Netra Beacrox bergetar saat matanya secara tak sengaja menangkap sosok seorang gadis dalam gendongannya. (Name) terluka.
Ron, sang ayah, berlari menghampiri kedua anaknya. Pria yang selalu tenang dalam situasi apa pun kini kehilangan ketenangannya. Wajahnya menggelap, emosi tak dapat disembunyikan. Cale, yang sedari tadi memperhatikan dari dekat, dapat melihat betapa amarah Ron membuncah. Namun, bukan hanya Ron-Beacrox juga memiliki ekspresi yang tak jauh berbeda dari sang ayah.
"Apa yang terjadi padanya, Beacrox?" suara Ron terdengar dingin, nada tegas yang menuntut jawaban cepat dan jelas.
Tak butuh waktu lama, Beacrox menjelaskan. "Dia diserang oleh 'Arm'."
Sejenak, pikiran Ron terasa kosong. Tapi segera, hanya satu hal yang memenuhi kepalanya-'Aku akan membunuh siapa pun yang telah menyakitinya.'
Cale, yang sudah memahami arah pikiran Ron, mengulurkan tangannya dan menepuk bahu pria itu. Sentuhan itu membuat Ron tersentak, kepalanya menoleh, bertemu dengan tatapan Cale.
Cale tersenyum. "Tak perlu khawatir, Ron. Rencana balas dendammu... serahkan saja padaku dan anak buah lainnya."
Ron ingin membantah. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Cale melanjutkan, "Untuk sekarang, lakukanlah apa yang seharusnya seorang ayah lakukan."
Ron terdiam. Kata-kata Cale benar. Balas dendam bisa menunggu, tapi putrinya-ia harus ada di sisinya sekarang.
---
Peperangan berjalan sesuai dengan yang direncanakan oleh Cale Henituse. Sebagai Supreme Commander of the Allied Armies, ia memimpin pasukan yang terdiri dari berbagai suku dari wilayah yang pernah ia kunjungi. Strateginya sempurna, hasilnya sesuai harapan.
Namun pikirannya kembali ke satu sosok.
Di dalam kamar yang sunyi, Cale berdiri di samping tempat tidur, menatap seseorang yang terbaring dengan damai. Ron pernah mengatakan bahwa putrinya sempat terbangun sebentar, menanyakan keberadaan kakaknya dan... tuan mudanya. Namun, begitu Ron menjelaskan bahwa keduanya sedang pergi, gadis itu kembali tertidur.
Cale perlahan mengulurkan tangannya, jemarinya menyentuh lembut wajah gadis itu. Perasaan gelisah menyelimuti hatinya. Ia tidak ingin membangunkannya, tetapi keinginannya untuk menyentuhnya lebih besar.
Ia menggenggam tangan (name), menyalurkan sedikit kehangatan. Sesekali, ia mengecupnya dengan lembut.
Dan saat itulah...
"Tuan muda."
Suaranya lembut, mengalun pelan di telinga Cale-suara yang begitu ia rindukan, suara yang selalu menjadi candunya.
Cale segera mengalihkan pandangannya ke arah sepasang mata indah yang kini terbuka. Ada kebingungan dalam tatapan gadis itu.
Cale tersenyum, mengangkat tangan kanannya untuk mengelus pipi halusnya. "Maaf, aku membangunkanmu."
Gadis itu menggeleng pelan, menandakan bahwa ia tidak keberatan.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau merasa sakit? Pusing?" Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibir Cale dengan nada cemas.
(Name) tertawa kecil. "Aku sudah lebih baik, berkat obat yang Ayah berikan."
Jawaban itu cukup untuk menenangkan Cale. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia bisa bernapas lega.
Cale masih menggenggam tangan gadis itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali ke tubuhnya. Ia bisa merasakan denyut nadinya yang stabil, napasnya yang teratur. Itu cukup untuk mengusir kekhawatiran yang selama ini menghantuinya.
Namun, di balik ketenangan yang terpancar di wajahnya, ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
"Jangan pernah membuatku khawatir seperti ini lagi (name)." Suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan.
Gadis itu menatapnya, membaca ketulusan dalam matanya. Ia tersenyum lembut, meski bibirnya masih sedikit pucat. "Maaf... aku tidak berniat membuatmu khawatir."
Cale menghela napas, jemarinya dengan hati-hati menyapu beberapa helai rambut yang jatuh di wajah gadis itu. "Kau selalu meminta maaf. Tapi yang kuinginkan bukan permintaan maaf, melainkan janjimu."
"Janji?"
"Ya." Cale menatapnya dalam-dalam. "Janji bahwa kau akan tetap hidup. Bahwa kau tidak akan menyerahkan nyawamu dengan mudah. Bahwa kau akan kembali... selalu."
Hening sejenak. Angin yang berhembus dari jendela mengusik tirai, menciptakan suara samar yang mengisi ruangan.
Lalu, (name) tersenyum-senyum yang meski lemah, tetap terlihat begitu indah di mata Cale. "Aku berjanji."
Cale menutup matanya sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Kemudian, dengan lembut, ia menunduk dan mengecup punggung tangannya sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa janji itu bukan hanya sekadar ucapan kosong.
Di luar, matahari mulai terbit, menyinari dunia yang baru saja keluar dari kegelapan peperangan. Namun bagi Cale, kehangatan sejati ada di hadapannya-dalam genggamannya, dalam napas tenang gadis yang akhirnya kembali padanya.
Dan kali ini, ia berjanji... tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.
-end-
KAMU SEDANG MEMBACA
A Star In Progress
Короткий рассказ- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong. - jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update. - kumpulan tokoh dari krakter favorit ku. - semua tokoh milik sang penulis asli - doa kan agar cepet dapet ide - di vote tolong...
