku tanya sekali lagi.
Dia mengangkat wajahnya, menatapku. Bibirnya biru, bergetar. Senyumnya sedikit mengembang. "Aku nungguin Kak Indira. Maaf, ya, jadi ngerepotin kamu," jelasnya.
"Oh, Indira? Astaga. Emang dia gak bisa dihubungin? Emang dia gak nyuruh kamu langsung ke kamarnya aja?"
Perempuan ini hanya menggeleng dan mencoba tersenyum meski bibirnya terus gemetar tak karuan.
