9

6.5K 117 3
                                        

Benar dugaanku kalau Ci Shani pulang cepat. Baru saja aku masuk kamar, membereskan tempat tidur, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Saat kubuka ternyata Ci Shani di balik pintu.

"Cepet banget pulangnya, Ci? Nggak lembur kayak biasanya?" kutanya, lalu kupersilahkan masuk kamar. Aku melanjutkan membereskan ranjang.

"Enggak. Lagi gak ada kerjaan juga hari ini. Pengen santai di kosan."

Kebetulan kasur sudah aku bereskan, lalu kupersilahkan Ci Shani langsung menempatinya, Rasanya sedikit ganjil karena tanpa melepas baju kerjanya dulu, Ci Shani langsng menghempaskan tubuhnya di ranjang. Aku bisa melihat payudaranya yang kecil memantul pelan.

"Nggak dilepas dulu bajunya, Ci?"

"Bantuin."

Kedua alisku sedikit menjauhi mata. Baru kali ini aku mendengar Ci Shani berucap manja seperti anak kecil.

Apa aku harus meresponnya dengan nada manja juga? Hmm... Coba aku lakukan.

"Uluh uluh. Pengen dibantuin? Sini, sini, aku bantuin." Tanganku mengulur, hendak membantu melepas blazernya, tapi seketika wajah Ci Shani langsung berubah serius. Tanganku ditepis.

"Apaan sih?" Dengan kedua alis menukik tajam, Ci Shani beranjak dan melepaskan blazernya. Blazer itu dilemparkan ke arahku. Kutangkap dan kulipat asal sebelum aku masukkan ke dalam keranjang kotor.

"Kok blazernya aja, Ci? Nggak semuanya sekalian?"

Ci Shani berdecak kesal, lalu dia kembali duduk bersila di atas ranjang. Tanpa sengaja aku bisa melihat isi rok span nya meskipun gelap. Ya, kalau tidak salah Ci Shani memakai celana dalam warna coklat. Senada dengan rok span nya. Aku meneguk ludah dengan berat.

Namun bukan itu yang membuat aku meneguk ludah jadi tambah berat, tapi tiba-tiba Ci Shani yang melepas satu persatu kancing kemejanya di hadapanku. Disibak lebar kemeja itu. Aku bisa melihat tubuh atas Ci Shani yang hanya dibalut bra warna coklat, senada dengan celana dalamnya.

"Lho, lho, Ci? Kok lepas baju depan aku?"

Ci Shani cuma mendesah, menghela nafas panjang dan melemparkan kemejanya padaku. "Gak pa-pa, 'kan? Lagian kamu juga adekku sendiri. Masak kamu mau macem-macem sama kakakmu sendiri?" Kemudian dia kembali terlentang di ranjang hanya berbalut bra.

Jujur, baru kali ini aku melihat tubuh Ci Shani setengah telanjang. Aku sudah tahu kalau payudaranya kecil dari dulu, tapi ternyata tidak sekecil itu. Menurutku masih ideal dengan tubuhnya yang ramping. Tapi bukan itu yang jadi permasalahannya. Ci Shani itu Kakak tiriku, bukan Kakak kandung. Bagaimana caranya aku bisa menahan nafsu melihat dia setengah telanjang di hadapanku?

"Ci, jangan gitu deh. Aku udah gede, lho. Aku aja gak mau telanjang depan Cici, tapi Cici malah telanjang depan aku."

"Telanjang?" Ci Shani menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Aaaa tidak, aku telanjang. Tolong tutupin ketelanjanganku." Dia malah bercanda.

"Ci, serius dikit deh."

Ci Shani berdecak kesal, lalu melirik ke arahku dengan sinis. "Aku gak telanjang, Dek. Cici masih pake bra, lho." Dia menangkup payudaranya sendiri dengan kedua tangan. Pas dengan ukuran tangannya.

Aku tak mau menginterupsi lagi. Lagipula rejeki buatku juga bisa melihat Ci Shani setengah telanjang seperti itu. Tapi masalahnya aku harus ekstra menahan birahiku sekarang. Karena kalau aku kelepasan, bisa-bisa tubuh Ci Shani aku terjang.

Tapi disisi lain, kuakui tenagaku habis. Aku sudah lelah. Seharian aku digenjot Flora di kamarnya. Mungkin penisku tak bisa memberikan performa yang prima lagi kalau seandainya Ci Shani di luar kendali dan meminta 'itu' denganku.

PensioneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang