ANYEONGGGGGGGGG
HAII GAISS, JANGAN LUPA VOTE AND KOMENN YAA ‼️ ‼️
•
•
•
•
•
•
Happy reading 🍭
"Tuan muda" Dave menundukkan badannya sedikit dengan hormat. Menyapa sang tuan yang tadi sempat tantrum macam iblis.
"Ambilkan obat ku" Perintah Fikras datar, Dave mengangguk sopan dan berjalan pergi mengambil obat milik Fikras.
Zana masuk kedalam kamar Fikras setelah berpapasan dengan Dave yang keluar untuk mengambil obat. Zana berjalan pelan menuju nakas samping kasur Fikras lalu meraih tas nya.
Fikras yang tadi sempat menutup mata nya tenang kembali terbuka, Netra biru laut itu menatap pergerakan Zana yang ingin beranjak dan membawa tas nya. Fikras segera meraih tangan mungil Zana.
Zana jatuh terduduk di atas kasur bersama Fikras yang bersender di headboard kasur. Zana ingin kembali berdiri, namun Fikras kembali menarik tangan nya dan Zana kembali jatuh terduduk di atas kasur.
Zana menghembuskan nafasnya pelan lalu bertanya, "Ada apa?" Tanya Zana menaikkan alis nya.
"Jangan pergi.." Lirih Fikras sendu. Zana menghembuskan nafas nya berat dan tersenyum tipis.
"Aku harus pergi. tugasku menjenguk mu sudah selesai" Ujar Zana memberi pengertian pada laki-laki yang sudah menyakiti nya dulu.
"Nggak! bibyy nggak boleh pergi!" Tegas Fikras menatap dalam manik Zana.
"Stop panggil aku kayak gitu! Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Lagi pula aku datang kesini menemui kamu karna teringat akan kebaikan Buna Mirkal, bukan semata karna aku peduli sama kamu" Jelas Zana menohok.
Fikras mengepalkan tangan nya marah, mata nya kembali menajam mendengar penjelasan Zana yang malah menyakiti hati nya.
Ia berharap Zana tetap disini dan merawatnya, ia merindukan Zana. Sungguh. Tapi penjelasan gadis itu menusuk hati nya dan menyulut kemarahannya.
"Oke, jika kamu kesini karna memang kebaikan Buna, aku terima. Tapi untuk memanggil kamu dengan panggilan lain dan tentang hubungan kita, aku tidak bisa. Kita masih memiliki hubungan, dan tentu nya aku berhak memanggil kamu dengan panggilan sayang!" Ucap Fikras tegas, menahan emosi nya.
Zana menunduk dengan mata berembun, mengapa pria di hadapannya ini tidak mau melepaskan nya? Zana tidak ingin merasakan sakit lagi dan menyembuhkan sakit nya selama bertahun-tahun.
"Please jangan kayak gini Fikras. Aku udah nggak mau lagi berhubungan apapun sama kamu, termasuk menjadi teman atau sahabat kamu, aku nggak mau! Apalagi harus kamu klaim kembali menjadi kekasih kamu, tentu aku semakin nggak mau!" Ujar Zana dengan mata berkaca-kaca.
Fikras terdiam, emosi dan rasa sesal menyeruak dalam hati nya. Jika tidak ada taruhan itu, pasti nya ia dan Zana sudah menikah saat ini atau bahkan Zana sudah mengandung.
Fikras menatap Zana yang menatap nya sarat akan permohonan, Zana terlihat begitu tertekan akan semua perbuatannya, tapi Fikras tentu tidak bisa melepaskan Zana.
"Anaa.. aku nggak bermaksud untuk mengklaim kamu lagi, surat keputusan sepihak kamu itu tidak pernah aku setujui, yang artinya kita masih berhubungan" Ucap Fikras.
Zana menggeleng pelan, "Nggak, aku sudah menganggap kita selesai Fikras. Untuk kembali lagi, aku tidak bisa. Aku pun juga akan menikah dua bulan lagi bersama tunanganku. Maaf, tapi aku tidak seperti Zana yang dulu" Ujar Zana lalu berdiri dengan cepat dan berjalan menuju pintu kamar Fikras dengan langkah cepat, meninggalkan Fikras yang terpaku di atas kasur nya.
Sepeninggalan Zana, Fikras mencengkram seprei nya dengan erat, mata nya mengkilatkan kemarahan dan rasa tidak terima yang begitu besar.
Fikras tidak tau bahwa Zana akan menikah dua bulan kedepan, mungkin Zana baru membuat keputusan hari ini, saat Fikras mengamuk dan Dave yang menjeda sejenak laporan kepada nya.
"Kamu nggak akan pernah ninggalin aku. Aku tekan kan itu!" Geram Fikras dingin dengan desisan emosi.
SORRY KARNA SINGKATT HEHEHE
SEEE YOUUUUUUU 🩷
KAMU SEDANG MEMBACA
FINA
Ficção AdolescenteAdegan kekerasan + Psychopat ❗❗ Para Plagiat-plagiat di mohon untuk menjauh !! Remaja 16+ • • • Semuanya berawal dari taruhan yang di setujui oleh Fikras hanya karena 'gabut' Menceritakan hidup seorang gadis dan pria pada masa SMA. dia adalah Queenz...
